Komnas HAM temui keluarga KPPS Tangerang meninggal

Komnas HAM temui keluarga KPPS Tangerang meninggal

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Amirudin (tengah). (Antara/Adityawarman)

Tangerang (ANTARA) - Komnas Hak Asasi Manusia (HAM) menemui sejumlah keluarga Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) dan Linmas di Kabupaten Tangerang, Banten yang meninggal karena menjalankan tugas dalam pemilu 2019 untuk mengetahui penyebab kematian.

Komisioner Pemantauan dan Penyelidikan Komnas HAM, Amirudin di Tangerang, Jumat mengatakan pihaknya berkewajiban untuk mencermati penyebab kematian karena sudah menjadi perhatian banyak orang.

"Kedatangan kami adalah ingin bertanya dan meminta keterangan kepada keluarga korban, apa penyebab meninggal saat bertugas sebagai anggota atau ketua KKPS," katanya.

Amirudin bersama anggota lainnya bertemu dengan keluarga korban di kantor KPU Kabupaten Tangerang, jalan Syeh Nawawi, Kecamatan Tigaraksa.

Dia mengatakan anggota Komnas HAM lainnya juga melakukan tindakan serupa menanyakan kepada keluarga korban pada beberapa Kabupaten yang ada di Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur dan NTB.

Hal tersebut karena di daerah tersebut banyak Linmas, anggota dan ketua KPPS meninggal maka Komnas HAM perlu untuk meminta klarifikasi.

Pihaknya juga akan meminta keterangan dari aparat dinas kesehatan setempat tentang riwayat penyakit yang diderita korban.

Minimal kami dapat data dan bahan pertimbangan untuk dibahas dalam rapat nantinya.

Menurut dia, ada tujuh keluarga korban yang diundang oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Tangerang untuk diminta keterangan, tapi yang datang hanya tujuh keluarga.

Sedangkan anggota KPPS yang meninggal di Kabupaten Tangerang ada delapan orang yakni anggota perlindungan masyarakat (Linmas) Anis Gunawan (38) Asmuni (64), Sarmin (55), Kartubi (68) dan Oom Komana (52).

Namun terdapat tiga anggota KPPS yang tutup usia saat bertugas yakni Sukarni (58), Subur (63) dan Petrus Suhadi (55).

Sementara itu, Samsul anak dari Subur anggota KPPS Cisauk yang meninggal mengatakan bapaknya tidak memiliki riwayat penyakit sebelum menghembuskan nafas terakhir.

"Sebagai anggota KPPS dan juga RT setempat, bapak agak sibuk sebelum dan setelah pencoblosan Rabu (17/4)," kata anak pertama dari lima bersaudara itu.

Subur meninggal sehari setelah mencoblosan pada Kamis (18/4) malam yang sebelumnya sempat tidak sadarkan diri.

Samsul mengatakan sempat tergolek di jalan, lalu ada tetangga yang mengantarkan ke rumah, karena tidak sadarkan diri, maka keluarga membawa ke RSUD Kabupaten Tangerang untuk perawatan.

 
Pewarta : Adityawarman(TGR)
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2019