Gerakan Suluh kebangsaan bersilaturahmi ke Menko Polhukam

Gerakan Suluh kebangsaan bersilaturahmi ke Menko Polhukam

Gerakan Suluh Kebangsaan saat melakukan audiensi dengan Menko Polhukam Wiranto, didampingi oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa (28/5/2019). (Antara Foto/Syaiful Hakim)

Jakarta (ANTARA) - Gerakan Suluh Kebangsaan yang dikomandoi oleh Mahfud MD melakukan silaturahmi dengan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan (Kemenko Polhukam) Wiranto.

Mereka diterima langsung oleh Wiranto, didampingi oleh Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto dan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, di Ruang Bima, Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Selasa.

Dalam sambutannya, Wiranto mengaku sangat senang menerima kehadiran dari Gerakan Suluh Kebangsaan yang seluruh tokohnya dikenal baik oleh dirinya.

"Saya sampaikan rasa senang sekali kedatangan bapak-bapak. ‎Suluh Kebangsaan selalu mengibarkan semangat persatuan," ujarnya pula.

Menyikapi kondisi saat ini, Wiranto menyatakan kini kita semua ada dalam posisi kritis nasional yang menggerus kepentingan politis, ideologi terorisme yang hampir saja menggerus persatuan dan kesatuan.

"Walau belum selesai, tapi jalur konstitusi sudah mulai berproses. Setiap krisis pada akhirnya negara, TNI dan Polri mengambil peran yang sangat kuat," katanya lagi.

Wiranto menyebut Gerakan Suluh Kebangsaan sebagai api yang menyinari bangsa sebagai mercusuar pemersatu bangsa.

"Banyak sekali ancaman hambatan dan tantangan yang dihadapi. Tapi kenyataannya Indonesia tetap berdiri. Mengapa, karena adanya mercusuar persatuan kebangsaan terus akan selalu ada," ujar Wiranto.

Gerakan Suluh Kebangsaan yang melakukan audiensi itu, yakni Mahfud MD, Quraish Shihab, Alwi Shihab, Amin Abdulah, Helmi Faizal (Sekjen PB NU), Erry Ryana Harjapamekas, Alhilal Hamdi, Komaruddin Hidayat, Budi Kuncoro, Romo Benny Susetyo, Romo Frans Magniz Suseno, Imam Marsudi, Eddy Purjanto, dan Dhodi Syailendra.

Penggagas Gerakan Suluh Kebangsaan Mahfud MD mengatakan, sejak penetapan KPU beberapa hari ini, beberapa kelompok melakukan unjuk rasa baik di depan Gedung KPU RI maupun di depan Gedung Bawaslu RI dengan muatan menolak hasil yang ditetapkan.

Meskipun unjuk rasa itu berjalan dengan baik, namun pada akhirnya kericuhan pun tidak dapat dihindarkan pada 22 Mei dini hari.

Mahfud pun menilai kericuhan tersebut dilakukan oleh oknum-oknum yang melakukan provokasi ke arah anarkisme.

"Unjuk rasa telah disusupi oleh perusuh-perusuh yang mendompleng aksi demo tersebut," ujarnya lagi.
Pewarta : Syaiful Hakim
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2019