Konferensi Internasional AIDS Jayapura hasilkan 11 butir kesimpulan

Konferensi Internasional AIDS Jayapura hasilkan 11 butir kesimpulan

Suasana penutupan Konferensi Internasional AIDS Jayapura, Sabtu(3/8). (ANTARA News Papua/Musa Abubar)

Jayapura (ANTARA) - Konferensi internasional AIDS Jayapura atau "Jayapura International AIDS conference" menghasilkan 11 butir kesimpulan diakhir kegiatan tersebut, Sabtu sore.

Ke-11 butir kesimpulan itu dibacakan Ketua Panitia pelaksanaan konferensi Ni Nyoman Sri Antari disela-sela penyampaian sambutan diakhir konferensi yang berlangsung selama empat hari yakni sejak Rabu (30/7) di salah satu hotel di Jayapura.

"Peserta yang hadir dalam JIAC ini yakni dari tokoh adat, tokoh perempuan, pemuda bahkan seluruh lapisan masyarakat kami mencoba menyimpulkan ini semua semoga membantu kita untuk menuju Fast Track 999 dan ending AIDS 2030," katanya.

Pertama, program penanggulangan HIV/AIDS di Papua khususnya di Kota Jayapura berjalan on the track dan berbagi inovasi dilakukan untuk mencapai target Fast Track 999.

Kedua, gerakan berani tes merupakan salah satu inovasi yang perlu ditingkatkan untuk mencapai target target Fast Track 999 di 2027 dan dan ending AIDS 2030.

Ketiga, kerja sama global sangat diperlukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia baik dalam pemberian layanan bagi para ODHA yang belum diri.

Melalui Jayapura International AIDS conference (JIAC) diharapkan semua yang telah terdeteksi status HIV/AIDS tidak lagi menutup diri tetapi membuka diri untuk mendapatkan akses pengobatan sehingga bisa hidup sehat, ujarnya.

Keempat, HIV/AIDS merupakan masalah bersama sehingga perlu kerja sama lintas sektor untuk menuju tri Zero 2030. Untuk menuju tri Zero 2030 perlu kombinasi pencegahan dengan fasilitas kesehatan pada populasi umum tanpa mengabaikan populasi kunci.

Kelima, Penggunaan kondom yang benar dan konsisten, sirkumsisi khusus di Papua dengan metode prep prepeks semoga tetap berlanjut.

"Berikut, enam mengenalkan praktek-praktek baik yang telah kita capai baik seperti layanan yang kita dengar bersama sakses story yang telah dilakukan diberbagi tempat," ujarnya.
Baca juga: 2.299 warga Papua meninggal terinfeksi HIV/AIDS

Bukan hanya pada JIAC, kata dia, tetapi praktek baik ditemukan hanya beberapa yang bisa ditampilkan di konferensi ini seperti dari Kabupaten Merauke, dari Klinik Walihole.

"Tetapi kami tahu bahwa praktek baik masih banyak ditempat lain yang belum muncul ke permukaan dan kami berharap itu akan terus kita ekspos sehingga benar-benar kita sudah berusaha berjuang untuk memerangi HIV/AIDS," kata Ni Nyoman Sri Antari yang juga Kepala Dinas Kesehatan Kota Jayapura itu.

Selanjutnya, tujuh, penguatan sistem pelayanan kesehatan. Penggiat kesehatan terus berjuang untuk membenahi dalam diskusi, banyak keluhan tentang pelayanan kesehatan dari cara menerima pasien,merawat pasien yang tidak manusiawi.

"Kami akan berbenah sehingga kami benar-benar memanusiakan manusia. Jadi yang kami rawat adalah manusia. Dengan program akreditasi semua itu harus kami benahi kami berjanji memperluas akses layanan, pekerjaan rumah kami, bukan saja Kota Jayapura tetapi seluruh tanah Papua, kami harus memperbaiki, harus memperluas akses layanan HIV/AIDS sampai ke tingkat RT/RW," ujarnya.

Lanjut dia, delapan, termasuk desentraslisasi ARV menjadi prioritas meningkatkan cakupan layanan bagi ODHA terutama layanan pengobatan ARV.

"Tidak cukup untuk itu, kami harus melakukan monitoring dan evaluasi. Selama ini itu yang kurang pada kami sehingga kami harus lakukan monitor terus menerus, mengevaluasi sehingga kami bisa melaksanakan pelayanan lebih baik," ujarnya.
Baca juga: 85 warga asing di Papua positif HIV/AIDS

Sembilan, pengembangan layanan yang ramah terhadap anak dan terhadap remaja, layanan itu masih sedikit, sehingga layanan itu akan dikembangkan.

"Posyandu remaja masih sedikit, kami akan kembangkan. Layanan dan juga pengembangan layanan ramah perempuan," ujarnya.

Sepuluh, stigma diskriminasi masih merupakan tantangan besar, masih ada berita yang sangat direspon cukup ekstrim, itu artinya stigma diskriminasi masih tinggi.

"Kami bermohon media tetap bijak supaya kita tetap menurunkan stigma diskriminasi dalam penanggulangan HIV/AIDS menuju Tri Zero," ujarnya.

Kemudian, sebelas memaksimalkan strategi stop HIV semua pihak bisa melakukannya, semua pengetahuan tentang HIV bisa menyampaikannya kepada setiap orang yang dijumpai.

"Temukan, kita harus melakukan tes HIV kemudian obati dan pertahankan. Peran serta masyarakat dalam penanggulangan HIV/AIDS," katanya.
Baca juga: Jumlah kasus HIV-AIDS di Papua tembus angka 38.874
Pewarta : Musa Abubar
Editor: Muhammad Yusuf
COPYRIGHT © ANTARA 2019