Pakar dorong pengawasan pelaku perjalanan dari luar negeri diperketat

Pakar dorong pengawasan pelaku perjalanan dari luar negeri diperketat

Prof. Tjandra Yoga Aditama, sosok yang pernah menjabat Direktur Jenderal P2P Kementerian Kesehatan Republik Indonesia dan Kepala Balitbangkes dan kini Direktur Penyakit Menular WHO Regional Asia Tenggara di New Delhi, India.  (ANTARA/Dokumen Pribadi)

Jakarta (ANTARA) - Guru besar paru Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) Tjandra Yoga Aditama mendorong otoritas terkait untuk memperketat pengawasan pelaku perjalanan dari luar negeri menyusul temuan eksodus penduduk India di Indonesia.

"Semua yang masuk Indonesia, termasuk dari India, tentu harus menjalani karantina dahulu sebelum dapat beraktivitas," katanya melalui pesan singkat yang diterima di Jakarta, Jumat.

Menurut Tjandra pelaksanaan karantina bagi pendatang dari luar negeri harus terus berlangsung dengan ketat sesuai aturan yang berlaku. Jika ada yang dicurigai sakit, maka harus ditangani sesuai prosedur serta kemungkinan kontaknya ditelusuri secara ketat.

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara itu mendorong agar pengawasan pendatang secara ketat juga dilakukan pada beberapa waktu mundur ke belakang.

"Singapura misalnya, mereka menutup penerbangan dari sebagian negara Eropa pada pertengahan Desember 2020 karena informasi varian baru B117, tapi lalu mereka juga menelusuri siapa saja yang sudah datang sejak pertengahan November 2020. Dengan cara ini maka Singapura waktu itu dapat menemukan varian baru B117 di negaranya," katanya.

Tjandra menambahkan surveilans bukan hanya dilakukan pada mereka yang sekarang ini mendarat dari India, tapi juga sejak sebulan ke belakang pada pertengahan Maret 2021.

Tjandra juga menyarankan agar pihak terkait melakukan pemeriksaan whole genome sequencing atau pengurutan keseluruhan genom pada penduduk yang dicurigai menderita COVID-19.

"Misalnya sekarang sakit COVID-19, padahal baru datang dari negara-negara yang melaporkan peningkatan kasus yang mungkin berhubungan dengan mutasi baru. Peningkatan jumlah pemeriksaan whole genome sequencing menjadi kunci utama untuk identifikasi kemungkinan varian dan mutasi baru yang mungkin ada di negara kita," katanya.

Tjandra mengatakan agar pengawasan di Indonesia harus terus ditingkatkan, apalagi dengan kecenderungan peningkatan kasus di dunia secara keseluruhan dalam beberapa pekan terakhir.

Negara India, kata Tjandra, saat ini tengah mengalami gelombang kedua lonjakan kasus corona. Pada 22 April 2021, India mencatat jumlah kasus harian COVID-19 tertinggi selama ini, yaitu lebih dari 314 ribu orang.

"Singkatnya, 3M (menjaga jarak, memakai masker, mencuci tangan), 3T (testing, tracing dan treatment) dan juga vaksinasi harus terus digiatkan oleh pemerintah dan masyarakat kita semua," katanya.
Pewarta : Andi Firdaus
Editor: Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2021