Hong Kong (ANTARA News) - Pemimpin Hong Kong Leung Chun-ying berjanji tetap menduduki jabatannya pada Minggu dan mengingatkan para mahasiswa yang menuntut pengunduran dirinya bahwa gerakan pro-demokrasi mereka telah berada di luar kendali.

Leung mengatakan pemblokiran bagian-bagian kunci dari penghubung finansial Asia, yang sekarang memasuki pekan ketiga, tidak dapat dilanjutkan.

Dalam wawancara dengan stasiun televisi lokal TVB, Leung mengatakan bahwa pemerintahannya akan terus berusaha berbicara dengan para pemimpin mahasiswa tapi tidak mengesampingkan penggunaan "kekuatan minimum" untuk membersihkan area.

Ia mengatakan, beberapa pekan terakhir ini membuktikan bahwa gerakan massa adalah sesuatu yang mudah dimulai tapi sulit diakhiri.

"Dan tidak ada yang bisa mengarahkan tujuan dan laju gerakan ini. Sekarang gerakan telah kehilangan kontrol," katanya seperti dilansir kantor berita Reuters.

Leung juga mengingatkan bahwa sama sekali tidak ada peluang pemimpin Tiongkok di Beijing akan mengubah keputusan Agustus untuk membatasi demokrasi di Hong Kong.

Bekas koloni Inggris itu mendapat janji bahwa kebebasannya akan dilindungi di bawah formula "satu negara/dua sistem" ketika Inggris menyerahkan kembali koloninya ke Tiongkok 17 tahun lalu.

Beijing telah menyatakan bahwa hanya kandidat yang masuk saringan komite nominasi yang bisa mengikuti pemungutan suara di seluruh kota untuk memilik pemimpin eksekutif selanjutnya pada 2017.

Harian resmi People's Daily di Beijing menggambarkan gerakan yang disebut Occupy Central itu sebagai "kerusuhan" dalam editorial yang terbit pada Sabtu--bahasa yang menurut sejumlah analis mencerminkan kekhawatiran para pemimpin Tiongkok.

Komentar Leung muncul ketika pusat protes di luar kantor pusat pemerintah di Admiralty terasa seperti tempat kemah di ngarai pencakar langir.

"Di sini, ini seperti sepotong daratan hijau," kata Maggie Cheung (27), seorang guru taman kanak-kanak.

"Orang-orang saling peduli dan berbagi untuk tujuan yang sama--kami berjuang untuk masa depan yang lebih baik. Seperti utopia di sini," kata Cheung, yang akan kembali bekerja besok.

Sekitar 200 tenda sekarang berdiri berjajar di sepanjang jalan Gloucester dam Harcourt, yang merupakan jalanan tersibuk menuju distrik keuangan Central.

Ratusan pemrotes, tua dan muda, semalam tidur dalam suasana yang disebut para demonstran sebagai malam yang paling damai dan menenangkan.

Sebagian memainkan gitar di antara pidato, yang lain bermain kartu atau membaca. Sebagian belajar di ruang kelas darurat, lengkap dengan meja-meja dan soket listrik yang dipasang di jalan raya.

Dinding-dinding berhias ribuan tulisan, tanda, dan spanduk, sebagian menggambarkan Leung sebagai pemimpin mafia, yang lain mengingatkan "Taiwan waspada" menerima formula satu negara/dua sistem dalam kesepakatan reunifikasi apapun dengan Beijing.

Pekerja restoran Chan Chi-yuen (21) mengatakan dia bertekad tetap tinggal dan mendukung para mahasiswa yang membawa kesadaran tentang masalah itu.

"Mereka melihat sesuatu yang luput kita perhatikan dan saya mendukung tujuan mereka," katanya.


Tekanan

Protes meningkat akhir bulan lalu setelah polisi menggunakan gas air mata dan tongkat pada demonstran dan jalan-jalan kunci di Central, Admiralty, Causeway Bay dan Kowloon masih diblokir.

Jumlah pemrotes yang menurun signifikan pekan lalu meningkat lagi pada Jumat, ketika 10.000 orang kembali setelah mendengar dorongan dari pemimpin protes ke publik untuk melanjutkan perjuangan.

Terlepas dari atmosfer festival di Admiralty, situasi masih tegang di jalan-jalan berpasir distrik Mong Kok, dengan adanya laporan perkelahian antara demonstran dan polisi semalam.

Leung mengatakan pada Minggu bahwa pemerintah memperhitungkan permintaan para mahasiswa tapi mengatakan tuntutan dan aksi mereka harus sesuai hukum.

"Kami punya keingunan untuk terus meyakinkan dan berkomunikasi dengan para mahasiswa dan kami akan berusaha tidak menggunakan kekuatan untuk membersihkan area," katanya kepada TVB.

"Jika kami perlu membersihkan area, Saya percaya polisi akan menggunakan latihan profesional mereka...menggunakan kekuatan minimal. Kita tidak ingin melihat rakyat dan siswa kita terluka."

Leung juga berada di bawah tekanan parlemen yang menyeru penyelidikan anti-korupsi terkait pembayaran usaha senilai 6,4 juta dolar AS.

Editor: Maryati
Copyright © ANTARA 2014