Cerita Timothee Chalamet soal media sosial hingga karier akting

Cerita Timothee Chalamet soal media sosial hingga karier akting

Aktor Timothee Chalamet. ANTARA/Instagram/time

Jakarta (ANTARA) - Aktor muda Timothee Chalamet membagi cerita dan pengalamannya seputar hal-hal yang lekat dengannya; mulai dari penggunaan media sosial, aktor-aktor panutan, hingga karier aktingnya selama ini.

Chalamet termasuk dalam generasi yang dikenal suka berbagi, terutama di media sosial, tetapi Instagram-nya sering penuh teka-teki; dia menahan lebih banyak daripada banyak pengguna yang satu zaman dengannya.

Mengutip wawancaranya dengan TIME, Selasa, Chalamet mengatakan ada sejumlah aktor yang merupakan panutannya dalam berbagi di platform besarnya di internet.

Baca juga: Warner Bros ingin Timothee Chalamet - Tom Holland bintangi "Wonka"

Beberapa nama yang ia sebut adalah Michael B. Jordan, Leonardo DiCaprio dan Jennifer Lawrence—dengan dua nama terakhir di antaranya akan menjadi lawan mainnya di film "Don't Look Up" garapan sutradara Adam McKay.

Chalamet dibesarkan di tengah kota Manhattan, di mana ibunya adalah seorang pemain Broadway dan ayahnya bekerja sebagai editor untuk UNICEF.

Dia menuntut ilmu ke sekolah tinggi seni La Guardia, di mana dia tampil di atas panggung. Tidak lama setelah lulus, ia mendapatkan peran sebagai putra Matthew McConaughey dalam drama fiksi ilmiah Christopher Nolan, "Interstellar" (2014), yang ikut meroketkan namanya.

"Saya ingat melihatnya dan menangis," katanya, "(Alasan saya menangis) 60 persen karena saya sangat tersentuh oleh ceritanya, dan 40 persen karena saya pikir saya berada di film lebih banyak dari yang saya kira," imbuhnya.

Dia sempat kuliah sebentar di Columbia, lalu Universitas New York, tetapi tidak menyelesaikan kuliahnya, yang menurutnya tampak "gila dalam retrospeksi."

Dia mengingat rasa "tidak aman" pada tahun-tahun itu, yang dia gambarkan sebagai "kecemasan yang menghancurkan jiwa karena merasa seperti saya memiliki banyak hal untuk diberikan tanpa platform apa pun."

Tapi, dia menunggu jenis pekerjaan yang dia inginkan, berusaha menghindari terikat pada komitmen yang mungkin menghambat pertumbuhannya, seperti kontrak TV selama bertahun-tahun.

"Bukannya peluang itu banyak datang kepada saya, karena nyatanya tidak. Tapi, saya memiliki mentalitas maraton, yang rasanya sulit ketika semuanya adalah didapat secara instan, dan kepuasannya juga instan," kaya Chalamet.

Penantian itu terbayar pada tahun 2017 dengan dirilisnya drama Luca Guadagnino, "Call Me by Your Name", yang membuatnya mendapatkan nominasi Oscar dan melambungkannya ke ketenaran.

Pada tahun yang sama, ia tampil dalam "Lady Bird" yang digarap oleh Greta Gerwig. Kariernya berlanjut dengan membintangi "Beautiful Boy", kemudian adaptasi Gerwig dari "Little Women". Semua film yang ia bintangi mendapatkan pujian dari kritikus film.

Chalamet baru-baru ini membintangi adaptasi "Dune" karya Denis Villeneuve, yang akan tayang di bioskop Indonesia 13 Oktober.

"Dune ditulis 60 tahun yang lalu, tetapi temanya bertahan hingga hari ini: Peringatan terhadap eksploitasi lingkungan, peringatan terhadap kolonialisme, peringatan terhadap teknologi," kata Chalamet.

Baca juga: "Dune", suguhan cerita kompleks dengan pengalaman sinematik

Baca juga: "Dune" rajai box office internasional

Baca juga: Timothee Chalamet ungkap tampilan perdana sebagai Willy Wonka
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Maria Rosari Dwi Putri
COPYRIGHT © ANTARA 2021