Ahli Gizi: Aceh hadapi masalah malnutrisi beban ganda

Ahli Gizi: Aceh hadapi masalah malnutrisi beban ganda

Arsip fotoi - Ketua TP-PKK Aceh Dyah Erti Idawati meresmikan Rumoh Gizi Gampong (RGG) Gampong Jaboi, Kota Sabang, Aceh, Selasa (31/8/2021). ANTARA/HO-Humas Sabang.

Banda Aceh (ANTARA) - Ketua Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Provinsi Aceh Junaidi menyatakan bahwa Aceh mengalami permasalahan malnutrisi beban ganda yakni kekurangan dan kelebihan gizi.

"Masalah malnutrisi di Aceh itu ada gizi ganda, itu kekurangan gizi (undernutrition) dan kelebihan (overnutrition)," kata Ketua DPD Persagi Aceh Junaidi, di Banda Aceh, Senin.

Junaidi mengatakan, persoalan kekurangan gizi tersebut karena minimnya energi dan protein, zat besi (anemia), vitamin A, dan yodium. Sedangkan kelebihan gizi menjadikan tubuh kegemukan dan obesitas.

Junaidi menyampaikan, berdasarkan data terakhir Riskesdas Kemenkes 2018, malnutrisi balita mulai dari lahir sampai berusia 59 bulan di Aceh yakni anak kurang gizi 23,5 persen, balita kurus 11,9 persen.

"Balita kondisi pendek atau stunting ada 37 persen, dan anak kelebihan gizi 3,01 persen. Tetapi selama ini yang fokus diintervensi adalah kasus stunting," ujarnya.

Baca juga: 1.211 balita di Aceh Besar derita kekerdilan selama 2021
Baca juga: Anak penderita stunting di Banda Aceh mencapai 364 orang

Junaidi menjelaskan, permasalahan jangka pendek dari kekurangan gizi tersebut berdampak pada kesehatan, mortalitas, morbiditas, perkembangan kognitif, motorik dan verbal, ekonomi, biaya kesehatan, kesempatan hilang karena menjaga anak sakit.

Kemudian, lanjut Junaidi, permasalahan jangka panjangnya adalah kesehatan, saat dewasa obesitas kesehatan reproduksi, perkembangan, kinerja sekolah, kapasitas belajar, pencapaian potensi tidak maksimal, ekonomi, serta kemampuan dan produktivitas kerja.

"Kalau kelebihan gizi memiliki dampak penyakit tidak menular, diabetes melitus, hipertensi, jantung, arsteroklerosis," kata Junaidi.

Dalam kesempatan ini, Junaidi menyampaikan bahwa penyebab gizi buruk dan stunting itu karena rendahnya akses terhadap makanan dari segi jumlah dan kualitas gizi.

"Pola asuh yang kurang baik, terutama pada perilaku dan praktek pemberian makan bayi dan anak, rendahnya akses terhadap pelayanan kesehatan termasuk sanitasi dan air bersih," ujarnya.

Baca juga: 4.461 anak Sabang terima dana pemenuhan kecukupan gizi
Baca juga: Program Geunaseh turunkan stunting jadi 11,2 persen di Sabang

Junaedi menuturkan, dalam mengatasi permasalahan ini Pemerintah Aceh telah melakukan intervensi baik dari sektor kesehatan seperti promosi dan konseling menyusui, suplementasi kalsium, vitamin A, manajemen terpadu balita sakit dan lainnya.

"Kemudian intervensi non kesehatan seperti penyediaan air bersih, sanitasi, bantuan pangan non tunai jaminan kesehatan nasional (JKN), PKH, bina keluarga balita dan lain sebagainya," katanya.

Tak hanya itu, lanjut Junaidi, menangani masalah gizi kurang dan stunting tersebut Pemerintah Aceh juga telah melaksanakan program rumoh gizi gampong (desa).

"Program rumoh gizi gampong ini dilaksanakan sebagai wujud dari implementasi SK Gubernur Aceh Nomor 14 Tahun 2019 tentang upaya penanganan stunting di Aceh," demikian Junaidi.

Baca juga: Ibu hamil di Aceh Jaya dapat Rp500.000 per bulan cegah kekerdilan
 
Pewarta : Rahmat Fajri
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021