Semangat GWK jamu pertemuan IMF

Semangat GWK jamu pertemuan IMF

Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang baru saja rampung pengerjaannya diyakini akan menjadi solusi bagi stagnasi pariwisata Bali. Para delegasi pertemuan IMF dan WB rencananya akan dijamu di kawasan ini. (ANTARA/Hanni Sofia)

 Denpasar  (ANTARA News) - Pertemuan tahunan International Monetary Fund (IMF) dan World Bank (WB) yang bakal digelar di Bali Nusa Dua Convention Center (BNDCC) Bali pada 8-14 Oktober 2018 akan menjadi semakin istimewa dan bersejarah ketika dijamu di kawasan  Monumen Garuda Wisnu Kencana (GWK).

Para delegasi pertemuan IMF dan Bank Dunia itu nanti akan dijamu oleh Presiden Joko Widodo selaku tuan rumah  di kawasan Monumen GWK, Jimbaran, Kabupaten Badung, kata Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bali Causa Iman Karana di Denpasar, 29 Maret lalu.

 Salah satu anggota dalam unit khusus BI untuk panitia nasional pertemuan itu menjelaskan, GWK yang diresmikan oleh Presiden Jokowi itu merupakan salah satu tempat yang memiliki pemandangan yang bagus dan cocok dijadikan tempat menerima jamuan delegasi utama.

 Dengan ikon patung raksasa garuda dan Dewa Wisnu, kata Causa Iman Karana (CIK), kawasan itu akan menarik perhatian para delegasi yang merupakan kepala negara dan penentu kebijakan bidang keuangan dan moneter dari 189 negara di dunia.

 Setidaknya, monumen yang merupakan maha karya seniman patung nasional I Nyoman Nuarta itu akan menjadi saksi pertemuan tahunan yang dihadiri ribuan investor, ribuan pejabat keuangan, dan ribuan praktisi/akademisi serta wartawan dari berbagai penjuru dunia itu.

 Apalagi, patung GWK setinggi sekitar 121 meter dengan bentang sayap garuda sepanjang 65 meter dengan total anggaran sekitar Rp450 miliar itu telah rampung dibangun pada 4 Agustus 2018 dengan ditandai pengelasan bagian terakhir dari 754 lempeng tembaga-perunggu-nya pada hari itu. Jumlah bahan seluruhnya mencapai sekitar 25 ribu meter persegi tembaga atau hampir 3.000 ton.

 GWK yang akhirnya rampung setelah berproses selama 28 tahun lebih itu akan menjadi ikon baru yang menumbuhkan citra bahwa Bali bukan saja mengandalkan pariwisata berbasis alam dan budaya, tetapi juga pariwisata berbasiskan pada kreativitas manusianya.

 Tidak hanya itu, GWK juga bisa menjadi identitas bagi Indonesia seperti halnya karya-karya sejenis, yakni Patung Liberty (Amerika Serikat), Menara Pisa (Italia), Menara Eiffel (Paris), Opera House (Sydney, Australia), Santorini (Yunani), Piramida Cheops (Mesir), Taj Mahal (India), Tembok Besar China, dan sebagainya.

 GWK bermula dari gagasan Nyoman Nuarta bersama Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi Joob Ave di era Orde Baru dengan peletakan batu pertamanya dilaksanakan di kawasan taman kebudayaan di Bukit Ungasan, Jimbaran pada tahun 1997, meski pembangunan patung itu sendiri sudah digagas sejak tahun 1989.

 Menjelang akhir penyelesaian GWK atau kurang tiga bulan (Mei 2018), pemasangan mahkota Dewa Wisnu pada patung GWK pun dilakukan dengan upacara "ngrastiti dan pecaruan" di pelataran patung yang "dipuput" atau dipimpin oleh empat "sulinggih" atau pendeta Hindu.

 Setelah upacara ritual selesai, maka dilanjutkan dengan pemasangan mahkota Dewa Wisnu dengan menggunakan crane. Pemasangan mahkota Dewa Wisnu menjadi pemasangan modul yang ke-529 dari total modul 754 buah.

