Anak usaha Kimia Farma edukasi pencegahan stunting di pesantren

Anak usaha Kimia Farma edukasi pencegahan stunting di pesantren

Emiten farmasi sekaligus anak usaha PT Kimia Farma Tbk, PT Phapros Tbk melakukan edukasi pencegahan stunting dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021. (ANTARA/HO-Phapros Tbk)

Jakarta (ANTARA) - Perusahaan farmasi sekaligus anak usaha PT Kimia Farma Tbk, PT Phapros Tbk melakukan edukasi pencegahan kekerdilan (stunting) di lingkungan pesantren dalam rangka memperingati Hari Santri Nasional 2021.

Direktur Utama Phapros, Hadi Kardoko dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Ahad, mengatakan dengan mengedukasi pelajar, dalam hal ini para santri tentang manfaat vitamin penambah darah dapat membantu menekan angka gizi buruk yang disebabkan oleh anemia atau kekurangan darah.

"Kolaborasi dan dukungan dari Pemerintah Daerah serta komitmen tanggung jawab sosial industri untuk melakukan edukasi pencegahan kekerdilan penting dilakukan, mengingat ini adalah tantangan kita bersama sehingga dibutuhkan peran dari berbagai pihak untuk bisa menurunkan angka kekerdilan," ujarnya.

Dijelaskan, anemia atau kurang darah kerap dialami remaja, khususnya remaja perempuan. Jika pada usia remaja mereka memiliki masalah kesehatan hal ini akan berdampak pada kerentanan penyakit saat mereka dewasa.

Baca juga: KSP: Uji coba aplikasi Elsimil di Binjai cegah stunting dari hulu

Baca juga: Gerakan melawan stunting dalam 2 tahun Pemerintahan Jokowi-Ma'ruf Amin


Artinya, selain terkena kekerdilan, anak dari ibu anemia juga berisiko lebih besar untuk terkena anemia. Ketika si anak yang anemia ini sudah tumbuh dewasa dan menjadi seorang ibu, lahirlah lagi anak yang kerdil dan kondisi anemia lainnya.

Disampaikan, kegiatan yang dilakukan perusahaan di 20 pesantren di wilayah Sidoarjo dan Gresik menjadi awal dari rangkaian tanggungjawab sosial terkait kekerdilan.

Sementara itu, Direktur Pemasaran Phapros, Tri Andayani mengatakan berdasarkan data Badan Kesehatan Dunia (WHO) pada 2012, tercatat ada 162 juta balita kerdil dan 58 persen dari jumlah tersebut berada di Asia.

"Penyebabnya adalah kurangnya asupan gizi saat hamil hingga bayi tersebut berusia dua tahun, serta bisa berakibat pada gangguan pertumbuhan berupa tinggi badan anak lebih pendek dibandingkan rata-rata anak normal," ujarnya.

Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) tahun 2019, menunjukkan bahwa prevelansi kekedilan Indonesia sebesar 27,67 persen, meski mengalami penurunan tiga persen dibandingkan tahun 2013, angka tersebut belum mencapai standar WHO untuk kekerdilan yang berada di bawah 20 persen.

Pihaknya mengajak seluruh pihak untuk bersama mengentaskan kekerdilan demi mendukung perkembangan generasi Indonesia yang lebih baik.*

Baca juga: Peneliti: Penyederhanaan hambatan nontarif pangan bantu atasi stunting

Baca juga: BKKBN bentuk Forta Bangga Kencana untuk isi media center
Pewarta : Zubi Mahrofi
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021