Petambak garam minta pemerintah kaji ulang kebijakan impor garam

Petambak garam minta pemerintah kaji ulang kebijakan impor garam

Sejumlah pekerja mengumpulkan garam ke dalam karung di Desa Luwunggeusik, Krangkeng, Indramayu, Jawa Barat, Senin (22/3/2021). Pemerintah akan membuka kembali keran impor garam sebanyak tiga juta ton pada tahun ini karena kuantitas dan kualitas garam lokal yang dinilai masih di bawah standar kebutuhan industri. ANTARA FOTO/Dedhez Anggara/wsj.

Surabaya (ANTARA) - Himpunan Masyarakat Petambak Garam (HMPG) minta pemerintah untuk mengkaji ulang kebijakan impor garam yang tahun ini ditetapkan sebanyak 3,07 juta ton.

Ketua Umum HMPG Mohammad Hasan di Surabaya, Kamis mengatakan kuota garam impor yang ditetapkan pemerintah tersebut lebih besar dibanding pada 2020 yang berjumlah 2,7 juta ton.

"Sementara stok garam rakyat tahun lalu sebanyak 1,3 juta ton dan stok garam perusahaan pengolah garam yang diimpor tahun 2020 sampai sekarang masih menumpuk," katanya kepada wartawan.

Dampaknya, kata Hasan, harga garam di pasaran anjlok karena tidak terserap oleh konsumen rumah tangga maupun industri.

Menurut dia, importasi garam dengan alasan kualitas garam rakyat yang dibilang rendah hanyalah pembenaran bagi importir.

"Pemerintah telah melakukan berbagai upaya melalui program peningkatan kuantitas dan kualitas garam rakyat. Di antaranya melalui penerapan teknologi berupa 'geoisoiator/ membrane'," ujarnya.

Hasan mendorong agar pemerintah menetapkan harga dasar atau harga pokok pembelian (HPP) garam rakyat sebagai bahan baku dan penolong industri untuk menjamin kepastian usaha dan pemasaran sebagai bentuk perlindungan dan pemberdayaan kepada petambak garam.

Satu lagi yang jauh lebih penting, kata dia, pemerintah harus tegas untuk menghentikan impor garam, khususnya untuk aneka pangan.

"Impor garam harus dihentikan mulai tahun 2021 selama stok garam di dalam negeri masih dapat memenuhi kebutuhan garam nasional dan wajib bagi para pengusaha industri garam untuk menyrrap stok garam rakyat sampai habis terlebih dahulu," tuturnya.

Sementara itu, produksi garam nasional pada 2019 tercatat mencapai 2,9 juta ton dan di wilayah Jatim mencapai 1,1 juta ton. Pada 2020, produksi garam nasional turun akibat cuaca yakni mencapai 1,7 juta ton, dan khusus Jatim sebanyak 900.000 ton.

“Untuk tahun ini kalau cuaca baik tidak menutup kemungkinan produksinya akan naik menjadi 3 juta ton secara nasional, dan di Jatim proyeksinya sekitar 1,2 juta ton,” kata Hasan.

Baca juga: Tolak impor garam, nelayan mau pelatihan teknologi

Baca juga: Anggota DPR ingatkan garam di rakyat banyak belum terserap

Baca juga: Faisal Basri: Garam ini komoditas bagi-bagi rente

Baca juga: Menperin: Impor garam 108 juta dolar hasilkan ekspor 37 miliar dolar


 
Pewarta : A Malik Ibrahim/Hanif Nasrullah
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2021