KSP: Sinyal pemulihan ekonomi terus menguat

KSP: Sinyal pemulihan ekonomi terus menguat

Dokumentasi - Deputi III Kepala Staf Kepresidenan Panutan S. Sulendrakusuma, Rabu (5/5/2021). ANTARA/HO-KSP/pri.

Jakarta (ANTARA) - Kantor Staf Presiden (KSP) menyebut sinyal pemulihan ekonomi Indonesia semakin jelas terlihat, terutama dari catatan surplus perdagangan yang mencapai 2,19 miliar dolar AS per April 2021.

Deputi III KSP Panutan Sulendrakusuma mengatakan jika dilihat dari mitra dagang, Indonesia menikmati surplus perdagangan dengan Amerika Serikat hingga 1,2 miliar dolar AS.

"Pemerintah optimistis kondisi perekonomian Indonesia akan terus mengalami perbaikan yang signifikan," ujarnya melalui keterangan tertulis di Jakarta, Senin.

Selain surplus perdagangan dengan Amerika, Indonesia juga menikmati surplus perdagangan dari Filipina (554 juta dolar AS) dan India (439,9 juta dolar AS). Namun dengan beberapa negara lain mengalami defisit, seperti dengan China (652,1 juta dolar AS), Australia (418,3 juta dolar AS), dan Thailand (248,1 juta dolar AS).

Panutan merinci surplus perdagangan Indonesia tidak lepas dari kinerja ekspor yang terus membaik. Pada April 2021 total ekspor Indonesia mencapai 18,48 miliar dolar AS atau naik sebesar 0,69 persen dari posisi Maret 2021. Sementara jika dibandingkan dengan April 2020, total ekspor pada April 2021 meningkat 51,94 persen dengan rincian ekspor nonmigas meningkat 51,08 persen, sedangkan ekspor migas meningkat 69,60 persen.

Baca juga: BPS: Neraca perdagangan RI surplus 2,19 miliar dolar pada April 2021

Berdasarkan kelompok komoditas, ekspor nonmigas April 2021 mencapai 17,52 miliar dolar AS, sedangkan ekspor migas mencapai 960 juta dolar AS.

"Ini membuktikan konsistensi langkah pemerintah untuk memulihkan ekonomi di tengah ketidakpastian dan dinamika pemulihan ekonomi global," kata Panutan.

Peningkatan terbesar ekspor nonmigas April 2021 terhadap Maret 2021 terjadi pada komoditas besi dan baja (HS72) sebesar 246,2 juta dolar AS atau naik 17,50 persen. Sedangkan penurunan terbesar terjadi pada komoditas lemak dan minyak hewan/nabati (HS15) sebesar 398,3 juta dolar AS atau turun 13,81 persen.

Sepanjang periode Januari-April 2021 ekspor terbesar adalah ke China dengan nilai 3,93 miliar, dolar AS, ke Amerika Serikat (2,03 miliar dolar AS) dan Jepang (1,32 miliar dolar AS). Kontribusi ekspor ke tiga negara tersebut mencapai 41,56 persen terhadap total nilai ekspor. Sementara itu ekspor ke ASEAN dan Uni Eropa berturut-turut sebesar 3,59 miliar dolar AS dan 1,39 miliar dolar AS.

Baca juga: BI: Neraca Pembayaran RI surplus 4,1 miliar dolar pada triwulan I 2021

Panutan mengatakan sinyal pemulihan ekonomi terus menguat dari kenaikan impor bahan baku/penolong dan barang modal. Pada April 2021 impor barang bahan baku/penolong naik 33,24 persen dan impor barang modal meningkat 11,55 persen dibandingkan dengan bulan April 2020.

"Peningkatan impor yang tinggi pada kelompok bahan baku/penolong dan barang modal menunjukkan pemulihan ekonomi yang cukup buat pada triwulan II/2021 ini," ujarnya.

Sebagai catatan pada April 2021 total impor mencapai 16,29 miliar dolar AS. Jika dibandingkan dengan April 2020, total impor meningkat 29,93 persen dengan rincian impor nonmigas meningkat 22,10 persen sedangkan impor migas meningkat 136,86 persen.

Baca juga: Sri Mulyani: Ekonomi global dibayangi perbedaan kecepatan pemulihan

 
Pewarta : Rangga Pandu Asmara Jingga
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021