 Tidak kalah indahnya adalah saat perjalanan membawa modul terakhir dari patung pada Selasa (31/7/2018) malam hingga pemasangan pada Rabu (1/8/2018) itu, pekerja tampak mengibarkan bendera merah putih sembari bersorak meneriakkan yel-yel di atas truk pengangkut.

  "Melihat tim kami yang kompak, solid, mau kerja tahan panas, setiap hari bergelantungan di ketinggian seperti Spiderman, saya rasa jasa mereka luar biasa. Mereka itu pahlawan budaya yang bekerja tanpa pamrih hingga Patung GWK dapat terselesaikan dengan baik," ujar pemrakarsa patung GWK Nyoman Nuarta.

Secara teknis, patung GWK sudah rampung pada 1 Agustus itu, namun perlu finishing untuk melakukan pengelasan akhir hingga modul-modul yang ada benar-benar menyatu dengan sempurna pada 4 Agustus 2018, sehingga penyelesaian pada bulan Agustus itu menjadi "kado" HUT Kemerdekaan RI.

 Menurut Nyoman Nuarta, Patung GWK menggabungkan seni, teknologi dan sains yang juga didesain untuk tahan angin dan tahan terhadap gempa. Patung didesain sangat kokoh karena di Bali dan sekitarnya sering diguncang gempa.

 "Semua sudah dihitung dan diuji, sebelumnya pernah diuji di Melbourne serta Toronto dan kuat hingga 100 tahun. Memang harus terus dirawat untuk semakin memperpanjang usia patung. Kalau sudah lebih dari 100 tahun gantian generasi muda yang merawatnya. Pada 25-50 tahun mendatang, warna Patung GWK secara alami akan berubah menjadi semakin `tosca`," katanya.

 Baca juga: Presiden tiba di Bali untuk resmikan GWK

Forum Budaya Dunia

 Monumen GWK yang diresmikan Presiden Joko Widodo pada 22 September 2018 itu agaknya akan dapat menjadi ikon Indonesia yang cukup membanggakan, karena monumen GWK dalam kondisi belum rampung saja sudah dikunjungi tidak kurang dari dua juta wisatawan setiap tahun atau sekitar  3.000 orang lebih per hari.

 Data dari PT Garuda Adhimatra Indonesia sebagai pengelola GWK, tercatat dari total pengunjung GWK 10,7 persen merupakan wisatawan mancanegara. Artinya diperkirakan setelah GWK ini rampung, maka akan mampu menarik minimal 200.000 wisatawan mancanegara setiap tahun, khusus untuk ke GWK.

 Di balik terselesaikannnya ikon yang membanggakan bangsa Indonesia itu, Manajer Proyek PT Tatamulia I Gede Dewa Ananta Wijaya mengaku tim PT Tatamulia yang menggarap megaproyek itu merasa mendapatkan momentum baru dalam menyelesaikan Patung GWK setelah mendapat spirit dan suntikan dari motivator kebudayaan asal Surabaya, Johan Yan.

 Sejak diberi spirit motivator Johan Yan, pihaknya merasa mendapatkan momentum baru untuk membangun patung dengan sebaik-baiknya hingga mengalami progress yang cukup signifikan untuk patung tertinggi ke-3 di dunia yang besarnya sembilan kali Patung Liberty di AS itu.

 Hal itu juga diakui oleh Direktur Operasional PT Tatamulia Nusantara Indah, Mustapha Kemal. Ia mengatakan Patung GWK yang akan menjadi ikon baru bagi Indonesia itu banyak mengalami perubahan dalam pembangunannya setelah motivator Johan Yan sebagai trainer membawa pengaruh dalam mencapai sukses dengan kecepatan dan pengerjaan berjamaah.

 "Dampaknya juga terasa dan sangat luar biasa, karena proyek yang ditargetkan selesai pada November 2018 akhirnya bisa lebih maju dalam penyelesaiannya pada akhir Juli 2018, sehingga ikon baru itu akan dapat dipamerkan kepada peserta Pertemuan IMF dan Bank Dunia di Nusa Dua, Bali, 8-14 Oktober 2018," katanya.

