Pengamat: PT harus membudayakan riset untuk meningkatkan peringkat WCU

Pengamat: PT harus membudayakan riset untuk meningkatkan peringkat WCU

Ilustrasi - Kampus. (Antara)

Jakarta (ANTARA) - Pengamat pendidikan dari Universitas Paramadina Andreas Tambah mengatakan perguruan tinggi harus membudayakan riset bagi mahasiswa dan atau staf pengajar sebagai bagian dari upaya meningkatkan peringkatnya dalam universitas kelas dunia (world class university/WCU).

"Perguruan tinggi harus membudayakan riset dan jurnal internasional bagi mahasiswa atau staf pengajar," kata Andreas kepada Antara, Jakarta, Kamis.

Saat ini, ada sekitar sembilan universitas di Indonesia yang masuk peringkat dunia, namun peringkatnya masih di bawah 295.

Dari QS World University Rankings 2019-2020, Universitas Indonesia menduduki peringkat 296 dunia, Universitas Gadjah Mada menempati peringkat 320 dunia, Institut Teknologi Bandung berada di peringkat 331 dunia.

Kemudian, Institut Pertanian Bogor menempati peringkat 601-650 dunia. Universitas Airlangga berada di peringkat 651-700 dunia. Universitas Padjajaran memperoleh peringkat 751-800 dunia.

Universitas Bina Nusantara berada di peringkat 801-1.000 dunia. Universitas Diponegoro menempati peringkat 801-1.000 dunia. Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya berada di peringkat 801-1.000 dunia.

Andreas mengatakan indikator-indikator untuk peringkat WCU adalah reputasi akademik, reputasi lulusan, rasio fakultas dan mahasiswa, kutipan jurnal riset, fakultas internasional, dan mahasiswa internasional.

Perguruan tinggi di Indonesia juga perlu meningkatkan kerja sama dengan perguruan tinggi luar negeri yang memiliki peringkat bagus, dan mempunyai prodi unggulan. Bila perlu antar universitas saling mengadakan pertukaran dosen.

Dengan kerja sama itu, diharapkan ada pembelajaran dan kolaborasi yang berkontrobusi positif bagi pengembangan perguruan tinggi di Indonesia ke arah yang lebih baik dan mendunia.

Andreas menuturkan agar perguruan tinggi tidak terikat pada spesialisasi jurusan yang mengakibatkan lulusan kurang memahami bidang lain yang terkait. Untuk itu, kurikulum perlu dibuat tematik sehingga mahasiswa punya pebih dari satu keterampilan yang disesuaikan dengan kebutuhan perkembangan zaman saat ini dan mendatang.

Perguruan tinggi juga harus memastikan "output" yang dihasilkan atau lulusannya telah memberikan kontribusi yang besar bagi masyarakat luas, misalnya sebagai penggerak ekonomi danpelaku perubahan di daerah atau desa.

Baca juga: Kemenristekdikti siapkan dana untuk perguruan tinggi kelas dunia

Baca juga: 817 riset di 113 perguruan tinggi swasta dapat dana hibah pemerintah 

 
Pewarta : Martha Herlinawati S
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2019