Panel India sebut perlu respons global tahan varian lebih menular

Panel India sebut perlu respons global tahan varian lebih menular

Dokumentasi - Sejumlah orang yang terpapar COVID-19 antre menunggu untuk mendapatkan kamar perawatan di luar Rumah Sakit Guru Teg Bahadur, di tengah merebaknya wabah SARS-CoV-2 di New Delhi, India, Jumat (23/4/2021). ANTARA FOTO/REUTERS/Danish Siddiqui/wsj.

New Delhi (ANTARA) - Varian Virus Corona yang pertama kali ditemukan di India sangat menular dan dapat menjangkit mereka yang telah terinfeksi sebelumnya atau baru menerima vaksinasi sebagian, kata sebuah panel ilmuwan-ilmuwan Pemerintahan India dalam sebuah laporan yang dipublikasikan pada Jumat.

Varian yang disebut sebagai Varian Delta oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) itu, diperkirakan 50 persen lebih mudah ditularkan dibandingkan dengan varian Virus Corona yang pertama kali ditemukan di Inggris, kata para peneliti dari Pusat Pengendalian Penyakit Nasional dan Konsorsium Genetik SARS-CoV-2.

Mereka memperingatkan bahwa “infeksi sebelumnya... dan vaksinasi sebagian tak cukup menghambat penyebarannya, sebagaimana terlihat di Delhi, dan respons kesehatan publik akan dibutuhkan secara global untuk menahannya.”

Varian tersebut telah menyebar ke lebih dari 50 negara, termasuk Inggris, di mana Perdana Menteri Boris Johnson telah memperingatkan bahwa penyebarannya yang begitu cepat dapat berdampak pada pembukaan kembali ekonomi.

Jumlah kasus baru di India terus menurun di kota-kota besar selama beberapa minggu terakhir, tetapi daerah pedesaan tetap berada dalam cengkeraman gelombang infeksi kedua yang membawa bencana.

Para ahli telah memperingatkan bahwa negara tersebut perlu mempercepat vaksinasi untuk menghindari lonjakan infeksi di masa depan, di antara populasinya yang berjumlah lebih dari 1,3 miliar orang.

Dikecam karena peluncuran vaksin yang lambat, Pemerintahan Perdana Menteri Narendra Modi telah melakukan pembicaraan dengan produsen vaksin asing utama untuk meningkatkan pasokan, bahkan ketika produsen dalam negeri berjuang untuk meningkatkan produksi.

Pada Kamis, Amerika Serikat menyusun rencana untuk berbagi 25 juta surplus dosis vaksin COVID-19 dengan berbagai negara termasuk India.

Para ahli dan pejabat pemerintah mengatakan vaksinasi adalah kunci untuk membuka bagian-bagian negara di mana penguncian telah diberlakukan selama berminggu-minggu.

Beberapa negara bagian seperti Delhi dan negara bagian Gujarat yang merupakan kampung halaman Modi secara bertahap melonggarkan pembatasan.

Di Gujarat, pihak berwenang mengizinkan toko-toko dan tempat komersial lainnya tetap buka lebih lama mulai hari Jumat, Pemerintah Gujarat mengumumkan.

India pada Jumat melaporkan 132.364 infeksi Virus Corona baru selama 24 jam terakhir, sementara angka kematian naik sebanyak 2.713 kasus - angka terendah dalam lebih dari sebulan.

Penghitungan infeksi mencapai 28,6 juta, angka tertinggi kedua di dunia, dan jumlah kematian 340.702, kata Kementerian Kesehatan.

Para ahli percaya jumlah sebenarnya jauh lebih tinggi, karena penghitungan resmi hanya mencatat kasus-kasus di mana orang telah dites, dan di India banyak orang yang belum dites, terutama di daerah pedesaan, tempat di mana sebanyak dua pertiga dari populasi India tinggal.

Sumber: Reuters
Baca juga: Menkes: Penyakit "jamur hitam" belum terdeteksi di Indonesia
Baca juga: India akan tingkatkan vaksinasi COVID-19 tiga kali lipat per hari

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021