Anak diimunisasi seharusnya tidak tertular difteri

Anak diimunisasi seharusnya tidak tertular difteri

Siswa SMA Negeri 33 diperiksa kesehatan sebelum diimunisasi serentak atau Outbreak Response Immunization (ORI) difteri, di Cengkareng, Jakarta, Senin (11/12/2017). Dinas Kesehatan DKI Jakarta melaksanakan penyuntikan ORI Difteri mulai 11 Desember 2017 di wilayah Jakarta Barat dan Jakarta Utara ke sejumlah sekolah, TK, PAUD dan perguruan tinggi pada anak usia 1-<19 tahun tanpa memandang status imunisasi sebelumnya, untuk penanganan kejadian luar biasa Difteri di Jakarta. (ANTARA FOTO/Widodo S Jusuf)

Jakarta (ANTARA News) - Ketua Umum Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), dr Aman B Pulungan, mengatakan, anak yang sudah mendapatkan imunisasi difteri secara lengkap seharusnya tidak tertular penyakit tersebut.

"Tetap jaminan itu dari Allah. Masalahnya imunisasinya cukup dan lengkap atau tidak," kata Pulungan, dihubungi di Jakarta, Selasa.

Dia mengatakan, satu-satunya cara untuk mencegah penularan difteri adalah melalui imunisasi. Difteri sangat mudah menular melalui udara, yaitu lewat nafas atau batuk penderita.

Karena itu, penderita difteri yang dirawat di rumah sakit biasanya diisolasi dan tidak boleh dikunjungi untuk mencegah penularan.

Difteri adalah penyakit yang disebabkan bakteri Corynebacterium diphteriae dan dapat menyebabkan kematian terutama pada anak-anak.

Difteri memiliki masa inkubasi dua hari hingga lima hari dan akan menular selama dua minggu hingga empat minggu. Penyakit itu sangat menular dan dapat menyebabkan kematian jika tidak ditangani secara cepat.

Gejala awal difteri bisa tidak spesifik seperti demam tidak tinggi, nafsu makan menurun, lesu, nyeri menelan dan nyeri tenggorokan, sekret hidung kuning kehijauan dan bisa disertai darah.

Namun, difteri memiliki tanda khas berupa selaput putih keabu-abuan di tenggorokan atau hidung yang dilanjutkan dengan pembengkakan leher atau disebut dengan bull neck.
Pewarta : Dewanto Samodro
Editor: Ade P Marboen
COPYRIGHT © ANTARA 2017