Mengemas Desa Burai menjadi kawasan ekowisata berkelas dunia

Mengemas Desa Burai menjadi kawasan ekowisata berkelas dunia

Wisata alam (ANTARA/Yudi Abdullah/21)

Palembang (ANTARA) - Belum lama ini, bertepatan dengan Hari Kebangkitan Nasional pada 20 Mei 2021, Desa Burai di Kabupaten Ogan Ilir, Sumatera Selatan meraih juara II, Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020, yang diselenggarakan di Labuan Bajo Nusa Tenggara Timur (NTT).

Penghargaan itu diraih setelah Kampung Warna Wani Desa Burai masuk dalam tiga besar nominasi Ekowisata Terpopuler.

Keberhasilan masyarakat Burai memanfaatkan potensi desanya patut menjadi contoh ke desa lainnya dalam provinsi yang memiliki 17 kabupaten/kota itu untuk memanfaatkan potensi desa mereka menjadi ekowisata.

Desa Burai awalnya adalah sebuah desa yang sepi, terpencil dan kumuh.  Namun dengan penataan kawasan dan pembenahan di sana-sini, desa ini setiap hari banyak dikunjungi masyarakat dari dalam dan luar Sumsel.

Kini di Desa Burai yang berjarak 48,6 km dari Palembang ibukota Propinsi Sumsel ini, telah memiliki fasilitas pendukung wisata air seperti jembatan, saung tempat makan, rumah tradisional/bangunan khas daerah pesisir, perahu, alat penangkap ikan, dan fasilitas lainnya kini menjadi tempat wisata alam.

Pengunjung/wisatawan dapat menikmati pemandangan hijau lahan rawa yang dikelilingi pohon perkebunan karet sambil memancing, bermain perahu, serta menikmati aneka kuliner khas daerah setempat.

Kemudian keberadaan bangunan tradisional khas pesisir seperti rumah bari atau rumah panggung yang dibangun di atas air berusia dari 200 tahun, tarian tradisional bumme, dan kerajinan tenun songket menambah daya tarik masyarakat dan wisatawan mengunjungi Desa Burai,

Untuk mendorong pengembangan ekowisata, Gubernur Sumsel, Herman Deru meminta Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) provinsi dan Dinas Pariwisata kabupaten/kota melakukan edukasi dan pembinaan kepada masyarakat terutama pemuda desa.

Ekowisata atau ekoturisme merupakan salah satu kegiatan pariwisata yang berwawasan lingkungan dengan mengutamakan aspek konservasi alam, aspek pemberdayaan sosial, budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal serta aspek pembelajaran dan pendidikan.

Dengan mengembangkan ekowisata diharapkan dapat mengurangi dampak negatif pada lingkungan dan budaya.

Kemudian memberi dampak positif terutama pada ekonomi masyarakat desa karena bisa dikembangkan ekonomi kreatif seperti kegiatan usaha makanan dan cinderamata, serta penginapan dan jasa lainnya.

Menurut gubernur, desa yang tersebar di 17 kabupaten/kota dalam provinsi ini memiliki banyak potensi wisata.

Jika potensi wisata yang terdapat di masing-masing desa dikembangkan atau dikemas menjadi ekowisata bisa memiliki daya tarik yang kuat bagi wisatawan lokal, nusantara dan mancanegara berkunjung ke desa.

Kegiatan pariwisata berwawasan lingkungan yang bisa dikembangkan masyarakat seperti di sentra produksi padi bisa mengembangkan paket wisata sehari menjadi petani.

Kemudian di kampung nelayan Desa Sungsang, Kabupaten Banyuasin bisa dikembangkan paket wisata sehari menjadi nelayan.

Kawasan pergunungan di Kota Pagaralam yang terdapat kebun teh dan kopi, bisa dikemas paket sehari menjadi petani kopi dan teh.

Dengan mengembangkan ekowisata, selain dapat memanfaatkan keunggulan desa, juga bisa mendorong pemberdayaan sosial, budaya dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal serta sarana pembelajaran atau sekolah alam.

Kerja keras

Buah kerja keras selama tiga tahun terakhir yang dilakukan secara bersama-sama oleh masyarakat Desa Burai dan dukungan dari Pemerintah Kabupaten Ogan Ilir serta bantuan dana 'Corporate Social Responsibility-CSR' atau tanggung jawab sosial sejumlah perusahaan, desa yang terkesan kumuh ditata menjadi destinasi wisata menarik.