 Ketika dikonfirmasi secara terpisah, motivator kebudayaan Johan Yan menilai Patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang dapat diselesaikan oleh PT Tatamulia Nusantara Indah dengan waktu lebih cepat tiga bulan dari target itu merupakan bukti supremasi anak bangsa Indonesia dalam bidang budaya dan seni rupa.

"Wisnu adalah inspirasi pemeliharaan alam dan harmoni, sedangkan Garuda adalah simbol pengorbanan dan kejayaan," kata direktur utama perusahaan motivasi PT Total Quality yang mengaku terlibat sejak Hari Pahlawan 2014 ketika megaproyek itu masih tergarap 21,45 persen, sehingga perusahaannya merasa perlu untuk memberi motivasi kepada karyawan.

 Ternyata, motivasi untuk para karyawan PT Tata itu mampu memompa semangat kerja mereka hingga melesat dan tanggal 31 Juli sudah tergarap 95 persen dengan semua tower crane sudah harus dilepas pada 2 Agustus. Artinya, pekerjaan lebih cepat dari target pada Novemver 2018.

 Motivator yang mendapat penghargaan sebagai motivator GWK dari PT Tatamulia pada 6 Juli 2018 itu mengaku bangga dapat memberikan sumbangsih bagi peningkatan produktivitas pembangunan GWK itu.

 "Itu sebuah mega projek yang membanggakan Indonesia. Makna dan simbol GWK sangat relevan dengan kebutuhan dan kondisi bangsa saat ini," kata pemilik Museum Cagar Budaya `Mahanandi` Surabaya itu.

 Relevansi GWK sebagai  ikon  bangsa Indonesia yang religius juga diakui mantan Gubernur Bali Made Mangku Pastika. Dari sisi spiritual, Garuda dan Wisnu memberikan perlindungan sebagai manifestasi Sang Hyang Widhi, ujar Pastika ketika menghadiri pagelaran seni "Swadharma Ning Pertiwi" di GWK, Kabupaten Badung.

 Selain perlindungan, juga memberikan kehidupan bagi masyarakat, khususnya bagi seniman, karena kawasan tersebut menjadi tempat pagelaran kesenian. "Ini akan dikembangkan. Kita kukuhkan posisi sebagai satu masyarakat Indonesia, sebagai orang Bali yang kaya seni dan punya budaya adiluhung dan ini akan memberi kehidupan, termasuk sektor pariwisata negeri ini," ucap Pastika.

Apalagi, kata Pastika, dari ketinggian di dalam monumen patung itu, pengunjung dapat melihat sebagian wilayah Bali, termasuk daerah tetangga seperti Lombok di NTB dengan pemandangan Gunung Rinjani.

 Oleh karena itu, Pastika mengharapkan patung Garuda Wisnu Kencana (GWK) yang pembangunannya sudah rampung pada "bulan kemerdekaan" Indonesia (Agustus 2018) itu menjadi markas forum budaya dunia, karena memiliki nilai spiritual serta seni dan budaya.

 I Nyoman Nuarta, Johan Yan, Mangku Pastika, Causa Iman Karana, dan siapapun yang terlibat "menegakkan" GWK agaknya akan membenarkan Wisnu adalah inspirasi pemeliharaan alam dan harmoni, lalu Garuda adalah simbol pengorbanan dan kejayaan, sehingga GWK akan menjadi naungan atau perlindungan bagi republik dan juga dunia ini dari gelombang globalisasi, digitalisasi, dan ideologi-isasi yang kadang sangat modern tapi kadang juga sangat purbakala.

 "Kalau (Forum Budaya Dunia) bisa terwujud dan saya yakin bisa terwujud, saya kira dunia tidak perlu kemana-mana. Davos bisa menjadi forum ekonomi dunia, kenapa kita (Republik Indonesia) tidak bisa jadi forum budaya dunia," katanya.

Baca juga: Pemerintah tawarkan investasi 42,2 miliar dolar pada Pertemuan IMF-Bank Dunia
Baca juga: Kemenkeu sebut ada 2.000 pertemuan bahas isu global dalam IMF-WB
Pewarta : Edy M Yakub
Editor: Dewanti Lestari
COPYRIGHT © ANTARA 2018