PKB Jateng: Pemilu 2024 sulit dan belum bisa dibaca

PKB Jateng: Pemilu 2024 sulit dan belum bisa dibaca

Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah KH. Yusuf Chudlori menyampaikan orasi politik pada Muskercab 1 DPC PKB Temanggung di Gedung Juang 45 Temanggung. (ANTARA/Heru Suyitno)

Temanggung (ANTARA) - Ketua Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Jawa Tengah KH. Yusuf Chudlori (Gus Yusuf) menyampaikan bahwa Pemilu 2024 merupakan pemilu yang sulit dan belum bisa dibaca.

Gus Yusuf di  KabupatenTemanggung, Jawa Tengah, Selasa, mengatakan pada Pemilu 2024 ada agenda politik daerah dan nasional dilakukan secara serentak meskipun belum ditentukan tanggalnya.

"Pemilu legislatif kemungkinan bersamaan dengan pilpres yang wacananya digelar pada bulan Februari 2024. Setelah itu pada bulan November 2024 akan dilaksanakan pilkada serentak," katanya di Muskercab 1 DPC PKB Temanggung di Gedung Juang 45 Temanggung.

Menurut dia, Pemilu 2024 sangat menentukan, kalau PKB siap bekerja keras dan bekerja cerdas untuk memenangkan Pemilu Legislatif 2024, maka Pilkada 2024 sudah di depan mata dan akan ringan melangkah.

Baca juga: PKB Jateng terima kunjungan silaturahmi Partai Demokrat dan PKS

"Sekali dayung dua pulau dapat dilalui, karena begitu Februari 2024 menang pemilu, semangat kader masih menyala-nyala, tinggal satu kali genjot lagi maka bupati bisa diraih bersama-sama," katanya

Oleh karena itu, menurut dia, pemilihan legislatif menjadi ladang menarik mendapatkan jumlah suara, karena kemenangan pada pemilu legislatif akan mendongkrak suara pada pilpres dan pilkada.

Berdasarkan hasil survei internal terdapat dua kategori pemilih, yakni pemilih rasional yang memilih partai karena alasan keberpihakan ada 47,9 persen setara dengan 95,8 juta pemilih.

Kemudian pemilih tradisional yang memilih mungkin karena secara turun-temurun memilih partai tertentu. Pemilih tradisional itu ada 30,4 persen setara 56 juta pemilih.

Baca juga: Fraksi PKB DPRD Jateng dorong adanya Perda Pesantren

"Artinya peluang besar yang masih terbuka untuk direbut adalah pemilih rasional, pasarnya masih terbuka lebar, bagaimana PKB mengambil simpati masyarakat untuk memilih pada 2024," katanya

Namun jika melihat PKB, katanya, yang memilih PKB malah justru terbalik. Pemilih tradisional ada 74,1 persen, kemudian yang memilih karena kerja politik atau keberpihakan kepada rakyat baru 10,2 persen.

"Saya berharap maju bersama dan bekerja keras untuk bisa mengambil hati dan simpati rakyat agar menyumbang suaranya. Untuk itu PKB harus selalu hadir di tengah masyarakat, karena ada dua hal sederhana, yakni mengambil kaidah fiqih dengan menjaga pemilih tradisional, kemudian menjaring pemilih rasional," katanya.

Ia menyampaikan untuk survei secara nasional posisi PKB berada di tiga besar, yakni setelah PDI Perjuangan dan Partai Gerindra.

Baca juga: PWNU Jateng membaiat legislator PKB

"Survei secara nasional PKB berada di tiga besar, PDI Perjuangan pada posisi pertama, dan Gerindra posisi kedua. Kemudian urutan keempat dan kelima adalah Golkar dan Demokrat," katanya.

Ketua DPC PKB Temanggung Muh. Amin mengatakan PKB merupakan partai yang terbuka, modern, dan dekat dengan rakyat. Dalam kepengurusan saat ini pihaknya akan memaksimalkan pengkaderan yang terorganisasi dengan baik sampai di tingkat ranting.

"Kami akan terus meraih simpati dan kepercayaan warga Nahdliyin sebagai saluran aspirasi politik," katanya.

Ia menuturkan PKB Temanggung menargetkan bisa mengembalikan kejayaan seperti pada Pemilu 2009, saat itu PKB menempatkan sembilan wakil di DPRD Temanggung. Nantinya para calon anggota legislatif akan memaksimalkan potensi di setiap daerah pemilihan.

"Kalau saat ini PKB memiliki 7 wakil rakyat di DPRD Kabupaten Temanggung, pada pemilu mendatang menargetkan minimal mendapat 9 kursi," katanya. 
Pewarta : Heru Suyitno
Editor: Herry Soebanto
COPYRIGHT © ANTARA 2021