Bandung (ANTARA) -
Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat,  mengalami krisis air tanah akibat pemanfaatan yang berlebihan untuk berbagai keperluan bahkan Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi Rita Susilawati menyebutkan muka air tanah artesis di daerah itu telah turun lebih dari 40 meter di bawah muka tanah.

Atas dasar itu Pemerintah Kota Bandung  meminta masyarakat menabung air hujan untuk disimpan guna mengatasi persoalan penurunan muka air tanah di wilayah Bandung Raya yang kini tergolong kritis.
 
Wali Kota Bandung Yana Mulyana di Bandung, Jumat, menilai penurunan muka air tanah itu bisa membahayakan. Karena, kata dia, fenomena penurunan muka air tanah itu bisa mengakibatkan permukaan tanah menjadi turun.
 
"Jadi kalau air hujan yang datang menetes ke rumah kita itu semua masuk ke lahan kita, ditabung, kita bisa jaga sama-sama air tanah," kata Yana di Bandung, Jawa Barat, Jumat. 
 
Dia mengatakan upaya menjaga lingkungan termasuk air tanah itu merupakan kewajiban bersama, bukan hanya pemerintah. Yana pun mengaku pihaknya berupaya membatasi penggunaan air tanah.
 
Menurutnya pihaknya juga sudah melakukan beragam cara untuk bisa mengatasi permasalahan air tanah yang turun semakin dalam di Kota Bandung. Di antaranya, kata dia, menabung air lewat kolam retensi, biopori, hingga drumpori. 
 
"Jadi itu tugas kita semua lah, bukan tugas pemerintah saja," katanya.
 
Sebelumnya, Kepala Pusat Air Tanah dan Geologi Tata Lingkungan (PATGTL) Badan Geologi Rita Susilawati mengatakan kondisi air tanah di Bandung untuk beberapa lokasi telah mengalami kondisi kritis hingga rusak yang ditunjukkan oleh penurunan muka air tanah yang terus berlanjut.
 
"Berdasarkan sumur pantau air tanah, muka air tanah artesis di Bandung telah turun lebih dari 40 meter di bawah muka tanah," kata Rita.
 
Berdasar analisisnya Badan Geologi, wilayah yang muka air tanahnya masuk kategori rusak berada di Rancaekek, Leuwigajah, serta beberapa wilayah lain. Penurunan muka air itu disebabkan oleh pengambilan air tanah untuk berbagai keperluan, terutama industri, hotel, dan faktor lainnya.

Pewarta: Bagus Ahmad Rizaldi
Editor: Maswandi
Copyright © ANTARA 2023