LIPI kembali kukuhkan empat profesor riset

LIPI kembali kukuhkan empat profesor riset

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan empat penelitinya menjadi Profesor Riset ke-155, 156, 157, dan 158 di Jakarta, Rabu (1/9/2021). (ANTARA/Martha Herlinawati Simanjuntak)

Jakarta (ANTARA) - Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan empat penelitinya menjadi Profesor Riset ke-155, 156, 157, dan 158 di lingkungan instansi itu dengan kepakaran berbeda.

"Sebagai seorang profesor riset, akan memiliki tanggung jawab lebih besar, tidak hanya pada dirinya sendiri, tapi kita berharap profesor riset akan menjadi penghela terdepan untuk kelompok-kelompok risetnya," kata Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Laksana Tri Handoko dalam acara virtual Orasi Pengukuhan Profesor Riset di lingkungan LIPI) di Jakarta, Rabu.

Empat Profesor Riset tersebut adalah Yantyati Widyastuti di bidang Bioteknologi Hewan, Haryadi Permana di bidang Geologi, Sri Yudawati Cahyarini di bidang Geologi, dan Sri Rahayu di bidang Botani.

Baca juga: Profesor riset LIPI dorong penguatan penelitian sesar aktif

Baca juga: Profesor riset LIPI kembangkan instrumentasi neraca air


Handoko mengapresiasi para profesor riset yang telah dikukuhkan tersebut, dan mendorong mereka untuk terus berkarya bagi bangsa dan negara Indonesia.

Pada kesempatan itu, Pelaksana harian Kepala LIPI Agus Haryono juga mengapresiasi dan bangga atas prestasi dari para profesor riset tersebut.

"Mereka semua adalah putera-puteri terbaik dari LIPI yang telah mengabdi sekian lama menghasilkan prestasi yang luar biasa di bidangnya masing-masing," ujarnya.

Dia berharap hasil riset dari para profesor riset tersebut dapat dimanfaatkan secara luas untuk kepentingan masyarakat dan negara Indonesia, seperti meningkatkan produktivitas sapi potong untuk mendukung peternakan nasional dan pembangunan strategi nasional yang lebih komprehensif untuk mitigasi atau pengurangan risiko bencana.

Dalam orasi ilmiah yang berjudul "Inovasi Produk Pangan Sapi Potong Berbasis Bakteri Asam Laktat untuk Mendukung Usaha Peternakan Nasional", Yantyanti menjelaskan ternak ruminansia atau hewan pemamah biak, salah satunya sapi potong, menyumbang emisi gas rumah kaca berupa gas metana yang dikeluarkan melalui sendawa, yang merupakan hasil dari proses alami fermentasi pakan ternak.

Strategi global pada pemberian pakan telah diupayakan agar dapat menurunkan produksi gas metana, yakni dengan menggunakan bakteri asam laktat yang memproduksi asam laktat dan berperan pada fermentasi pakan, serta mempengaruhi keseimbangan mikroorganisme pada saluran pencernaan.

Selain dapat menyehatkan ternak, bakteri asam laktat dapat berperan untuk menurunkan produksi gas metana pada ternak tersebut.

Sementara Haryadi Permana menyampaikan naskah orasi profesor risetnya yang berjudul "Pemanfaatan Hasil Riset Kepingan Kerak Samudra Purba dalam Perspektif Dinamika Kerak Bumi Aktual".

Ia menjelaskan dalam perspektif dinamika kerak bumi aktual, pemahaman dan pengetahuan dasar kerak bumi dapat dijadikan sebagai bahan dalam upaya mitigasi bencana.

Sumber daya kerak samudra, seperti sumber daya gunung api bawah laut, serta unsur dan mineral ekonomis di dalamnya seperti nikel, krom, mangan, dan besi atau seng, juga dapat dimanfaatkan.

Pada orasi naskah profesor risetnya yang berjudul "Kontribusi Penelitian Iklim Masa Lampau dalam Memahami Perubahan Iklim", Sri Yudawati Cahyarini menjelaskan studi iklim masa lampau (paleoclimate) mampu menyediakan data iklim dari masa kini sampai masa lampau, di mana tidak tersedia data pengukuran.

Baca juga: LIPI hasilkan teknologi ekstraksi titanium untuk kemandirian industri

Baca juga: Tambah empat profesor riset, Kementan kini miliki 150 profesor riset


Data paleoclimate tersebut dapat digunakan untuk verifikasi data model prediksi iklim supaya lebih akurat, sehingga dapat mendukung kegiatan adaptasi dan mitigasi bencana iklim lebih baik.

Sedangkan Sri Rahayu dalam naskah orasi profesor risetnya yang berjudul "Konservasi Biodiversitas dan Pemanfaatan Berkelanjutan Hoya di Indonesia", mengatakan bahwa sebagai tumbuhan tropis, banyak jenis Hoya yang tumbuh di Indonesia dan sudah sejak lama dimanfaatkan sebagai bahan obat tradisional.

Ia menuturkan perlu dirumuskan suatu strategi konservasi dan pemanfaatan berkelanjutan Hoya Indonesia.
Pewarta : Martha Herlinawati Simanjuntak
Editor: Endang Sukarelawati
COPYRIGHT © ANTARA 2021