Oleh Imam Hanafi
Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Harga premium di kios pengecer Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada sepekan terakhir antara Rp9.000-Rp10.000 per liter, naik Rp2.000-Rp3.000 daripada sebelumnya.
Abdullah, warga Pudi, Kelumpang Utara, di Kotabaru, Jumat, mengatakan, sebagian warga mulai resah, karena harga bensin mencapai Rp10.000 per liter.
Padahal, ujar dia, sebelum kenaikan harga BBM bersubsidi, premium di tingkat pengecer Rp7.000-Rp8.000 per liter.
Warga yang mempunyai uang berkecukupan tetap saja membeli meski premium mencapai Rp10.000 per liter, tetapi bagi yang penghasilannya pas-pasan dan tidak sanggup membeli kinia naik sepeda ontel atau berjalan kaki, atau sesekali naik ojek.
Selain harga yang dinilai memberatkan warga, peredaran bensin di Pudi tidak sama dengan di kota-kota lainnya karena kapal yang biasa mengangkut BBM dengan menggunakan jerigen, tidak lagi diizinkan, karena membahayakan penumpang.
Abdullah menuturkan, apabila ada kios yang menjual bensin, hanya beberapa saat saja langsung habis diserbu warga.
Agar aktivitas masyarakat di Kecamatan kelumpang Utara tidak terganggu akibat melambungnya harga BBM dan pasokan yang tidak pasti, seyogyanya pemerintah segera mencari solusi agar masalah tersebut segera terselesaikan.
Warga masyarakat Pudi, katanya, sangat menggantungkan distribusi BBM dari Kotabaru dengan menggunakan kapal penumpang.
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013
Kotabaru, (Antaranews Kalsel) - Harga premium di kios pengecer Kabupaten Kotabaru, Kalimantan Selatan, pada sepekan terakhir antara Rp9.000-Rp10.000 per liter, naik Rp2.000-Rp3.000 daripada sebelumnya.
Abdullah, warga Pudi, Kelumpang Utara, di Kotabaru, Jumat, mengatakan, sebagian warga mulai resah, karena harga bensin mencapai Rp10.000 per liter.
Padahal, ujar dia, sebelum kenaikan harga BBM bersubsidi, premium di tingkat pengecer Rp7.000-Rp8.000 per liter.
Warga yang mempunyai uang berkecukupan tetap saja membeli meski premium mencapai Rp10.000 per liter, tetapi bagi yang penghasilannya pas-pasan dan tidak sanggup membeli kinia naik sepeda ontel atau berjalan kaki, atau sesekali naik ojek.
Selain harga yang dinilai memberatkan warga, peredaran bensin di Pudi tidak sama dengan di kota-kota lainnya karena kapal yang biasa mengangkut BBM dengan menggunakan jerigen, tidak lagi diizinkan, karena membahayakan penumpang.
Abdullah menuturkan, apabila ada kios yang menjual bensin, hanya beberapa saat saja langsung habis diserbu warga.
Agar aktivitas masyarakat di Kecamatan kelumpang Utara tidak terganggu akibat melambungnya harga BBM dan pasokan yang tidak pasti, seyogyanya pemerintah segera mencari solusi agar masalah tersebut segera terselesaikan.
Warga masyarakat Pudi, katanya, sangat menggantungkan distribusi BBM dari Kotabaru dengan menggunakan kapal penumpang.
Editor : Ulul Maskuriah
COPYRIGHT © ANTARA News Kalimantan Selatan 2013