AESI: harga rokok lebih mahal ketimbang cicilan panel surya

AESI: harga rokok lebih mahal ketimbang cicilan panel surya

Tangkapan layar Wakil Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Anthony Utomo dalam diskusi daring tentang masa depan PLTS atap yang dipantau di Jakarta, Senin (26/7/2021). ANTARA/Sugiharto purnama.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Umum Asosiasi Energi Surya Indonesia (AESI) Anthony Utomo mengatakan masyarakat pengguna pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) atap yang terus meningkat membuat harga pembangkitnya semakin murah.

"Satu hari cicilan itu nomboknya Rp13 ribu, bisa dapat aset yang menghasilkan (listrik) terus sampai 30 tahun mendatang. Orang bilang satu pak rokok Rp20 ribu, lebih mahal dari bayar cicilan solar sel," kata Anthony dalam diskusi daring yang dipantau di Jakarta, Senin.

Dia menjelaskan solar sel bukanlah penemuan baru dan sudah populer di khalayak umum, terkhusus masyarakat di luar negeri.

Teknologi yang semakin efisiensi membuat harga jual solar sel kian ekonomis, sehingga harganya telah turun signifikan hingga puluhan persen dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, dana yang dibutuhkan untuk menghasilkan 2,0 kilowatt peak (kWp) hanya membutuhkan investasi Rp25 juta. Pelanggan PLTS atap dapat menikmati pengembalian modal setelah pemakaian selama lima sampai enam tahun.

"Solar sel ini tentunya menjadi aset karena kita bayar sekali saja kalau memang kontan. Kalau dicicil sekarang banyak koperasi yang mulai menyediakan cicilan itu sampai Iima tahun," ujar Anthony.

Selain harga pemasangan yang semakin murah, lanjut dia, PLTS atap juga punya keunggulan lain mulai dari menurunkan radiasi panas matahari ke dalam rumah hingga menekan tagihan biaya listrik PLN.

"Solar sel menjadi penahan panas, itu bisa berkurang 3-4 derajat celcius. Jadi mengurangi pemakaian AC secara mekanis," pungkas Anthony.

AESI saat ini mendorong akselerasi net metering dari 65 persen menjadi 100 persen agar pengguna dapat merasakan manfaat penurunan harga tagihan listrik dari PLN.

Net metering merupakan sistem layanan dimana kelebihan listrik yang dihasilkan oleh PLTS atap dapat dikirimkan ke jaringan distribusi PLN, serta dapat digunakan kembali untuk konsumsi oleh rumah tangga tersebut.

"Mekanisme PLN itu tidak memberikan kita uang, tetapi memberikan kita semacam potongan harga yang tadinya itu per tiga bulan oleh Kementerian ESDM didorong menjadi enam bulan," kata Anthony.

Hingga Maret 2021, total jumlah pelanggan PLTS atap PLN tercatat sebanyak 3.472 pelanggan dengan total kapasitas daya listrik yang dihasilkan mencapai 26,51 megawatt peak (MWp).

Jawa Barat menjadi wilayah dengan pemanfaatan PLTS atap terbesar di Indonesia yang bisa menghasilkan listrik 6,17 MWp, lalu disusul Jakarta Raya sebesar 5,87 MWp, kemudian Jawa Tengah dan Yogyakarta sebesar 5,31 MWp.

Baca juga: AESI dorong penguatan ekosistem PLTS di Indonesia
Baca juga: AESI: pemanfaatan energi surya belum maksimal meski berpotensi besar

Baca juga: Syarat TKDN 40 persen hambat pegembangan energi surya di Indonesia
 
Pewarta : Sugiharto Purnama
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021