Promosi wisata religi bisa dikemas dengan pendekatan "storytelling"

Promosi wisata religi bisa dikemas dengan pendekatan

Ilustrasi - Pengunjung di Masjid Raya Baiturrahman, Banda Aceh, Aceh, pada 22 Maret 2021. ANTARA/Arnidhya Nur Zhafira.

Jakarta (ANTARA) - Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggaraan Kegiatan Kementerian Pariwisata & Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) RI Rizki Handayani Mustafa mengatakan pentingnya pendekatan bercerita (storytelling) untuk mempromosikan wisata religi di Indonesia menjadi lebih menarik.

"Potensi wisata religi Indonesia sangat besar. Misalnya, wisata penyebaran Islam dari Sabang-Merauke, dikemas dengan storytelling, narasi. Kami berharap pemerintah daerah untuk aktif dan menggali itu, dan kami dari Kemenparekraf hadir memfasilitasi," kata Rizki dalam diskusi virtual, Senin.

Baca juga: Asosiasi sebut 350 travel terdampak pembatalan pemberangkatan haji

Ada pun Rizki menyinggung soal upaya kementeriannya bersama sejumlah objek seperti masjid yang memiliki nilai sejarah tinggi di dalamnya, seperti contohnya adalah Masjid Istiqlal di Jakarta.

"Ada beberapa strategi yang kita lakukan, seperti kerja sama dengan Masjid Istiqlal bagaimana untuk mengembangkan wisata religi, bagaimana Islam itu tak hanya untuk umat Muslim karena banyak hal yang bisa kita kembangkan," kata dia.

"Itu juga kenapa kami kerja sama dengan Istiqlal untuk membuat narasi, karena mereka punya sejarah dan keberagaman toleransi yang luar biasa," imbuh Rizki.

Menambahkan, ia mengatakan bentuk wisata religi pun bermacam-macam. Mulai dari mengunjungi tempat-tempat bernuansa Islami, ziarah sesuai syariah Islam, halal tourism, hingga wisata alam yang menawarkan keheningan tersendiri bagi pengunjungnya untuk mendekatkan diri kepada Sang Pencipta.

"Berwisata alam -- keheningan alam bisa menjadi momen religi juga. Dan ini, kalau bisa dibuatkan cerita, menurut saya, sudah jadi bagian wisata religi. Bagaimana membuat perjalanan itu mengisi batin, karena wisata religi itu lebih ke mengisi pikiran dan hati," kata Rizki.

"Itu hanya bisa dilakukan kalau kita ada kontennya, dan itu banyak sekali. Tour operator kita banyak membuat itu, dan harus diperkenalkan. Kami mengimbau asosiasi wisata religi untuk memulai, karena potensi kita besar sekali," imbuhnya.

Selain itu, Rizki mengatakan pihaknya juga melakukan berbagai macam strategi termasuk pengembangan acara (event) di hari raya keagamaan, hingga virtual travelling.

"Kami memdukung untuk kegiatan virtual lokal, agar nantinya mampu meningkatkan pergerakan antardestinasi. Namun, storytelling ini tetap penting. Membuat paket wisata yang ada ceritanya, dan ini sedang kita dorong," pungkasnya.

Baca juga: Bagaimana dampak pembatalan terhadap penyedia travel Umrah & Haji?

Baca juga: Menengok potensi bisnis travel haji & umrah pasca-vaksinasi
Pewarta : Arnidhya Nur Zhafira
Editor: Alviansyah Pasaribu
COPYRIGHT © ANTARA 2021