Bandara Internasional Yogyakarta diyakini lesatkan sektor pariwisata

Bandara Internasional Yogyakarta diyakini lesatkan sektor pariwisata

Pesawat Citilink dari Bandara Halim Perdana Kusuma mendarat sempurna di Bandara Internasional Yogyakarta, Kabupaten Kulon Progo, DIY, pada 12.40 WIB dengan membawa penumpang 96 orang. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Jakarta (ANTARA) - Bandara Internasional Yogyakarta yang baru saja melaksanakan penerbangan perdana maskapai Citilink ke bandara tersebut pada 6 Mei 2019 itu diyakini bakal melesatkan pertumbuhan sektor pariwisata dan ekonomi warga sekitarnya.

"Harapan ke depannya dengan Bandara Internasional Yogyakarta yang baru ini bisa memberikan dampak meningkatnya kunjungan pariwisata ke Jawa Tengah, Yogyakarta dan sekitarnya," kata Anggota Komisi VI DPR RI Sartono Hutomo dalam rilis yang diterima di Jakarta, Selasa.

Menurut Sartono, dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara bakal meningkatkan perekonomian masyarakat di sekitar daerah tersebut.

Politisi Demokrat itu menyatakan bahwa siapa pun kepala daerahnya, pembangunan kawasan Joglosemar (Jogjakarta-Solo-Semarang), harus berkelanjutan.

Hal tersebut, lanjutnya, karena antusiasme warga cukup tinggi dalam menjadikan Joglosemar sebagai kawasan unggulan baru sektor kepariwisataan nasional.

Senada, Anggota Komisi VI DPR RI Aria Bima menekankan agar Bandara Internasional Yogyakarta kelak dapat menjadi ikon pengembangan kawasan Joglosemar.

"Mari kita jaga bersama bandara ini sebagai koneksitas untuk Joglosemar. Pengembangan regional khususnya pariwisata, tidak pernah lepas dari aspek koneksitas bandara, baik untuk kebutuhan wisatawan domestik maupun mancanegara," ucap Aria Bima.

Politisi PDIP itu menyatakan, Komisi VI DPR akan terus mendukung terutama keputusan politik yang berupa penguatan anggaran terkait pembangunan dan pengembangan infrastruktur bandara.

Sebelumnya, Direktur Pemasaran dan Pelayanan PT Angkasa Pura I Devi usai penerbangan perdana Citilink ke Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo, Senin (6/5) mengatakan kebijakan menggratiskan tarif bus Damri tersebut bukan hanya untuk menarik penumpang, melainkan juga membiasakan masyarakat untuk menggunakan angkutan massal.

“Kenapa kita gratiskan selama seminggu, bukan hanya membantu pelayanan maskapai, tapi menbiasakan masyarakat menggunakan transportasi massal,” katanya.

Selain itu, lanjut dia, nanti dengan adanya akses kereta api, diharapkan masyarakat bisa mengurangi penggunaan kendaraan pribadi.

Selanjutnya, biaya garbarata juga akan digratiskan selama periode pengoperasian yang belum optimal ini. Sejumlah insentif tersebut berlaku untuk penerbangan domestik dan internasional untuk menarik minta maskapai, sehingga jumlah penumpang bisa tumbuh.

Sebagaimana diketahui, dua maskapai asing, yaitu Silk Air dari Singapura, dan AirAsia dari Malaysia, dinilai siap masuk dan mulai beroperasi di Bandara Internasional Yogyakarta, Kulon Progo (YIA).

Devi M Suradji mengatakan kedua maskapai tersebut sebelumnya telah aktif beroperasi di Bandara Adisutjipto. Namun, ujar dia, secara teknis penerbangan internasional harus menunggu setidaknya tiga bulan untuk bisa beroperasi di bandara baru tersebut.

Salah satu sebabnya, Devi menjelaskan yaitu terkait dengan slot terbang di mana harus ada sinkronisasi antara bandara asal dengan bandara tujuan.

Baca juga: AP I gratiskan biaya mendarat di Bandara Internasional Yogyakarta

Baca juga: Silk Air dan Air Asia bakal masuk Bandara Internasional Yogyakarta
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Budi Suyanto
COPYRIGHT © ANTARA 2019