Industri hulu migas topang ketersediaan energi yang terjangkau

Industri hulu migas topang ketersediaan energi yang terjangkau

Ilustrasi - Pekerja beraktivitas di area pengeboran minyak dan gas bumi. ANTARA/HO-SKK Migas

Badung, Bali (ANTARA) - Industri hulu minyak dan gas bumi (migas) akan terus menopang ketersediaan suplai energi yang terjangkau oleh masyarakat dan menciptakan pertumbuhan ekonomi di Indonesia.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan Indonesia tetap membutuhkan komoditas migas sebagai sumber energi dan bahan baku utama, bahkan gas yang memiliki emisi rendah dapat menggantikan batu bara.

"Persiapan matang perlu dilakukan agar Indonesia bisa terus mendukung pertumbuhan ekonomi dengan energinya betul tersedia dan energinya bisa terjangkau," ujarnya dalam konvensi migas di Badung, Bali, Selasa.

Airlangga menjelaskan industri migas punya peran penting untuk meningkatkan dan juga menciptakan efek berganda bagi industri hilir, seperti pupuk dan petrokimia.

Tahun lalu, pemerintah melalui Kementerian ESDM memberikan dukungan untuk mengintervensi harga gas pada industri tertentu agar kompetitif, sehingga banyak sektor hilir kini mampu bersaing dan mengekspor produk mereka.

Dia mengungkapkan bahwa kebijakan tersebut perlu diapresiasi dan diharapkan agar hilir kegiatan hulu migas dapat berkembang, sehingga tidak hanya berkontribusi kepada pendapatan negara tetapi juga memberikan efek penciptaan lapangan pekerjaan dan mendorong ekonomi makro.

"Atas alasan ini peningkatan produksi yang diusahakan sebesar 1 juta barel minyak per hari dan juga 12 miliar standar kaki kubik gas tahun 2030 menjadi tantangan yang perlu dibuatkan roadmap agar bisa tercapai," ujar Airlangga.

Sementara itu, Wakil Ketua Komisi VII DPR RI Maman Abdurahman mengatakan legislator mendukung kegiatan eksplorasi dan eksploitasi migas melalui Rancangan Undang-Undang Minyak dan Gas yang ditargetkan bisa terealisasi menjadi undang-undang paling lambat pada akhir 2022.

Dia menjelaskan RUU Migas harus segera terealisasi karena ini menjadi sebuah tantangan besar dan harapan Indonesia untuk menjawab problem defisit anggaran negara.

Menurutnya, produksi migas yang terus turun dari tahun ke tahun berbanding terbalik dengan angka konsumsi yang terus meningkat di Indonesia.

Dia berharap pengesahan RUU Migas pada 2022 mendatang bisa mendorong meningkatkan pendapatan negara dan memenuhi kebutuhan energi di dalam negeri di tengah tren global terhadap energi bersih.

Baca juga: SKK Migas susun peta jalan inisiatif rendah karbon
Baca juga: Pemerintah beri dukungan fiskal guna menarik investasi industri migas
Baca juga: Pemerintah Indonesia tegaskan tak akan meninggalkan industri migas
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Kelik Dewanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021