Fokus maritim dan perdamaian dalam KTT Ke-33 ASEAN

Fokus maritim dan perdamaian dalam KTT Ke-33 ASEAN

Presiden Jokowi dan kepala negara/kepala pemerintahan ASEAN, PM Kanada Justin Trudeau, Presiden Cile Sebastián Piñera dan Direktur Pelaksana IMF Christine Lagarde saat working lunch dalam rangkaian KTT Ke-33 ASEAN di Singapura, Rabu (14/11/2018). Foto Biro Pers Setpres.

Jakarta (ANTARA News) - Konferensi Tingkat Tinggi Ke-33 Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara (ASEAN) telah usai dihelat oleh Singapura sebagai penjabat Keketuaan ASEAN pada Selasa (13/11).
   
Pertemuan itu dilangsungkan serangkaian dengan KTT lain, baik bersama negara mitra ASEAN maupun dengan negara-negara kerja sama antar kawasan hingga pada Kamis (15/11).
   
Para pemimpin negara-negara di Asia Tenggara telah bertemu dan membahas sejumlah kerja sama yang dapat dilakukan di kawasan.
   
Presiden Joko Widodo bersama sembilan kepala negara maupun pemerintahan pun berdiskusi antara lain mengenai pembangunan di sektor ekonomi, sosial serta lingkungan dalam pertemuan di Pusat Konvensi Suntec itu.
   
Tidak ketinggalan, konsep yang dibahas pun berkaitan dengan kerja sama di bidang kemaritiman.
   
Terkait hal tersebut, dalam beberapa kesempatan, Presiden RI menjelaskan konsep kerja sama Indo-Pasifik.
   
Konsep tersebut bermakna besar bagi ASEAN agar tetap dapat menjaga sentralitas dan relevansi.
   
Presiden dalam KTT Ke-33 ASEAN menyampaikan konsep Indo-Pasifik perlu dibahas dengan negara-negara Asia Timur yang berbatasan langsung dengan kawasan Asia Tenggara dan Samudera Pasifik dan Samudera Hindia.
   
Hal itu dikarenakan potensi tarik menarik konstelasi kekuatan dunia dan ketidakstabilan kondisi ekonomi global.
   
Jokowi dalam pernyataannya menyampaikan ASEAN harus mampu menjadi poros dan berperan agar dapat mengubah ancaman menjadi peningkatan kerja sama.
   
"Pada KTT April lalu, saya telah menjelaskan pentingnya ASEAN mengembangkan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik yang mengedepankan prinsip-prinsip keterbukaan, inklusivitas, transparan, menghormati hukum internasional, dan menghargai sentralitas ASEAN," kata Presiden.
   
Beberapa negara ASEAN pun memberi tanggapan positif atas konsep Indo-Pasifik yang mengedepankan kerja sama dan memajukan pembangunan serta mewujudkan kesejahteraan bersama.
   
Dalam KTT ASEAN-RRT, Indonesia juga mengajak Tiongkok untuk berkolaborasi dengan negara-negara ASEAN melalui konsep Indo-Pasifik.
   
Menurut Kepala Negara, setidaknya ASEAN dan RRT dapat mempererat kerja sama dalam sektor kemaritiman.
   
"Kerja sama Indo-Pasifik yang dikembangkan ASEAN saat ini tidak akan mengisolasi negara tertentu. Selama ini ASEAN telah membuktikan mampu membangun arsitektur kawasan yang terbuka, inklusif, dan berorientasi pada kerja sama, bukan persaingan. Sudah lebih 5 dekade ASEAN telah membuktikan diri sebagai lokomotif positif perubahan di kawasan," kata Presiden 
   
Dia menambahkan RRT bersama ASEAN dapat menjadi mitra dalam mengatasi keamanan di lautan Samudera Pasifik dan India, mengatasi polusi laut hingga mengembangkan kapasitas pencarian dan penyelamatan (SAR).
   
Inisiatif ASEAN dan RRT mengenai konektivitas pun dinilai Jokowi dapat bersinergi mengingat kawasan Asia Tenggara akan mengimplementasikan ASEAN Connectivity pada 2025 yang tentunya harus dengan semangat perdamaian, stabilitas keamanan untuk mewujudkan kemakmuran bersama.
   
Dalam KTT Asia Timur, Kepala Negara juga menekankan pengembangan konsep kerja sama Indo-Pasifik yang sedang dilakukan ASEAN.
   
Pengembangan kerja sama Indo-Pasifik tidak memerlukan institusi baru, melainkan penebalan kerja sama antara negara peserta KTT Asia Timur dan meningkatkan kerja sama dengan negara mitra lain di Samudera Hindia dan Pasifik.
   
