Limbah pertanian jadi produk kaya manfaat di tangan "DOKAR" UB

Limbah pertanian jadi produk kaya manfaat di tangan

Dr Riyanti (berdiri) didampingi mahasiswa KKN Universitas Brawijaya saat pelatihan pembuatan eco enzym dari limbah pertanian di Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, Minggu (24/12/2021). ANTARA/Endang Sukarelawati/am.

Malang, Jawa Timur (ANTARA) - Limbah pertanian, khususnya sayuran dan buah-buahan yang selama ini dibuang, di tangan para dosen yang tergabung dalam Dosen Berkarya (DOKAR) Universitas Brawijaya (UB), menjadi produk yang kaya manfaat.

Tim Dosen Berkarya berusaha mengolah limbah pertanian tersebut menjadi eco enzym. Untuk mengubah limbah pertanian menjadi eco enzym perlu formulator khusus yang fungsinya sebagai fermentasi limbah tersebut.

Dr Riyanti, fasilitator yang juga anggota DOKAR UB di Batu, Ahad, memaparkan beberapa manfaat eco enzym untuk kesehatan, di antaranya untuk membersihkan kuman dan virus di bagian mulut, rongga tenggorokan dan hidung dengan cara berkumur lauratan eco enzym tersebut.

"Selain itu, bisa dioleskan ke tubuh bagian luar yang luka tergores, luka bakar, memar, dan pegal linu. Manfaat untuk pertanian dapat dijadikan sebagai pupuk cair. Cara kerja eco enzym, dicampur dengan air secukupnya dan disemprotkan ke tanaman," kata Dr Riyanti di sela pelatihan pembuatan eco enzym bagi ibu-ibu kelompok tani Sumber Rejeki Desa Giripurno, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu.

Baca juga: UB kembangkan sistem budi daya melon berbasis IoT

Baca juga: Mahasiswa UB mengolah kulit durian menjadi krim antijerawat


Dalam waktu yang tidak lama, kata Riyanti, tanaman dapat tumbuh lebih cepat daripada tanpa perlakuan eco enzym.

Dosen berkarya ini menjadi ajang para dosen untuk berkontribusi kepada masyarakat berdasarkan masalah yang dihadapi oleh masyarakat, khususnya di Giripurno, Kota Batu.

Cara pembuatan eco enzym tersebut, kata Riyanti, cukup mudah dengan bahan-bahan yang juga mudah didapat. Selain limbah pertanian, seperti sayuran dan buah-buahan, bahan baku juga ditopang dengan gula merah atau molase serta air dengan komposisi yang sudah ditentukan, yakni 1:3:10.

Artinya, satu liter gula merah cair (molase), tiga kilogram limbah pertanian dan 10 liter air. Semua bahan dicampur dalam wadah plastik, kemudian ditutup rapat agar tidak ada udara masuk dan difermentasi selama tiga bulan penuh.

Namun, setelah 21 hari atau satu bulan dibuka sebentar untuk mengecek berhasil atau tidaknya proses tersebut. Jika aroma yang muncul seperti asam tape berarti berhasil dan dilanjutkan ditutup rapat hingga proses tiga bulan.

Namun, jika aroma yang muncul berbeda (seperti air got), artinya gagal dan bisa dimanfaatkan untuk pupuk tanaman.

Ketua Dosen Berkarya UN, Prof Yayuk Yuliati mengatakan bahwa kegiatan ini penting, karena dapat memanfaatkan, mengurangi volume, dan mengolah limbah kembali menjadi produk yang kaya manfaat.

Sementara itu, Ketua Komunitas Manajemen Hutan Indonesia UB  Dr Asihing Kustanti mengatakan peningkatan produk- produk pertanian seiring dengan kebijakan modernisasi pertanian sejak abad 20 mampu meningkatkan ketahanan pangan.

Peningkatan kualitas benih, penggunaan pupuk organik dan nonorganik, penggunaan alat pertanian modern, peningkatan kapasitas SDM pertanian berhasil meningkatkan produktivitas pangan untuk memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat.

Namun, peningkatan produk pertanian tersebut jika tidak diikuti penanganan pascapanen akan menimbulkan dampak negatif pada lingkungan dengan menyumbang sampah dan efek gas rumah kaca.

Pembakaran limbah pertanian akan menyumbangkan gas metana di udara, pencemaran tanah dan air, serta CO2 di udara.

Upaya-upaya meminimalisasi pencemaran sampah dan udara perlu dilakukan agar tidak berdampak pada pembangunan manusia Indonesia seutuhnya dengan melakukan peningkatan nilai tambah limbah tersebut menjadi materi yang bermanfaat bagi kehidupan.

Upaya yang dilakukan adalah dengan meningkatkan nilai tambah limbah berasal dari aktivitas rumah tangga dan pertanian yang melimpah dan tertimbun tanpa penanganan yang solutif.

Limbah pertanian yang dimanfaatkan menjadi eco enzym itu seperti sortiran wortel, kobis, kulit jagung, dan kulit buah.*

Baca juga: Mahasiswa Universitas Brawijaya buat aplikasi peta bagi tuna netra

Baca juga: Ruang laboratorium manufaktur Teknik Industri FT UB terbakar
Pewarta : Endang Sukarelawati
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2021