Keberhasilan masyarakat Desa Burai memanfaatkan potensi desa menjadi destinasi menarik dan banyak dikunjungi mengantarkan desa tersebut
meraih Anugerah Pesona Indonesia (API) Award 2020 sebagai ekowisata terpopuler kedua nasional.

Penghargaan di bidang pariwisata API Award 2020 kepada masyarakat Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir dijadwalkan diserahkan langsung Menteri Pariwsata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno pada Rabu (26/5), namun batal karena kondisi zona merah COVID-19.

Kondisi wilayah Kota Palembang dan beberapa daerah lainnya masuk zona merah atau berisiko tinggi penularan COVID-19 menjadi penyebab Menteri Sandiaga membatalkan kunjungan kerjanya ke Desa burai dan berupaya menjadwalkan ulang kunjunganya ke desa tersebut.

Dengan batalnya Menparekraf Sandiaga, acara penyerahan piala API Award 2020 yang telah dipersiapkan dengan matang tetap dilakukan oleh Bupati Ogan Ilir, Panca Wijaya Akbar.

Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumsel, Aufa Syahrizal mengatakan, untuk menyambut kedatangan Menparekraf Sandiaga, masyarakat Desa Burai, Kecamatan Tanjung Batu, Kabupaten Ogan Ilir, telah melakukan berbagai persiapan.

"Melihat masyarakat telah melakukan persiapan acara penerimaan penghargaan dari Menparekraf itu secara maksimal, maka diambil kebijakan acara yang dijadwalkan pada 26 Mei 2021 ini tetap dilaksanakan di Desa Burai dengan konsep penyerahan piala API Award 2020 kepada masyarakat Burai oleh Bupati Panca Wijaya," ujarnya.

Menparekraf Sandiaga Uno berkeinginan kuat untuk melakukan kunjungan ke Desa Burai guna memberikan motivasi kepada masyarakat untuk terus mengembangkan potensi pariwisata dan ekonomi kreatif.

Bukti keinginan kuat melakukan kunjungan ke Desa Burai, Menparekraf berupaya menjadwalkan ulang kunjungan kerjanya pada 19 Juni 2021 atau menyesuaikan perkembangan kondisi zona merah COVID-19.

Ciptakan Tempat Wisata

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Sumatera Selatan mendorong masyarakat di provinsi setempat menciptakan tempat wisata baru dengan memanfaatkan potensi alam, seni dan budaya daerah.

Akhir-akhir ini banyak tempat wisata yang diciptakan masyarakat baik secara berkelompok maupun perorangan.

Selain Kampung Warna Warni yang berhasil dikembangkan masyarakat Desa Burai, Kabupaten Ogan Ilir menjadi ekowisata terpopuler pada tahun 2020, tempat wisata tersebut juga bisa diciptakan atau dikembangkan di tempat lain.

Sebagai contoh, di Kota Palembang memiliki banyak potensi wisata di wilayah kelurahan yang dapat dikembangkan, seperti kawasan permukiman penduduk di daerah aliran Sungai Musi dengan keberadaan rumah adat dan perairan di sekitarnya dapat dikemas menjadi ekowisata yang nyaman untuk dikunjungi wisatawan lokal dan mancanegara.

Dengan adanya tempat wisata yang diciptakan dan dikembangkan oleh masyarakat, diharapkan semakin banyak objek wisata yang dapat ditawarkan kepada wisatawan agar mereka tertarik berkunjung.

Selain mendorong tumbuhnya tempat wisata baru, pihaknya juga terus berupaya melakukan pembenahan sejumlah objek wisata andalan di ibu kota Provinsi Sumsel itu.

Objek wisata andalan, seperti Jembatan Ampera, Benteng Kuto Besak, Bukit Seguntang, dan objek lainnya perlu dibenahi sehingga bisa lebih menarik untuk dikunjungi.

Untuk membenahi dan menciptakan objek wisata baru di provinsi ini, dilakukan koordinasi dengan Dinas Pariwisata kabupaten/kota serta meminta dukungan Kemenparekraf.
Baca juga: Wamen LHK: Ekowisata dapat jadi penggerak ekonomi hijau Indonesia
Baca juga: Aceh Jaya kembangkan ekowisata mangrove 300 hektare
Baca juga: Sandiaga Uno bakal bikin spot instagramable di ekowisata mangrove
Pewarta : Yudi Abdullah
Editor: Royke Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2021