Hari Laut, DFW: Perekonomian global tidak akan ada tanpa laut

Hari Laut, DFW: Perekonomian global tidak akan ada tanpa laut

Ilustrasi - Terumbu karang, salah satu kekayaan alam bahari yang dimiliki Indonesia di kawasan perairan nasional. ANTARA/HO-KKP

Jakarta (ANTARA) - Koordinator Nasional Destructive Fishing Watch (DFW) Indonesia, Moh Abdi Suhufan, dalam rangka merayakan Hari Laut Sedunia pada tanggal 8 Juli 2021 mengingatkan pentingnya menjaga laut berkelanjutan karena tidak akan ada perekonomian global tanpa laut.

"Ekonomi global tidak akan ada tanpa laut. Sekitar 90 persen dari semua barang yang diperdagangkan secara internasional bepergian dengan kapal laut," kata Moh Abdi Suhufan kepada Antara di Jakarta, Senin.

Untuk itu, Hari Laut Sedunia seharusnya menjadi momentum bagi semua negara di dunia untuk melihat dampak pembangunan ekonomi, perlindungan lingkungan dan kesejahteraan sosial menuju titik keseimbangan.

Ia mengingatkan pula pentingnya beragam aspek dari laut, seperti terumbu karang global yang diperkirakan menyumbang 11,5 miliar dolar AS per tahun untuk pariwisata global, memberi manfaat kepada lebih dari 100 negara dan menyediakan makanan dan mata pencaharian bagi masyarakat lokal.

Bagi Indonesia, lanjutnya, Hari Kelautan Sedunia tahun menjadi tahapan untuk memperkokoh peran Indonesia sebagai negara maritim.

Baca juga: DFW: Revitalisasi hukum adat dalam kelola sumber daya laut nasional

"Artinya, mainstream (arus utama) pembangunan mesti berorientasi kelaut, bukan saja pembangunan ekonomi tetapi pembangunan sosial budaya dan karakter bangsa," katanya.

Abdi menegaskan, Hari Laut Sedunia seharusnya tidak hanya menjadi perayaan seremonial, upacara dan kemudian dilupakan, tapi mesti terwujud dalam cetak biru pembangunan menuju Indonesia 2045.

Sebelumnya, Anggota Komisi IV DPR RI Johan Rosihan menyatakan bahwa anggaran sektor kelautan dan perikanan nasional harus ditambah secara signifikan, mengingat anggaran Kementerian Kelautan dan Perikanan cenderung terus menurun.

"Sejak tahun 2015 anggaran KKP sebesar Rp10,65 triliun, lalu tahun 2017 turun menjadi Rp9,14 triliun, kemudian pada 2019 turun drastis menjadi Rp5,51 triliun, dan tahun 2020 lalu hanya berkisar Rp5,26 triliun," kata Johan Rosihan dalam rilis di Jakarta, Jumat.

Menurut Johan, anggaran yang rendah berdampak pada rendahnya performa kinerja dari KKP untuk menggarap potensi perikanan kita yang luar biasa.

Selain itu, potensi kelautan dan perikanan Indonesia sangat luar biasa, yaitu memiliki luas perairan seluas 6,4 juta kilometer persegi dan luas landas kontinen 2,8 juta kilometer persegi serta panjang garis pantai 108.000 km.

Baca juga: DFW: Kawal regulasi sektor kelautan perikanan turunan UU Cipta Kerja

Ia juga mengingatkan bahwa terdapat potensi lestari sumber daya ikan laut Indonesia diperkirakan mencapai 12,54 juta ton per tahun yang tersebar di seluruh wilayah perairan Nusantara.
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021