Anggota DPR: "Trauma healing" penting bagi anak korban erupsi Semeru

Anggota DPR:

Seorang ibu menggendong anaknya menuju ke lokasi pengungsian saat awan panas kembali meluncur dari kawah Gunung Semeru di Desa Supiturang, Pronojiwo, Lumajang, Jawa Timur, Senin (6/12/2021). ANTARA FOTO/Ari Bowo Sucipto/wsj.

Jakarta (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI Debby Kurniawan menegaskan pentingnya respon cepat dari tim penanggulangan bencana di Indonesia terhadap kebutuhan rehabilitasi dan pemulihan trauma (trauma healing) terhadap anak-anak yang menjadi korban erupsi Gunung Semeru (3676 mdpl).

Menurut Debby Kurniawan, berdasarkan keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, selain korban berusia lanjut usia (lansia), anak-anak yang terdampak awan panas guguran Gunung Semeru pun harus mendapatkan perhatian serius.

"Bukan sekadar pemenuhan kebutuhan dasar bagi anak-anak saja, melainkan juga rehabilitasi dan trauma healing harus cepat diberikan di masa tanggap darurat," tegas dia.

Apabila rehabilitasi dan pemulihan trauma tidak dilakukan secara serius, lanjut Debby, hal itu akan berdampak di kemudian hari. Kerentanan anak terdampak bencana bisa saja melekat hingga mereka dewasa.

"Anak-anak ini penerus bangsa, jangan sampai kerentanan anak terdampak bencana melekat hingga dewasa nanti," ujar dia.

Baca juga: BAZNAS taksir kerugian akibat letusan Semeru capai Rp310 miliar

Baca juga: Badan Geologi sampaikan peta kawasan rawan bencana Gunung Semeru

Terutama bagi anak-anak yang terpisah ataupun kehilangan orang tua akibat menjadi korban awan panas guguran Gunung Semeru, menurut Debby Kurniawan, rehabilitasi dan pemulihan trauma terhadap mereka semakin mendesak untuk dilakukan.

"Secara psikologis, anak-anak ini akan banyak murung, tertekan secara emosional, hingga memiliki emosi yang tak stabil. Dengan pendampingan yang baik dari tim trauma healing, akan mencegah trauma mendalam pada anak," tambahnya.

Di samping itu, Debby juga berharap kebutuhan pendidikan anak-anak di masa tanggap darurat bencana alam itu tidak diabaikan.

Sejauh ini di Indonesia, ia menilai kebutuhan pendidikan bagi anak-anak yang menjadi korban bencana alam, khususnya saat masa tanggap darurat, sering kali terabaikan. Fasilitas di pos pengungsian yang minim menyebabkan anak-anak melupakan proses belajar. Kondisi tersebut diperparah dengan hilangnya buku pelajaran mereka pada saat evakuasi.

"Tim penanganan bencana juga harus merespon cepat gangguan proses belajar dengan menyediakan buku-buku bacaan bagi anak-anak di pos pengungsian sehingga proses belajar tidak putus," ujar Debby.

Ia juga menyarankan proses belajar itu untuk dikemas bersama kegiatan rehabilitasi yang menghadirkan para pemerhati dan psikolog anak.

Dengan demikian, kata Debby Kurniawan, kedua proses itu akan lebih terasa menyenangkan bagi mereka.

Pewarta : Tri Meilani Ameliya
Editor: Chandra Hamdani Noor
COPYRIGHT © ANTARA 2021