Kemenkeu: Penurunan imbal hasil obligasi AS pengaruhi penawaran SUN

Kemenkeu: Penurunan imbal hasil obligasi AS pengaruhi penawaran SUN

Seorang karyawan BNI mengamati harga Surat Utang Negara (SUN) di BNI Treasury, Jakarta, Selasa (8/6). Pemerintah menambah jumlah utang melalui lelang empat seri Surat Utang Negara (SUN)sebesar Rp6,35 trilliun dengan total penawaran Rp17,11 trilliun. FOTO ANTARA/Prasetyo Utomo/Koz. (ANTARA/PRASETYO UTOMO)

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menyatakan penurunan imbal hasil dari obligasi pemerintah AS (US Treasury) menjadi pemicu tingginya penawaran masuk pada lelang rutin Surat Utang Negara (SUN).

"Didukung oleh tren yield US Treasury yang menurun, penawaran pada lelang kali ini adalah penawaran tertinggi kedua di tahun 2021,"  kata Direktur Surat Utang Negara Direktorat Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kemenkeu Deni Ridwan di Jakarta, Rabu.

Dalam lelang SUN rutin pada Rabu, pemerintah menyerap dana sebesar Rp34 triliun dari lelang tujuh seri SUN di pasar perdana dengan penawaran masuk mencapai Rp95,55 triliun.

Baca juga: Lelang SUN serap Rp34 triliun

Deni menjelaskan dominasi investor domestik pada lelang SUN kali ini mencapai 92,4 persen dari total bids yang masuk, dengan penawaran terbanyak pada seri FR0090 dan FR0091.

"Meningkatnya partisipasi investor domestik didukung adanya SUN yang jatuh tempo yaitu seri FR0053 sebesar Rp98,53 triliun pada tanggal 15 Juli 2021. Bid terbesar berasal dari seri SUN pada tenor 6 dan 11 tahun," katanya.

Baca juga: Sri Mulyani catat penerbitan sukuk negara capai Rp1.810,02 triliun

Pada lelang SUN ini, lanjut dia, juga terdapat penurunan Weighted Average Yield (WAY) yang dimenangkan untuk seluruh seri Obligasi Negara yang ditawarkan sebesar 4-28bps dibandingkan pada lelang sebelumnya.

"Penurunan WAY terbesar pada tenor 20 tahun yaitu mencapai 28bps dibanding pada lelang sebelumnya," kata Deni.

Dengan lelang ini,  secara keseluruhan jumlah pembiayaan negara yang berasal dari lelang SUN selama Januari-Juli 2021 mencapai Rp432,24 triliun.
 
Pewarta : Satyagraha
Editor: Nusarina Yuliastuti
COPYRIGHT © ANTARA 2021