DPR: Potensi nikel harus diamankan untuk kepentingan nasional

DPR: Potensi nikel harus diamankan untuk kepentingan nasional

Dokumentasi. Pekerja mengeluarkan biji nikel dari tanur dalam proses furnace di sebuah smelter di Sorowako, Luwu Timur, Sulawesi SelatanĀ  ANTARA FOTO/Basri Marzuki/pd/aa.

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Komisi VI DPR RI Mohamad Hekal mengingatkan agar potensi nikel yang terdapat di Tanah Air, di mana yang terbesar ada di Sulawesi Tenggara, harus betul-betul diamankan untuk kepentingan nasional dan kesejahteraan seluruh rakyat.

"Potensi nikel di Indonesia sangat melimpah," kata Mohamad Hekal dalam rilis di Jakarta, Kamis.

Untuk itu, ujar dia, kekayaan alam tersebut harus didorong dan diamankan agar bisa dinikmati rakyat Indonesia berupa produk baterai.

Apalagi, lanjutnya, saat ini sedang dibentuk holding industri baterai yang melibatkan empat BUMN, yakni Pertamina, PLN, Antam, dan Inalum.

"Saat ini Tesla merupakan perusahaan mobil terbesar asal Amerika yang memiliki kecanggihan baterai yang belum terkejar oleh industri mobil lainnya. Nah, kita mau jadi pelopor di industri baterai karena kita punya bahan bakunya. Dan yang terbesar ada di Sulawesi Tenggara ini," katanya.

Ia menegaskan agar potensi nikel di Indonesia harus diamankan dan ditingkatkan karena bentuk kemajuan Indonesia dalam industri baterai untuk kendaraan listrik dinilai bisa mendorong hilirisasi beragam bidang industri lainnya.

Hekal mengakui bahwa membutuhkan waktu transisi yang panjang untuk mengalihkan kendaraan berbahan bakar fosil ke kendaraan listrik, tetapi ancang-ancang sudah harus dipersiapkan mulai saat ini pula.

Sebagaimana diwartakan, Indonesia dinilai akan menjadi produsen baterai lithium dan mobil listrik terbesar di dunia, seiring besarnya pasokan nikel untuk pembuatan baterai lithium yang menjadi bahan utama pengembangan mobil listrik.

“Indonesia punya kandungan nikel yang luar biasa banyak. Seharusnya Indonesia bisa menguasai salah satu rantai pasok baterai lithium dan pengembangan mobil listrik dunia,” kata Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Pengusaha Nasional, Arsjad Rasjid dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (15/4).

Arsjad yang juga calon ketua umum Kadin Indonesia periode 2021-2026, menyatakan bahwa pengembangan mobil listrik akan menimbulkan efek domino dan meningkatkan peran pelaku usaha mikro kecil menengah (UMKM) pada industri otomotif dalam negeri.

“Apa yang telah dicanangkan Presiden Jokowi untuk mengembangkan industri baterai lithium dan mobil listrik adalah ide yang luar biasa. Kita harus siap kalau ingin berkembang dan berkompetisi. Kita bisa leading,” ujar Arsjad.

Namun, ia mengingatkan bahwa ada tahapan-tahapan yang harus dilalui untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pemain terdepan dalam industri mobil listrik dunia.

Selain memiliki sumber daya alam melimpah berupa nikel, Indonesia juga harus memperlengkapi diri dengan sumber daya manusia (SDM) berdaya saing tinggi, memanfaatkan komponen tingkat komponen dalam negeri (TKDN), dan membeli teknologi dari luar negeri untuk dikembangkan di Indonesia.

Sebelumnya, Senior Vice President Corporate Secretary PT Aneka Tambang (Antam) Kunto Hendrapawako mengatakan Indonesia Battery Corporation (IBC) akan memperkuat pertumbuhan kinerja positif PT Aneka Tambang (Persero) Tbk dalam menjalankan bisnis pertambangan mineral, terutama feronikel.

"Dalam rantai ekosistem electric vehicle battery, Antam berkomitmen untuk menyuplai kebutuhan bahan baku," kata Kunto Hendrapawako dalam konferensi pers virtual di Jakarta, Rabu (7/4).

Baca juga: Cadangan nikel terbesar, Kadin optimis RI kuasai pasar mobil listrik
Baca juga: WIKA akan investasi smelter nikel pada 2022
Baca juga: Antam komitmen suplai bahan baku baterai kendaraan listrik

 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Biqwanto Situmorang
COPYRIGHT © ANTARA 2021