Profesor Erickson: China kerahkan milisi maritim di Laut China Selatan

Profesor Erickson: China kerahkan milisi maritim di Laut China Selatan

Profesor Andrew Erickson dalam diskusi virtual "Penilaian Kebijakan Tiongkok atas Laut China Selatan", Jakarta, Rabu. (9/6/2021) (Antara / Azis Kurmala)

Jakarta (ANTARA) - Andrew Erickson, profesor di China Maritime Studies Institute di US Naval War College mengatakan China mengerahkan milisi maritim untuk menjaga dan mengawasi pengembangan pos-pos terpencil China di Laut China Selatan.

"Milisi maritim di kota Sansha (kota yang dibangun China di gugusan kepulauan kecil di Laut China Selatan-red) yang berprofesi sebagai nelayan melakukan rotasi setiap 45 hingga 90 hari sekali ke pos-pos terluar China di Laut China Selatan," ujar Andrew Erickson dalam diskusi virtual "Penilaian Kebijakan Tiongkok atas Laut China Selatan", Jakarta, Rabu.

Berdasarkan pengamatan, ia mengatakan unit milisi maritim di kota Sansha bersifat full time atau permanen dan bukan paruh waktu. Milisi tersebut dioperasikan dari Provinsi Hainan.

Andrew mengatakan pihaknya berhasil mendokumentasikan ketika milisi maritim di kota Sansha itu diterjunkan pemerintah China dalam insiden yang terjadi di perairan Filipina.

Pemerintah Filipina mengeluarkan foto resmi terkait insiden tersebut dan terlihat nomor lambung kapal dari milisi maritim tersebut, kata dia.

"Milisi maritim itu sendiri bagian resmi dari angkatan bersenjata Republik Rakyat China. Milisi maritim memiliki jumlah kapal yang sangat banyak dan mereka memilik unit elit di dalammnya dan unit elit ini yang ditugasi untuk bertanggung jawab atas insiden di wilayah Laut China Selatan yang disengketakan," kata dia.

Andrew menekankan bahwa ada dua fungsi dari milisi tersebut yaitu pertama, menjaga dan melindungi hak-hak Republik Rakyat China di masa damai. Kedua, bersiap untuk terjun dalam peperangan dan memenangi perang tersebut di masa perang.

"Dari penelitian kami adalah informasi yang kami dapatkan dari sumber lainnya yang terbuka terkait penekanan China dalam hal kehadiran kapal-kapal ikan di wilayah Laut China Selatan yang disengketakan. Hasil dari kajian kami bahwa kapal ikan China mendapatkan subsidi penuh dan insentif terhadap aktivitas yang mereka lakukan di wilayah yang disengketakan itu," kata Andrew.

Baca juga: Filipina minta nelayan abaikan larangan China untuk memancing di LCS
Baca juga: Pakar: CoC bagian pengelolaan peredaan konflik di Laut China Selatan
Baca juga: China sebut kapal perang AS secara ilegal masuki wilayahnya di LCS
Pewarta : Azis Kurmala
Editor: Atman Ahdiat
COPYRIGHT © ANTARA 2021