Gaya hidup sehat dan deteksi dini penting cegah hipertensi

Gaya hidup sehat dan deteksi dini penting cegah hipertensi

Ilustrasi - Hypertensi. ANTARA/Pixabay.

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis jantung dan pembuluh darah dari Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung, Badai Bhatara Tiksnadi, menekankan pentingnya Anda menerapkan gaya hidup sehat sekaligus melakukan deteksi dini untuk mencegah terkena hipertensi.

Gaya hidup sehat ini mencakup membatasi konsumsi garam yakni tidak melebihi 1 sendok teh per hari, melakukan aktivitas fisik teratur seperti jalan kaki, bersepeda selama 30 menit per hari minimal lima kali seminggu, menerapkan diet bergizi seimbang, mempertahankan berat badan ideal, tidak merokok dan menghindari asap rokok, serta menghindari minum minuman beralkohol.

"Harus lebih banyak sayur dan buah. Semakin enak dan gurih makanan, harus dicurigai kurang baik untuk kesehatan. Aktivitas fisik harus teratur kalau bisa setiap hari, hindari asap rokok, alkohol," ujar dia dalam sebuah webinar kesehatan tentang hipertensi, Kamis.

Baca juga: Jumlah penderita hipertensi makin tinggi, ini cara pengendaliannya

Badai mengungkapkan, data di Indonesia yang melibatkan sekitar 13000 orang partisipan menunjukkan sebanyak 32 persen partisipan ternyata tidak tahu tekanan darahnya. Banyak dari mereka yang bahkan tidak mengukur tekanan darahnya dalam setahun terakhir dan sekitar 14 persen orang dengan tekanan darah tinggi yang berobat.

Temuan data ini, menurut dia semakin menunjang bukti hipertensi yang tidak memunculkan keluhan kecuali sudah berat, sehingga penyakit ini perlu diketahui lebih awal melalui deteksi dini.

Badai menekankan pentingnya pengukuran tekanan darah sesuai panduan berulang kali, termasuk di rumah melalui metode CERAMAH atau cek tekanan darah di rumah, selain mengandalkan pemeriksaan di klinik atau fasilitas kesehatan.

Baca juga: Waspada, kaum muda juga bisa kena hipertensi

"Pengukuran tekanan sesuai panduan, kontrol sehingga bisa hidup lebih lama. Pengukuran menggunakan alat yang sudah tervalidasi sehingga akurat, dilakukan berulang. Kalau sekali kurang akurat, kalau di klinik bisa cemas bisa terjadi pengukuran yang tidak ideal karena baru naik tangga ke lantai dua misalnya, karena suasana gaduh, maka pengukuran harus berulang," tutur Badai.

Saat melakukan CERAMAH, usahakan tubuh dengan posisi rileks selama 2-5 menit. Lakukan pemeriksaan dilakukan 2-3 kali dengan jangka waktu satu menit untuk mendapatkan data variasi tekanan darah.

Terkait alat ukur tekanan darah yang digunakan, sebaiknya yang menggunakan manset dililitkan pada lengan dan alat tervalidasi.

"Pengukuran tekanan darah di rumah mampu menegakkan diagnosis hipertensi yang tidak bisa satu kali pengukuran, terutama hipertensi terselubung, bisa memantau variasi tiba-tiba naik atau rendah, menilai efektivitas pengobatan, dosis dan deteksi resistensi obat," ujar Badai.

Rerata tekanan darah saat di rumah untuk diagnosis hipertensi yakni di atas 135/85 mmHg.

Hipertensi yakni saat tekanan darah di atas 140/90 mmHg yang tidak terkontrol bisa menempatkan penderitanya pada berbagai masalah kesehatan seperti stroke hingga masalah jantung. Pada kondisi pandemi COVID-19 saat ini, mereka dengan penyakit ini rentan terkena dan mengalami perburukan ketimbang mereka tanpa hipertensi.

Baca juga: Mengapa orang dengan hipertensi rentan kena COVID-19?

Baca juga: Stres dan kurang gerak, alasan banyak milenial alami hipertensi
Pewarta : Lia Wanadriani Santosa
Editor: Suryanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021