Dinkes Sumsel minta otoritas pelabuhan perketat skrining cegah Omicron

Dinkes Sumsel minta otoritas pelabuhan perketat skrining cegah Omicron

Tenaga Kesehatan Kota Palembang melakukan pengambilan tes usap terhadap calon penumpang di terminal Alang-alang lebar Palembang, Sumatera Selatan. ANTARA/M Riezko Bima Elko P.

Sumatera Selatan (ANTARA) - Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan meminta otoritas pelabuhan memperketat proses skrining COVID-19 terhadap pendatang dari luar negeri untuk mencegah masuknya COVID-19 varian Omicron masuk ke Sumsel.

Kepala Seksi Surveilans dan Imuniasasi Dinkes Sumsel Yusri di Palembang, Senin mengatakan, petugas perhubungan laut harus memeriksa dengan cermat berkas hasil tes usap setiap pendatang mancanegara khususnya mereka dari Afrika.

“Termasuk bandara atau terminal cegah tangkal di pintu masuk terutama bagi yang datang dari negara terjangkit yaitu Afrika. Periksa secara seksama hasil tes usap mereka, bila meragukan cek ulang dan laksanakan karantina,” ujarnya.

Menurut dia, Afrika merupakan tempat pertama yang mengumumkan adanya pasien terpapar COVID-19 varian Omicron tersebut.

“Kendati demikian warga masyarakat tidak perlu panik. Kuncinya waspada dengan tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan bila yang belum di vaksin segeralah mendaftarkan diri ke setiap pelayanan kesehatan,” ujarnya.

Baca juga: Antisipasi lonjakan COVID-19, Sumsel tingkatkan kesiapan rumah sakit

Baca juga: Pemprov Sumsel siapkan aturan cegah lonjakan kasus COVID-19 akhir 2021

Sementara itu Ahli Epidemiologi Universitas Sriwijaya Iche Andriani Libery mengatakan, COVID-19 varian Omicron atau varian B.1.1.529 pertama kali dilaporkan ke WHO dari Afrika Selatan pada 24 November 2021.

Situasi epidemiologis di Afrika Selatan menunjukkan bahwa dalam beberapa minggu terakhir, infeksi telah meningkat tajam, bertepatan dengan deteksi varian B.1.1.529 yang terkonfirmasi pertama yang diketahui berasal dari spesimen yang dikumpulkan pada 9 November 2021.

Kemudian WHO pada hari Jumat lalu telah mengklasifikasikan varian B.1.1.529, atau Omicron, sebagai "variant of concern" SARS-CoV-2 dengan mengatakan bahwa varian ini berpotensi dapat menyebar lebih cepat daripada bentuk virus corona lainnya.

“Namun studi masih terus dilakukan mengenai varian Omicron ini,” ujarnya.

Menurutnya, mengeliminasi adanya penularan varian baru tersebut pemerintah diharapkan tetap mengoptimalisasikan upaya tracing dan testing lalu penguatan karantina bagi yang terpapar COVID-19.

Misalnya setiap ditemukannya kasus konfirmasi baru penelusuran semua kontak lalu pengetesan semaksimal mungkin dilakukan sesuai jumlah minimal WHO. Lalu mempersiapkan skenario peningkatan kapasitas layanan kesehatan jika terjadi lonjakan kasus yang tentu tidak dinginkan.

“Pemeriksaan WGS (Whole Genome Sequencing) juga harus diprioritaskan agar semakin intensif, agresif dan masif untuk mendeteksi risiko masuknya varian COVID-19,” ujarnya.

Kemudian, lanjutnya, cakupan vaksinasi COVID-19 harus diperluas agar semakin merata diseluruh wilayah terutama juga untuk lansia yang masih rendah.

Pada tingkat Individu kewaspadaan dan kedisiplinan protokol kesehatan jangan ditingalkan seperti memakai masker dua lapis dan rutin mengganti saat diperlukan, menjaga jarak, mencuci tangan dengan sabun pada air mengalir/ handsanitizer, meningkatkan ventilasi dalam ruangan, dan mengurangi mobilitas tentu sangat diperlukan.

“Upaya mengoptimalkan skrining khususnya di semua pintu masuk, hendaknya didukung oleh semua pihak dan dijalankan dengan baik oleh kita semua sebagai bentuk kontribusi dalam pengendalian pandemi,” ujarnya.

Baca juga: Kasus COVID-19 di Sumsel membaik, dua daerah zona hijau

Baca juga: Pemprov Sumsel targetkan vaksinasi capai 70 persen akhir 2021

Pewarta : Muhammad Riezko Bima Elko
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021