Tarian Sumbar hipnotis pengunjung Pairi Daiza

Tarian Sumbar hipnotis pengunjung  Pairi Daiza

Ilustrasi - Penampilan grup randai Padang Panjang dengan judul Magek Manandin. (ANTARA SUMBAR/Laila Syafarud)

London (ANTARA) - Seniman tari dari Payakumbuh Sumatera Barat dan Banyuwangi berhasil menarik perhatian ribuan pengunjung taman wisata Pairi Daiza yang digelar KBRI Brussel dan menambah keceriaan liburan musim panas bagi masyarakat Belgia dan Eropa yang berkunjung ke taman wisata Pairi Daiza.

Sekretaris Pertama Fungsi Pensosbud, KBRI Brussel, Dara Yusilawati, kepada Antara London, Selasa, mengatakan Festival berlangsung selama tiga hari dan penampilan budaya dari Payakumbuh Sumatera Barat, Banyuwangi dan Bali dan menyajikan berbagai kuliner khas nusantara seperti rendang, sate padang, soto padang, sate ayam dan kopi menjadi rebutan pengunjung Taman Pairi Daiza.

Tidak hanya itu, workshop randai dan talempong, line dance, penampilan angklung dan Band Nusantara juga memeriahkan kegiatan.

Dubes RI untuk Belgia, Uni Eropa dan Luksemburg, Yuri O. Thamrin menyampaikan festival ini merupakan kegiatan tahunan untuk terus mempromosikan budaya dan produk Indonesia.

Diharapkan kegiatan ini dapat mendorong peningkatan wisatawan dari Belgia dan Eropa ke Indonesia dan meningkatkan people-to-people contact antar kedua negara.

Dubes menyampaikan apresiasinya kepada CEO Pairi Daiza, Mr. Eric Domb, yang karena kecintaannya terhadap Indonesia, membangun taman bertema Indonesia sebagai ajang yang sangat strategis untuk lebih mengenalkan Indonesia kepada masyarakat di Eropa.

Pairi Daiza yang terletak di jantung Eropa di kota Brugelette, berjarak sekitar 80 kilometer dari Brussels, Taman Safari Pairi Daiza memiliki luas sekitar 65 hektar dan dikunjungi dua juta orang setiap tahunnya. Ini merupakan satu-satunya taman di Eropa menghadirkan tema Indonesia.

Dalam taman Pairi Daiza terdapat Pura Bali berdiri megah lengkap dengan hamparan sawah berundak selayaknya di Ubud Bali. Rumah khas Sumba di Desa Timor, dilengkapi dengan sejumlah satwa khas Indonesia seperti komodo, orang utan dari Sumatera dan gajah Sumatera, menjadikan Kerajaan Ganesha sebagai ‘Indonesia’ mini di Eropa.

Selain Festival Indonesia, KBRI Brussel juga menggelar berbagai kegiatan lainnya dalam rangka 70 tahun hubungan diplomatik Indonesia dan Belgia, di antaranya Pameran foto di Parlemen Belgia, Peresmian Rumah Budaya Indonesia, Pagelaran Gamelan, Seminar, dan promosi pencak silat. Sebelumnya, dilakukan kegiatan sosial dalam bentuk kunjungan ke panti jompo dan kalangan tunawisma.

Tahun ini, Indonesia dan Belgia merayakan 70 tahun hubungan persahabatannya. Pada tahun 1949, Belgia merupakan salah satu negara Eropa pertama mengakui kemerdekaan RI (17 Agustus 1945). Pada tahun yang sama, tepatnya Bulan Desember 1949, Pemerintah Republik Indonesia membuka Perwakilannya di Brussel.

Sejak saat itu, hubungan keduanya semakin kuat dan berkembang di berbagai bidang, secara bilateral maupun multilateral, dalam menghadapi berbagai tantangan global. Tahun ini Indonesia dan Belgia menjadi Anggota Tidak Tetap Dewan Keamanan PBB.

Tahun 2017, sedikitnya 47 ribu wisatawan dari Belgia ke Indonesia, meningkat 6000 orang dibanding tahun sebelumnya. Festival ini diharapkan dapat membantu Pemerintah Indonesia untuk mencapai target wisatawan 20 juta tahun.*

Baca juga: KBRI Brussel adakan dialog sawit di parlemen Eropa

Baca juga: Indonesia inginkan investasi yang "baik" dari Uni Eropa

Pewarta : Zeynita Gibbons
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019