Minyak terus melemah setelah Saudi pangkas harga untuk pasar Asia

Minyak terus melemah setelah Saudi pangkas harga untuk pasar Asia

Ilustrasi - Miniatur pompa sumur minyak cetak 3D terlihat di depan grafik stok yang ditampilkan dan logo OPEC (14/4/2020). ANTARA/REUTERS/Dado Ruvic/aa.

Singapura (ANTARA) - Harga minyak memperpanjang penurunannya di perdagangan Asia pada Senin pagi, setelah eksportir utama dunia Arab Saudi memangkas harga minyak mentahnya untuk pasar Asia selama akhir pekan, menandakan bahwa pasar global mendapat pasokan dengan baik.

Minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman November turun 57 sen atau 0,8 persen, menjadi 72,04 dolar AS per barel pada pukul 01.01 GMT. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS untuk pengiriman Oktober berada di 68,73 dolar AS per barel, turun 56 sen atau 0,8 persen.

Raksasa minyak kerajaan Arab Saudi, Saudi Aramco memberitahukan para pelanggan dalam sebuah pernyataan pada Minggu (5/9/2021) bahwa mereka akan memangkas harga Oktober untuk semua kadar minyak mentah yang dijual ke Asia, wilayah pembelian terbesarnya, setidaknya 1 dolar AS per barel. Pemotongan harga lebih besar dari yang diharapkan, menurut jajak pendapat Reuters di antara penyulingan Asia.

Penurunan minyak mentah berjangka menambah penurunannya pada Jumat (3/9/2021) setelah laporan pekerjaan AS yang lebih lemah dari yang diharapkan mengindikasikan pemulihan ekonomi yang tidak merata, yang dapat berarti permintaan bahan bakar lebih lambat selama kebangkitan kembali dari pandemi.

Namun penurunan harga minyak dibatasi oleh kekhawatiran bahwa pasokan AS akan tetap terbatas setelah Badai Ida.

Pemerintah AS melepaskan minyak mentah dari cadangan minyak strategisnya karena produksi di pesisir teluk AS sedang berupaya untuk pulih. Sekitar 1,7 juta barel minyak dan 1,99 miliar kaki kubik produksi gas alam masih offline, data pemerintah yang dirilis pada Jumat (3/9/2021) menunjukkan, sementara kekurangan listrik menghambat beberapa kilang untuk melanjutkan operasi.

Badai tersebut juga menyebabkan perusahaan-perusahaan energi AS pekan lalu memangkas jumlah rig minyak dan gas alam yang beroperasi untuk pertama kalinya dalam lima minggu, data dari Baker Hughes menunjukkan pada Jumat (3/9/2021). Jumlah rig minyak turun paling banyak sejak Juni 2020.

Baca juga: Minyak jatuh terseret laporan pekerjaan AS lebih lemah dari perkiraan
Baca juga: Harga minyak naik, ditopang persediaan AS turun dan keputusan OPEC+
Baca juga: Minyak stabil setelah OPEC+ setuju tingkatkan produksi secara bertahap
Pewarta : Apep Suhendar
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021