Bali terus berjuang kendalikan dan tangani kasus COVID-19

Bali terus berjuang kendalikan dan tangani kasus COVID-19

Petugas kesehatan membawa tabung oksigen untuk dibawa ke ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) di RSUD Wangaya, Denpasar, Bali, Jumat (23/7/2021). ANTARA FOTO/Nyoman Hendra Wibowo/aww.

Denpasar (ANTARA) - Penambahan kasus baru COVID-19 yang sebelumnya cenderung landai di Bali, namun sejak awal Juli 2021 mengalami kenaikan yang signifikan, sehingga Bali pun membutuhkan perjuangan lebih keras lagi untuk mengendalikan dan dapat memberikan perawatan pada pasien.

Hingga Jumat (30/7) jumlah kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi di Provinsi Bali secara kumulatif sudah sebanyak 75.039 orang dan jumlah pasien yang meninggal dunia karena COVID-19 sebanyak 2.117 orang (2,82 persen).

Sedangkan pasien yang sudah sembuh dari COVID-19 sebanyak 60.850 orang (81,09 persen) dan jumlah kasus aktif hingga 30 Juli 2021 tercatat sebanyak 12.072 orang.

Berdasarkan data perkembangan kasus COVID-19 di Provinsi Bali yang termuat di laman https://infocorona.baliprov.go.id/, maka dalam 30 hari ini telah terjadi penambahan kasus COVID-19 di Pulau Dewata sebanyak 24.511 orang dan 548 warga Bali harus menghembuskan napas terakhir.

Pada 1 Juli 2021, saat itu tercatat jumlah kasus positif COVID-19 yang terkonfirmasi sebanyak 50.528 orang dan pasien yang meninggal dunia karena COVID-19 sejumlah 1.569 orang.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr Ketut Suarjaya dalam sejumlah kesempatan mengatakan lonjakan kasus COVID-19 di daerah setempat dipicu karena telah masuknya virus COVID-19 varian Delta.

Virus COVID-19 varian Delta (B.1.617.2) ini di Provinsi Bali terdeteksi pertama kalinya pada 14 Juli 2021, berdasarkan hasil uji Badan Litbangkes Kementerian Kesehatan atas sejumlah sampel yang dikirimkan dari Bali.

Dari hasil uji Badan Litbangkes tersebut dinyatakan tiga orang di Bali yang terinfeksi virus corona varian Delta (B.1.617.2) yakni pasien laki-laki berusia 20 tahun dan 50 tahun, serta satu pasien perempuan berusia 48 tahun.

Penambahan kasus positif yang pada pekan pertama Juli berkisar di atas 600 orang per hari, terus merangkak naik setiap harinya. Bahkan pada 17 Juli, untuk pertama kalinya penambahan kasus COVID-19 di Bali menyentuh di atas 1.000, tepatnya saat itu sebanyak 1.019 kasus.

Bahkan dalam lima hari terakhir, penambahan kasus harian di Provinsi Bali terus di atas 1.000 orang per hari dan yang meninggal dunia pun selalu di atas 30 orang.

Terhadap lonjakan kasus COVID-19 yang sangat signifikan itu, diakui Suarjaya telah memberikan tekanan pada ketersediaan ruang isolasi dan ruang ICU untuk perawatan pasien positif COVID-19 di rumah sakit, demikian juga dengan ketersediaan oksigen.

Berbagai rumah sakit di Provinsi Bali pun terpaksa harus menambah kapasitas tempat tidur dan ruang perawatan pasien positif COVID-19, karena pada pekan ketiga Juli 2021, mayoritas kabupaten/kota di Bal tingkat keterisian tempat tidur perawatan (Bed Occupancy Ratio/BOR) di rumah sakit sudah di atas 80 persen.

Baca juga: Wapres minta Bali tingkatkan 3T untuk turunkan kasus COVID-19

Baca juga: Bali klaim vaksinasi COVID-19 dosis pertama lampaui 100 persen target


Pastikan Oksigen

Lonjakan kasus positif COVID-19 di Provinsi Bali ini telah menyebabkan Bali mengalami krisis ketersediaan oksigen hingga puluhan ton per harinya.

