Banjir masih mungkin landa hilir Jatim

Banjir masih mungkin landa hilir Jatim

Dokumentasi - Sejumlah petugas dengan perahu karet membawa sembako yang akan didistribusikan bagi korban banjir luapan Bengawan Solo di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur, Sabtu (24/2/2018). Banjir luapan Bengawan Solo sejak sehari sebelumnya, merendam 60 desa yang tersebar di 11 kecamatan, mengakibatkan ratusan warga terpaksa mengungsi. (ANTARA /Aguk Sudarmojo)

Bengawan Solo di daerah hilir, Jawa Timur, mulai Bojonegoro, Tuban, Lamongan sampai Gresik, selalu mengirim banjir, meskipun memasuki Januari sungai terpanjang di Jawa itu belum menunjukkan tanda-tanda akan meluap.

"Kondisi Bengawan Solo mulai hulu Jawa Tengah, sampai hilir Jawa Timur, saat ini masih aman. Ketinggian air masih di bawah siaga banjir," kata Pengawas Perum Jasa Tirta I Divisi Asa III/3 Bojonegoro Muhammad Yudo Nugroho di Bojonegoro, Rabu (23/1).

Meski demikian, ia mengimbau daerah hilir Jawa Timur, mulai Bojonegoro sampai Gresik, tetap waspada menghadapi ancaman banjir luapan Bengawan Solo.

"Air Bengawan Solo di Jurug, Solo, Jawa Tengah, sempat masuk siaga hijau, tapi kemudian turun di bawah siaga," ucapnya.

Hal senada disampaikan Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bojonegoro Nadif Ulfia, yang menyebutkan bahwa Bengawan Solo belum meluap di daerahnya.

Menghadapi datangnya banjir luapan Bengawan Solo, sudah mulai dilakukan BPBD setempat, tak terkecuali Bupati Bojonegoro Anna Mu`awanah juga sudah mengecek tempat pengungsian korban banjir Bengawan Solo di Gedung Ebaga Kecamatan Trucuk.

"Gedung Ebaga mampu menampung sekitar 300 kepala keluarga (KK)," katanya.

Sebagaimana dituturkan Nadif, berbagai persiapan menghadapi ancaman meluapnya Bengawan Solo di daerahnya, juga banjir bandang, tanah longsor dan bencana lainnya, terus dilakukan.

BPBD, lanjut dia, sudah mengalokasikan anggaran yang dimanfaatkan untuk kebutuhan bahan banjiran untuk pengadaan batu, zak dan bronjong mencapai Rp353 juta. Selain itu untuk pengadaan air bersih termasuk untuk kemarau Rp200 juta dan untuk pengadaan sembako dengan jumlah 900 paket mencapai Rp179,5 juta.

"Bengawan Solo belum meluap, tapi sejumlah sungai di Bojonegoro sudah meluap, menimbulkan banjir bandang, disebabkan hujan deras," kata dia.

Dari data yang diterima BPBD menyebutkan banjir bandang yang terjadi beberapa hari lalu mengakibatkan banjir lokal di sejumlah desa di Kecamatan Kanor, Sukosewu, Baureno, Kepohbaru dan Balen. Akibat jebolnya tanggul sungai di sejumlah titik, mengakibatkan puluhan hektare tanaman padi terendam air banjir.

Menghadapi hal itu, BPBD melakukan berbagai langkah antisipasi, yaitu mengirimkan ribuan sak juga terpal, di sejumlah desa di Kecamatan Kanor, Kepohbaru dan Baureno.

"Sekitar 5.000 sak yang sudah kita distribusikan untuk mengamankan tanggul sungai yang kritis, agar air tidak meluber menggenangi tanaman padi," ucapnya menambahkan.

Sebelum itu, BPBD juga sudah membentuk 11 desa tangguh bencana di sepanjang Bengawan Solo di Kecamatan Baureno, Kanor, Kapas, Kalitidu dan Malo, yang semuanya menjadi langganan banjir Bengawan Solo.

Sebagaimana juga dijelaskan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Bojonegoro Zaenal Fanani di sejumlah desa di Kecamatan Kanor dan Baureno, yang menjadi langganan banjir Bengawan Solo, terdapat tanaman padi seluas 1.345 hektare.

"Tanaman padi di dua kecamatan itu panen sejak Januari sampai Februari. Petani di lahan banjir bisa panen, sebab banjir luapan Bengawan Solo belum datang," ucapnya menambahkan.

Ia merinci luas tanaman padi di Desa Simbatan 70 hektare, Kedungarum 150 hektare, Kedungprimpen 275 hektare, Temu 200 hektare, dan Prigi 150 hektare, semuanya di Kecamatan Kanor.

Lainnya di Kecamatan Puncarum dan Kadungrejo, di Kecamatan Baureno, masing-masing 200 hektare dan 100 hektare.

"Setelah ini biasanya lahan petani dibiarkan bero, sebab akan datang masa banjir luapan Bengawan Solo. Petani kembali menanam padi setelah banjir selesai," ujarnya.

Kepala Desa Puncangarum, Kecamatan Baureno, Bojonegoro Sanawi membenarkan petani di lahan banjir luapan Bengawan Solo di desanya sekarang ini mulai panen tanaman padi.

Padahal, lanjut dia, para petani biasanya harus menghadapi masalah dengan datangnya banjir luapan Bengawan Solo, sehingga bisa gagal panen.

