Luhut: Indonesia - AS kerja sama capai nol emisi karbon

Luhut: Indonesia - AS kerja sama capai nol emisi karbon

Industri penghasil emisi. ANTARA/Pixabay/Nikola Belopitov/aa.

Jakarta (ANTARA) - Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan menyambut baik dukungan Amerika Serikat (AS) dalam upaya Indonesia untuk bisa mencapai nol emisi karbon (net zero carbon emission).

Hal itu disampaikan Luhut saat membuka Forum Perubahan Iklim Tri Hita Karana dengan tema Aligning for Climate Action on Road to Net Zero Carbon Emission secara virtual, Rabu (23/6) malam.

"Mari saya mulai dengan berterima kasih kepada John Kerry (Utusan Khusus Presiden AS Perubahan Iklim) atas dukungan pribadinya dan dukungan pemerintah AS kepada usaha-usaha kami. Forum bersama ini menunjukkan komitmen kedua negara (AS-Indonesia) untuk meningkatkan pencegahan perubahan iklim dalam mencapai nol emisi karbon untuk kesejahteraan manusia dan planet," katanya dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Luhut memaparkan pemerintah Indonesia sangat menghargai dukungan dan menyambut baik kerja sama dengan AS dalam topik-topik penting tersebut, termasuk kolaborasi demi keberlanjutan.

Ia menjelaskan Indonesia telah membuat beberapa pengumuman penting tentang ambisi iklim dalam beberapa minggu terakhir, salah satunya terkait pengumuman nol emisi karbon pada tahun 2060 dengan syarat dan ketentuan yang berlaku.

"Kemudian PLN, sebagai perusahaan energi milik negara, telah memutuskan untuk memoratorium pembangunan baru pembangkit listrik bertenaga batu bara dalam perencanaan mereka mulai tahun 2023. Selain itu, kerja sama dalam pengembangan dan penerapan teknologi energi terbarukan akan menjadi prioritas utama dalam hubungan AS-Indonesia ini," katanya.

Kolaborasi itu, lanjut Luhut, dapat mencakup topik pemodelan energi, transisi dari energi fosil, teknologi energi bersih, dan energi bersih tingkat lanjut melalui kolaborasi G to G (Government to Government) dan lebih luas lagi terkait dengan investasi dan kemitraan.

Dalam langkah konkret, salah satunya melalui kolaborasi dalam perencanaan dan pelaksanaan percontohan sub-nasional untuk nol emisi karbon bersih misalnya di kawasan Bali.

"Dalam semua upaya ini, kebutuhan akan perubahan dan inovasi teknologi serta pembiayaan transisi adalah yang utama. Perubahan teknologi kewirausahaan dan keuangan yang inovatif sebagai kunci untuk mengubah ekonomi kita menjadi Natural Capital Carbon and Communities Superpower. Kami berencana untuk meluncurkan pusat keunggulan dalam teknologi dan keuangan selama masa G20 di tahun 2022," imbuh Luhut.

Ia menambahkan pemerintah Indonesia pun kini mencari sektor swasta untuk inovasi teknologi melalui kewirausahaan sektor swasta.

"Kami juga membutuhkan sebuah pusat seperti centre of future knowledge yang akan fokus pada peran alih teknologi, R&D oleh investasi swasta dengan akademisi dan penelitian global terkemuka dalam mewujudkan masa depan yang bahagia dan berkelanjutan di Indonesia," pungkasnya.

Luhut juga mengajak AS untuk bersama-sama membawa isu lingkungan dan perubahan iklim ke G20 pada tahun 2022.

Forum Perubahan Iklim Tri Hita Karana dihadiri oleh Utusan Khusus Presiden AS Perubahan Iklim John Kerry, Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Siti Nurbaya, Presiden Conference of Parties 26 (COP26) Alok Sharma, Direktur Pelaksana, Kebijakan dan Kemitraan Pembangunan Bank Dunia Mari Elka Pangestu, Wakil Menteri Luar Negeri Mahendra Siregar, Deputi Bidang Koordinasi Pengelolaan Lingkungan dan Kehutanan Kemenko Marves Nani Hendiarti, serta beberapa pejabat terkait lainnya.

Baca juga: IESR: Indonesia mampu capai nol emisi karbon pada 2050
Baca juga: Pemerintah terus dorong target bebas emisi karbon lebih cepat
Baca juga: Bappenas siapkan beberapa skenario Indonesia capai nol emisi karbon
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Faisal Yunianto
COPYRIGHT © ANTARA 2021