Para pegiat bahas siasat lindungi anak dari jebakan tembakau

Para pegiat bahas siasat lindungi anak dari jebakan tembakau

Arsip Foto. Pelajar mengenakan topeng domba saat menggelar aksi #TolakJadiTarget iklan rokok di kawasan Silang Monas, Jakarta, Sabtu (25/2/2017). (ANTARA/Puspa Perwitasari)

Nusa Dua, Bali (ANTARA News) - Pertemuan para pegiat pengendalian dampak produk tembakau bagi kesehatan dari 29 negara Asia Pasifik di Bali antara lain membahas siasat untuk melindungi anak-anak dari jebakan penghasil produk tembakau.

Saat menyampaikan pidato kunci dalam Konferensi Asia Pasifik untuk Tembakau dan Kesehatan (APACT) ke-12 di Nusa Dua, Kamis, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise mengatakan Indonesia punya banyak pekerjaan dan menghadapi banyak tantangan dalam upaya melindungi anak-anak dari dampak buruk penggunaan produk tembakau.

"Sangat mengecewakan karena banyak anak Indonesia merokok. Kita harus berbuat sesuatu," kata Yohana.

Ia mengatakan bahwa dokumen internal industri rokok menunjukkan bagaimana mereka menyasar anak-anak menjadi perokok pemula. Anak-anak yang merokok adalah investasi bagi industri tembakau.

"Yang menyedihkan, perokok pemula di Indonesia semakin muda dan jumlahnya semakin meningkat. Apalagi, Indonesia merupakan negara ketiga terbesar dalam konsumsi rokok di dunia," katanya.

Ketua Konferensi Asia Pasifik untuk Tembakau dan Kesehatan ke-12 Arifin Panigoro mengatakan jebakan produk tembakau harus diwaspadai oleh seluruh bangsa di dunia.
 
"Tembakau menjadi ancaman bagi anak-anak, remaja dan bangsa kita," katanya, menambahkan sebagian negara di dunia telah membuat aturan untuk mengendalikan dampak penggunaan tembakau bagi kesehatan.

Para pegiat peserta APACT ke-12 ingin berbuat lebih banyak untuk melindungi anak-anak dan remaja dari dampak buruk penggunaan produk tembakau bagi kesehatan.

"Orang-orang dari 29 negara hadir, bukan untuk sekadar berbicara, melainkan bertindak," kata Arifin.
 
Masyarakat sipil dan pemerintahan negara-negara di dunia, menurut dia, harus bertindak untuk mengendalikan dampak buruk penggunaan tembakau, antara lain dengan mendorong larangan iklan, promosi dan sponsor rokok dan pengenaan pajak tinggi terhadap produk tembakau.
    
"Di Indonesia, harga rokok seperempat dari harga di Malaysia," kata Arifin.
 
APACT pertama kali diadakan di Taipei, Taiwan, tahun 1989 dan terakhir diselenggarakan di Beijing, China, pada 2016. Komite Nasional Pengendalian Tembakau bersama sejumlah organisasi pendukung pengendalian dampak penggunaan produk tembakau menjadi tuan rumah APACT tahun 2018 di Bali, Indonesia.

Baca juga:
WHO sebut pajak tembakau sebagai solusi "win-win-win"
KSP: target penurunan prevalensi merokok kemungkinan tidak tercapai

 
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Maryati
COPYRIGHT © ANTARA 2018