"Kita sudah mulai mengalami kekurangan oksigen itu sejak 14 Juli dan semakin hari kondisinya semakin krisis karena adanya lonjakan kasus baru," kata Suarjaya.

Pada 14 Juli itu dari kebutuhan oksigen cair di berbagai rumah sakit di Bali sebesar 104,34 ton (72.962.526 liter), saat itu oksigen yang tersedia di RS sebesar 99,62 ton (69.666.728 liter).

Kebutuhan oksigen sempat menurun pada 15 Juli menjadi 91,11 ton, namun tetap saja RS kekurangan oksigen karena ketersediaannya sebesar 87,66 ton.

Selanjutnya pada 16 Juli dari kebutuhan 139,59 ton, yang tersedia di RS sebanyak 77,03 ton. Bahkan pada 21 Juli, dari kebutuhan oksigen sebanyak 131,92 ton, yang tersedia hanya 45,50 ton, atau artinya kekurangan hingga 86,42 ton.

Sedangkan pada 22 Juli, dari kebutuhan 113,34 ton, ketersediaan di RS hanya sebanyak 40,55 ton, atau dengan kata lain kekurangan oksigen sebesar 72,79 ton.

Menurut Suarjaya, PT Samator di Surabaya selaku penyedia oksigen sebelumnya menjamin kebutuhan oksigen untuk Bali aman hingga tiga bulan ke depan. Namun, di tengah tingginya kebutuhan oksigen karena lonjakan kasus di Pulau Jawa, pasokan untuk Bali pun akhirnya terkendala.

Sebelum kasus melonjak, dengan mendapat suplai sebanyak 10 ton itu sudah cukup dapat memenuhi kebutuhan seluruh RS di Bali selama 2-3 hari.

Terkait kondisi defisit oksigen yang dihadapi Bali, pihaknya telah berupaya maksimal berkomunikasi dengan Kementerian Kesehatan dan mendapat bantuan oksigen dari Morowali, Sulawesi Tengah sebesar 40 ton. Kemudian dari Cilegon sebesar 50 ton. Selain itu, Bali juga mendapat bantuan 64 oksigen konsentrator dari Kemenkes yang dapat langsung memproduksi oksigen.

Sementara itu Gubernur Bali Wayan Koster mengklaim ketersediaan oksigen di Pulau Dewata masih mencukupi dan bisa terpenuhi.

Pihaknya juga telah berkomunikasi dengan Menko Maritim dan Investasi, serta Menteri Kesehatan beserta jajarannya, agar Bali dapat prioritas untuk mendapatkan oksigen sesuai dengan kebutuhan.

Menurut Koster, Bali sudah disiapkan satu generator untuk pembuatan oksigen, lalu ditambah oksigen konsentrator yang bisa digunakan untuk memproses oksigen.

Pada Agustus, Bali juga akan menerima bantuan dari pihak ketiga, generator yang memproduksi oksigen sehingga nantinya oksigen bisa diproduksi sendiri. "Kejadian pandemi ini membuat kita belajar untuk bisa memproduksi sendiri dan tidak tergantung pada pihak luar," ucap orang nomor satu di Provinsi Bali itu.

Sebagai upaya membantu rumah sakit mengatasi kelangkaan oksigen, sebelumnya Yayasan Bali Binar Bhakti juga turut memberikan sebanyak 25 oksigen konsentrator untuk sejumlah RS di kabupaten/kota di Bali itu.

Wakil Ketua Yayasan Bali Binar Bhakti Agus Maha Usadha mengatakan bantuan ini merupakan bentuk kepedulian dari yayasan yang diketuai oleh anggota DPD Made Mangku Pastika, terkait kondisi pandemi COVID-19. Terlebih dalam beberapa pekan terakhir terjadi kelangkaan stok oksigen.

"Kami mencoba menjadi bagian kecil dalam upaya mendukung pemerintah untuk menangani pandemi COVID-19. Semoga apa yang kami lakukan ini, bisa membantu dalam melewati masa pandemi ini. Kami sangat prihatin sekali dengan kondisi saat ini," ucap Agus.