"Petani sekarang ini bisa panen dengan harga gabah yang cukup tinggi mencapai Rp5.200 per kilogram gabah kering panen (GKP)," ucapnya.

Harga gabah yang sekarang berlaku, lanjut dia, jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga gabah pada waktu panen musim banjir tahun lalu yang hanya mencapai Rp4.200/kilogram untuk GKP.

"Tapi, kemungkinan harga gabah akan turun, karena faktor curah hujan semakin tinggi," ujarnya

Waspada luapan

Mengenai ancaman banjir luapan Bengawan Solo di hilir, Jawa Timur, yang berpeluang terjadi itu juga diwaspadai BPBD Jawa Timur.

Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Jatim, Tiffany Bawole, bersama rombongan melakukan monitoring daerah rawan banjir luapan Bengawan Solo di Bojonegoro, Tuban dan Lamongan.

"BPBD Jawa Timur, mewaspadai Bojonegoro, Sampai Gresik, pada musim hujan tahun ini karena berkemungkinan dilanda banjir luapan Bengawan Solo," kata Nadif menirukan ucapan Tiffany Bawole, yang datang berkunjung ke Bojonegoro.

Banjir memang selalu merendam daerah hilir, Jawa Timur, terutama di Bojonegoro, Tuban dan Lamongan, meskipun sudah ada sarana pengendali banjir berupa sodetan Plangwot-Sedayu Lawas ke Laut Jawa di Lamongan, sepanjang 12,4 kilometer.

Selain itu, juga sudah adanya tanggul Bengawan Solo, baik kanan maupun kiri di Babat, Lamongan, maupun Bojonegoro, seperti tanggul kanan di Kecamatan Kanor, sepanjang 16 kilometer.

Data di BPBD Bojonegoro menyebutkan banjir luapan Bengawan Solo pada 2018 merendam 96 desa yang tersebar di 12 kecamatan dengan kerugian mencapai Rp10,5 miliar. Kerugian terbesar disebabkan rusaknya tanaman padi di sepanjang daerah bantaran.

Selain itu, di daerah setempat banjir bandang juga melanda 26 desa yang tersebar di Kecamatan Gondang, Dander, Temayang, Balen, Bubulan dan Sukosewu, dengan kerugian mencapai Rp3,2 miliar.

Banjir besar akibat meluapnya Bengawan Solo pernah melanda daerah hilir, Jawa Timur, pada Desember 2007 dan awal 2008 dengan jumlah kerugian yang jauh lebih besar. Banjir luapan Bengawan Solo di daerah hilir Jatim itu, tidak hanya melanda daerah bantaran sungai, tapi juga merendam Kota Bojonegoro.

Dengan adanya kejadian itu, mendorong Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo di Solo, Jawa Tengah, melakukan percepatan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir dan konservasi sumber daya air (SDA) di wilayah sungai Bengawan Solo.

Sesuai data yang diperoleh menyebutkan pekerjaan perbaikan sungai dalam rangka pengendalian banjir yang sudah dilaksanakan di Bengawan Solo hulu, Jawa Tengah, untuk ruas Nguter-Jurug, Solo, sepanjang 37 kilometer dan di Kali Madiun untuk ruas kali Catur, Kwadungan, sepanjang 18 kilometer.

Begitu juga di Bengawan Solo hilir Jawa Timur, untuk ruas Babat (Lamongan) Tanjung Kepala sepanjang 80 kilometer, termasuk meningkatkan kemampuan sodetan Plangwot, Sidayu Lawas menjadi 640 meter kubik/detik.

Ketua Badan Keahlian Teknik Sipil Ikatan Nasional Tenaga Ahli Konsultan Indonesia (Intakindo) Dr. Laksono Djoko Nugroho mengatakan penanganan pengendalian banjir di sepanjang DAS Bengawan Solo membutuhkan keseriusan berbagai pihak.

"Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo harus bergerak cepat menangani dengan segala potensi dan kekurangan yang ada di wilayah Bengawan Solo, sebab sudah memiliki pola wilayah sungai juga rencana pola wilayah sungai," katanya di Malang.

Sesuai dokumen dari Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo, yang sudah dipelajari ia menyebutkan penanganan pengelolaan sepanjang DAS Bengawan Solo, ada lima aspek yaitu aspek konservasi sumber daya air, aspek pendayagunaan sumber daya air, dan aspek pengendalian daya rusak air.

Selain itu, juga sistim informasi sumber daya air dan penguatan lembaga sumber daya air dengan perhitungan biaya untuk penanganan pengelolaan sepanjang DAS Bengawan Solo di Jawa Tengah dan Jawa Timur, mencapai Rp56 triliun, dengan jadwal 2011-2031.

"BPBD siap menghadapi ancaman bencana selama musim hujan mulai banjir luapan Bengawan Solo, banjir bandang dan tanah longsor termasuk angin kencang sampai Februari," kata Kepala Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BPBD Bojonegoro Eko Susanto.

Ia menambahkan kalau memang Bengawan Solo benar-benar meluap dengan posisi siaga merah maka penanganan penanggulangannya akan melibatkan berbagai instansi terkait.

"Yang jelas BPBD sudah siap kalau memang banjir luapan Bengawan Solo melanda," ucapnya menegaskan.*

Baca juga: Bengawan Solo hilir Jatim belum aman banjir, ini penjelasannya

 
Pewarta : Slamet Agus Sudarmojo
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2019