Seniman sastra macapat turut meriahkan HUT ke-265 Kota Yogyakarta

Seniman sastra macapat turut meriahkan HUT ke-265 Kota Yogyakarta

Sejumlah seniman sasta macapat asal Kota Yogyakarta dalam Gelar Macapat yang juga ditujukan untk memeriahkan HUT ke-265 Kota Yogyakarta, Senin (4/10/21). ANTARA/HO-Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta.

Yogyakarta (ANTARA) - Bertepatan dengan kegiatan rutin tahunan Gelar Macapat, sejumlah seniman sastra macapat Kota Yogyakarta ikut memeriahkan hari ulang tahun ke-265 Kota Yogyakarta dengan melantunkan panembrama tembang macapat diiringi tabuhan gamelan.

“Lirik lagu macapat yang dibawakan pun disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat ini,” kata Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Ismawati retno di Yogyakarta, Senin.

Seniman sastra macapat melantunkan tembang dengan lirik yang berisi harapan agar pandemi COVID-19 segera berakhir, sekaligus doa agar masyarakat Kota Yogyakarta semakin sejahtera.

Menurut dia, pilihan lagu-lagu macapat tersebut juga selaras dengan tema besar peringatan HUT ke-265 Kota Yogyakarta yaitu Tanggap, Tanggon, lan Tuwuh.

Baca juga: Yogyakarta tumbuhkan kecintaan generasi milenial pada macapat
Baca juga: Tembang macapat hipnotis masyarakat Maroko  


Sejumlah seniman sastra macapat yang turut terlibat dalam Gelar Macapat yang diselenggarakan di Ndalem Ngabean di antaranya, Ratun Untoro, Muhammad Bagus Febriyanto, Slamet Nugroho, dan KMT Wasitohadibroto.

Total terdapat 11 tembang macapat yang dibawakan secara silih berganti, mulai dari Dhangdanggula, Sinom, Durma, Pangkur, Asmarandana, Kinanthi, Mijil, Megatruh, Gambuh, Maskumambang, dan Pocung.

“Gelar Macapat ini membuktikan jika seniman macapat di Yogyakarta juga terus menyesuaikan diri dengan kondisi yang saat ini dihadapi untuk tetap bisa mengemban misi melestarikan budaya macapat,” katanya.

Sedangkan Ketua Paguyuban Macapat Kota Yogyakarta KMT Projosuwasono mengatakan, macapat adalah wujud karya seni yang didalamnya berisi sejumlah aturan yang tidak boleh ditinggalkan. “Mulai dari pupuh, titi laras, gatra, wilangoning wanda, dan pedhotan. Semua ada aturannya dan tidak boleh dilanggar,” katanya.

Ia pun menyebut jika tembang macapat sudah mulai tumbuh dan berkembang sejak Kerajaan Demak. “Dulu, tempat ini diciptakan oleh para ulama sebagai sarana menyebarkan ajaran agama Islam,” katanya.

Sedangkan Kepala Bidang Sejarah Permuseuman Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta Dwi Hana Cahya Sumpena berharap Gelar Macapat dapat dijadikan sebagai sarana melestarikan tembang Macapat.

“Tentunya, rasa cinta terhadap seni dan sastra Jawa di Kota Yogyakarta diharapkan juga semakin meningkat,” katanya.

Baca juga: Presiden ingin "tembang macapat" diajarkan kepada anak-anak
Baca juga: Mahasiswa UNY kembangkan pembelajaran macapat berbasis web
Baca juga: KBRI Seoul promosi E-Macapat dan E-Gamelan di Seoul
Pewarta : Eka Arifa Rusqiyati
Editor: Budhi Santoso
COPYRIGHT © ANTARA 2021