Akademisi: Waspadai potensi banjir akibat kenaikan intensitas hujan

Akademisi: Waspadai potensi banjir akibat kenaikan intensitas hujan

Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr. Indra Permanajati. ANTARA/Wuryanti Puspitasari.

Purwokerto (ANTARA) - Akademisi dari Universitas Jenderal Soedirman (Unsoed) Purwokerto Dr. Indra Permanajati mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai potensi bencana banjir akibat kenaikan intensitas hujan.

"Peristiwa banjir biasanya disebabkan karena adanya kenaikan intensitas air hujan," katanya di Purwokerto, Banyumas, Senin.

Dia menambahkan, intensitas air akan melimpah ketika air yang masuk ke dalam tanah mengalami kejenuhan karena penambahan air.

"Hal ini mengakibatkan air yang tidak bisa masuk ke bawah permukaan tanah akan mengalir di permukaan sebagai aliran permukaan atau run off' " katanya.

Intensitas run off yang meningkat akan menjadi akumulasi air yang besar yang terkumpul pada sistem Daerah Aliran Sungai (DAS).

"Ada sejumlah faktor yang menyebabkan banjir makin membesar dan tidak terkendali, pertama adalah faktor alami karena sedang mengalami musim hujan dan masuk pada fase La Nina yang diprediksi masih terus meningkat hingga Desember," katanya.

Baca juga: Waspadai potensi peningkatan curah hujan akibat La Nina

Baca juga: BMKG Juanda waspadai bencana hidrometeorologi di sejumlah daerah


Faktor kedua, kata dia, adanya perubahan tata guna lahan atau penebangan hutan di daerah tangkapan air yang menuju DAS.

Faktor ketiga, menurutnya adalah karena sistem alamiah dari batuan yang memungkinkan air tidak bisa masuk ke dalam tanah karena batuan yang kedap air.

"Ini contohnya adalah sungai di sekitar daerah Sirau, Kabupaten Purbalingga, dari pemetaan yang sudah dilakukan daerah tersebut terdiri dari batuan breksi dan lava yang bersifat resisten sehingga saat musim hujan, debit air permukaan akan meningkat karena infiltrasi ke bawah permukaan pada batuan breksi minimal," katanya.

Faktor keempat, kata dia, bisa disebabkan karena topografi yang sangat curam, misalkan pada area perbukitan.

"Pada area perbukitan, air akan berjalan cepat ke bawah lereng karena gravitasi, sehingga memungkinkan air cepat terkumpul dan menjadi banjir," katanya.

Terkait hal tersebut, dia mengingatkan pentingnya menyusun langkah-langkah mitigasi bencana banjir.

"Dengan upaya mitigasi diharapkan risiko dampak dari bencana bisa ditekan seminimal mungkin dan tidak menimbulkan korban jiwa maupun kerusakan lingkungan," katanya.

Baca juga: Sidoarjo waspadai bencana hidrometeorologi tahunan

Baca juga: BNPB: Perubahan iklim picu bencana hidrometeorologi

 
Pewarta : Wuryanti Puspitasari
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021