Sebanyak tiga bidang kerja sama Indo-Pasifik yang perlu menjadi fokus yakni kerja sama maritim termasuk menanggulangi kejahatan di lautan, kerja sama konektivitas untuk memacu pertumbuhan ekonomi dan kerja sama mewujudkan pembangunan berkelanjutan dalam mencapai target "Sustainable Development Goal" secara inklusif.
   
Selain membutuhkan waktu untuk membahas konsep, Presiden menegaskan pembahasan kerja sama itu juga memerlukan rasa saling percaya.
   
"Dengan trust yang diberikan kepada ASEAN sejauh ini, saya yakin kita akan dapat bekerjasama, mengembangkan konsep Indo-Pasifik yang akan menguntungkan semua pihak," kata Presiden.
   
Menurut data Kementerian Luar Negeri, kawasan Indo-Pasifik merupakan area yang memiliki pertumbuhan ekonomi paling dinamis pada saat ini.
   
Kondisi ekonomi negara-negara peserta KTT Asia Timur dilihat dari produk domestik bruto dan kemampuan membeli mencapai lebih dari 65,8 triliun dolar AS pada 2018. Pada tiga tahun ke depan, jumlah itu diperkirakan mencapai 95,6 triliun dolar AS.
   
Indonesia juga telah menyampaikan kepada negara sahabat, Thailand, sebagai penjabat Keketuaan ASEAN 2019 untuk mengawal konsep kerja sama tersebut.
   
Dalam KTT Asia Timur, Indonesia juga mengajak sejumlah negara untuk mengatasi isu bersama yakni menanggulangi sampah plastik di lautan.
   
Indonesia telah mengajukan konsep Pernyataan para Pemimpin Negara Asia Timur tentang Pemberantasan Sampah Plastik di Laut sebagai salah satu dokumen hasil dari KTT ke-13 Asia Timur.
   
Pemerintah juga akan berkoordinasi dengan badan terkait di ASEAN untuk mengimplementasikan usulan pernyataan ke dalam rencana aksi regional penanganan sampah di kawasan.
   
Indonesia sendiri berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik di lautan sebesar 70 persen pada 2025.

Palestina dan Rohingya
   
Selain mengenai kemaritiman, Indonesia juga terus menyebut tentang perlunya masyarakat internasional membantu masalah kemanusiaan yang terjadi baik di Palestina maupun Rakhine State, Myanmar.
   
Saat bertemu dengan Perdana Menteri Australia Scott Morrison, Indonesia secara tegas menyampaikan posisinya bahwa "two state solution" tetap menjadi jalan keluar utama penyelesaian konflik di Palestina.
   
"Presiden Republik Indonesia kembali menyampaikan posisi Indonesia dan mengharapkan Australia dapat membantu mewujudkan perdamaian Palestina dan Israel berdasarkan two state solution," kata Menteri Luar Negeri Retno Marsudi yang turut mendampingi Presiden Jokowi melakukan pertemuan bilateral dengan PM Morrison pada Rabu (14/11).
   
Cara itu dinilai pemerintah Indonesia menjadi jalan yang paling adil.
 
.

   
Selain kepada Australia, Presiden juga menyampaikan pandangannya untuk merealisasikan perdamaian di Palestina dalam KTT Ke-6 ASEAN-Amerika Serikat pada Kamis (15/11).
   
Masalah kemanusiaan di Palestina merupakan hal krusial bagi Indonesia yang diperjuangkan dalam misi diplomasi internasional.
   
Penyelesaian isu tersebut penting karena tidak hanya dapat menciptakan stabilitas di Timur Tengah, tetapi juga di kawasan lain.
   
Presiden Jokowi mendorong seluruh pihak untuk memberikan perhatian ekstra bagi isu perdamaian antara Palestina dan Israel dengan memperhatikan asas keadilan dan perdamaian abadi, serta berlandaskan solusi dua negara.
   
Hal yang sama juga disampaikan Presiden saat menyampaikan pernyataan dalam KTT Asia Timur.
   
Kepala Negara mengajak negara-negara Asia TImur untuk mendukung terciptanya perdamaian di Timur Tengah, khususnya Palestina.
   
"Saya sangat mengharapkan kiranya negara-negara EAS mengambil langkah konstruktif yang dapat mendukung perdamaian yang adil dan berkelanjutan berdasarkan two state solution," ujar Presiden.
   
Usai lawatan tiga hari di Singapura, Presiden kembali ke Indonesia menuju Merauke pada Kamis sore dan menghadiri KTT APEC di Papua Nugini pada Sabtu (17/11).

Baca juga: Indonesia ajak masyarakat kawasan atasi sampah plastik
Baca juga: Sejumlah isu ekonomi dibahas Presiden dan PM Jepang
Baca juga: Thailand resmi lanjutkan keketuaan ASEAN 2019
Baca juga: Kerja sama Indo Pasifik jawaban untuk ketidakpastian global


(T.B019/
Pewarta : Bayu Prasetyo
Editor: Ruslan Burhani
COPYRIGHT © ANTARA 2018