Bahkan anggota Dewan Perwakilan Daerah Made Mangku Pastika juga mengajak para tokoh-tokoh Bali untuk turut membantu mencarikan solusi terkait kelangkaan oksigen itu.

Baca juga: Wapres dorong Bali capai "herd immunity" untuk bangkitkan pariwisata

Baca juga: Satgas: Lonjakan kematian di luar Jawa-Bali peringatan bagi pemda


Genjot Pelacakan

Provinsi Bali meningkatkan target pelacakan (tracing) dan pengujian atau pengetesan (testing) terhadap orang yang kontak erat dengan penderita COVID-19 di daerah itu untuk perharinya sebanyak 8.000 hingga 10.000 orang.

Menurut Gubernur Bali Wayan Koster, untuk mempercepat upaya penanganan COVID-19, maka sesuai arahan Menko Maritim dan Investasi dilaksanakan peningkatan target 'tracing' (pelacakan) dan 'testing' (pengetesan), minimum delapan orang kontak erat untuk setiap satu kasus baru COVID-19.

Program ini dikoordinasikan oleh Pangdam IX/Udayana bersinergi dengan Polda Bali, Pemerintah Provinsi Bali dan pemerintah kabupaten/kota, perguruan tinggi bidang kesehatan, rumah sakit pemerintah dan swasta, serta relawan.

Peningkatan target jumlah 'tracing' dan dilanjutkan dengan 'testing' (tes cepat antigen dan tes usap PCR, red.) diharapkan sebagai merupakan upaya guna mencegah laju meningkatnya penularan di tengah masyarakat.

Terlebih dari 12.072 kasus aktif hingga 30 Juli 2021 itu, sebanyak 8.107 orang (67,2 persen) menjalani isolasi mandiri. Sedangkan yang dirawat di rumah sakit rujukan sebanyak 1.959 orang (16,2 persen) dan 2.006 orang (16,6 persen) menjalani isolasi terpusat.

"Saya meminta seluruh komponen masyarakat secara bersama-sama mengembangkan kesabaran dan kesadaran kolektif, bahwa ini tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab bersama dengan semangat gotong royong agar pandemi COVID-19, dapat ditangani dengan sebaik-baiknya," ucap Koster.

Berdasarkan penelusuran, orang yang terkena COVID-19 di Bali sebanyak 40 persen sudah divaksin dan sebagian besar yaitu sebanyak 60 persen belum divaksin. Pasien COVID-19 yang meninggal dunia, sebanyak tujuh persen sudah divaksin dan sebagian besar yaitu sebanyak 91 persen belum divaksin.

Dari target vaksinasi untuk 2.996.060 orang warga Bali, maka hingga 30 Juli 2021, tercatat capaian vaksinasi COVID-19 tahap pertama di daerah itu sudah 102,25 persen atau sebanyak 3.063.590 orang.

Sementara untuk vaksinasi tahap kedua sudah sebanyak 846.931 orang (28,27 persen) dan ditargetkan sudah rampung semua pada September 2021.

Ia kembali mengingatkan masyarakat Bali untuk tertib dan disiplin melaksanakan protokol kesehatan. Masyarakat harus selalu memakai masker dengan benar, mencuci tangan, menjaga jarak (tidak berkerumun), mengurangi bepergian, meningkatkan imun, dan mentaati aturan.

"Sayangi diri sendiri, keluarga, dan sahabat Anda. Selamatkan jiwa diri sendiri, keluarga, dan sahabat Anda," pesan Koster.

Vaksinasi terbukti sangat efektif mengurangi risiko penularan dan kematian bagi pasien terinfeksi COVID-19. Karena itu, dukungan dari masyarakat untuk melaksanakan vaksin menjadi sangat berarti untuk menekan kasus baru, khususnya di Pulau Bali. 

Baca juga: Satgas COVID-19 catat penurunan kasus mingguan Jawa-Bali 24 persen

Baca juga: Anggota DPD ajak tokoh Bali bantu atasi kelangkaan oksigen

 
Pewarta : Ni Luh Rhismawati
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021