Pemerintah lobi produsen hingga cari produk alternatif obat impor

Pemerintah lobi produsen hingga cari produk alternatif obat impor

Ilustrasi - Teknisi lab menyusun botol berisi obat virus corona (COVID-19) pengembangan remdesivir di Gilead Sciences, La Verne, California, AS (18/3/2020). ANTARA/REUTERS/HO-Gilead Sciences Inc/aa.

Jakarta (ANTARA) - Pemerintah berupaya melobi produsen hingga mencari produk alternatif demi memenuhi kebutuhan tiga varian obat terapi COVID-19 impor yang jumlahnya masih terbatas di dalam negeri.

"Kami menyadari bahwa ada obat-obatan impor yang memang secara global supply juga sangat ketat," kata Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin saat menyampaikan keterangan secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Jumat.

Tiga varian obat impor yang di maksud di antaranya Remdesivir, Tocilizumab atau yang dijual dengan nama Actemra serta intravenous immunoglobulin therapy (IVig) yang dijual dengan merek dagang Gammaras.

"Obat Remdesivir yang kami impor dari India, Pakistan dan China, sekarang solusinya kita sudah negosiasi dengan Ibu Menteri Luar Negeri dibantu agar India bisa membuka kembali keran ekspornya," katanya.

Menurut Budi obat Remdesivir sudah mulai masuk ke Indonesia sebanyak 50 ribu vial sejak pekan ini dan terus ditambah secara bertahap masing-masing 50 ribu vial setiap pekan.

Baca juga: Pemerintah salurkan 300 ribu paket obat COVID-19

Baca juga: Luhut: Tindak tegas oknum "nakal" ganggu ketersediaan obat COVID-19


Budi mengatakan, pemerintah juga membuka akses ke China agar obat yang mirip dengan Remdesivir bisa dibawa masuk ke Indonesia.

Terkait kebutuhan obat Actemra, diakui Budi memang sangat sulit didapatkan di pasar global. "Kami juga sudah bicara dengan CEO Roche selaku produsen di Swiss, memang diakui ada global supply yang ketat," katanya.

Untuk itu pemerintah berupaya mencari beberapa alternatif obat yang mirip dengan produk Actemra di Amerika Serikat demi memenuhi kebutuhan dalam negeri yang masih terbatas.

"Kebetulan Amerika Serikat pada saat gelombang pertama dan kedua memiliki stok obat yang cukup banyak. Mudah-mudahan dalam waktu dekat kita bisa membawa ke Indonesia obat alternatif yang mirip dengan Actemra," katanya.

Budi menambahkan, pemerintah juga berupaya mencari tambahan obat Gammaraas yang diproduksi di China.

"Sekarang kita sudah bisa mendatangkan sekitar 30 ribu vail, tapi kita membutuhkan lebih banyak lagi dan sekarang dengan dibantu oleh Kementerian Luar Negeri kita terus melakukan lobi-lobi dengan Pemerintah China," katanya.

Baca juga: Pemerintah ingin bangun industri yang tak bergantung pada satu negara

Baca juga: GP Farmasi jamin stok obat meski ada COVID-19
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Zita Meirina
COPYRIGHT © ANTARA 2021