Permintaan sayuran hidroponik dari Kediri semakin tinggi

Permintaan sayuran hidroponik dari Kediri semakin tinggi

Warga melihat langsung budi daya sayuran hidroponik di Kota Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/3/2021). ANTARA Jatim/ Ach

Kediri (ANTARA) - Permintaan sayuran hidroponik di Kota Kediri, Jawa Timur semakin tinggi sebagai imbas kesadaran masyarakat yang juga tinggi untuk mengonsumsi sayuran yang sehat, bebas pestisida.

"Kalau omzet rata-rata Rp5 juta sampai Rp6 juta per bulan. Sayuran ini untuk memenuhi permintaan dari Kediri dan Surabaya," kata Imam Zarkasi, salah seorang petani hidroponik, di Kota Kediri, Sabtu.

Ia mengaku mulai menekuni usaha ini sejak awal pandemi COVID-19, berawal dari sepinya usaha bangunan yang dikelolanya, sehingga terpaksa mengalihkan usaha.

Dia mempunyai lahan dan dibangun untuk pertanian sistem hidroponik dengan luas 10x15 meter. Di tempat tersebut dibuat mulai dari penyemaian bibit, hingga pertumbuhan tanaman. Sayuran yang ditanam juga beraga,m yakni sawi pakcoy, bayam merah, kangkung, selada, dan beragam sayuran hijau lainnya.

Dia mengaku mendirikan usaha ini juga butuh perhatian. Terlebih lagi, budi daya ini baginya termasuk yang baru, sehingga ia benar-benar harus belajar. Namun, seiring dengan latihan dan terus mencari pengetahuan budi daya ini, hasil yang ditunjukkan juga semakin bagus.

"Awalnya coba-coba dulu, kemudian 3-4 bulan ini mulai produksi dan lebih berhasil. Kami kejar nantinya usaha (omzet) di angka Rp10 juta per bulan," ujar dia.

Ia mengakui, pasar sayuran hidroponik juga tidak terlalu sulit. Selain memenuhi permintaan warga sekitar, juga sejumlah pusat perbelanjaan di Kota Kediri. Selain itu, barang juga dikirim hingga Surabaya.

Usia panen tanaman sayuran yang ditanamnya juga beragam sekitar 30 hari. Namun, untuk sayuran kangkung relatif lebih pendek sekitar 20 hari sudah panen, sehingga segera bisa terjual.

"Kangkung ini lebih pendek, sekitar 20 hari panen. Saya fokusnya ke kangkung, pasarnya mudah. Pasti semua orang tahu dan hampir semua restoran ada menu sayur kangkung. Kalau selada, secara ekonomi juga bagus," kata dia pula.

Dirinya juga tidak segan untuk berbagi pengetahuan tentang budi daya tanaman hidroponik tersebut. Ia juga sedang mempersiapkan lokasi yang bisa dimanfaatkan sebagai tempat pelatihan, sehingga peserta pun bisa langsung praktik.

Andik Sanjaya, petani hidroponik lainnya mengaku permintaan sayuran hidroponik saat ini memang semakin bagus. Pada lahan miliknya, setiap kali panen bisa menghasilkan hingga 15 kilogram sayuran, baik sawi pakcoy, kangkung, bayam merah, bayam brazil, dan beragam sayuran hidroponik lainnya.

Selain panen di lahan sendiri, sejumlah petani lainnya juga menjual sayuran padanya. Setiap kali mengirim barang bisa hingga 30 kilogram.

"Tanaman hidroponik ini sehat, tidak pakai bahan kimia. Namun, kami juga edukasi, agar ke depan tercipta petani milenial," kata dia lagi.

Agus Fatoni Tohari, Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian Kota Kediri mengatakan pertanian hidroponik di Kota Kediri berkembang cukup baik. Hingga kini, ada sekitar 30 orang warga Kota Kediri yang sudah budi daya tanaman hidroponik.

Dia mengaku mulai mendampingi para petani hidroponik sekitar tahun 2018 dan terus berkembang hingga kini. Para petani juga semakin bersemangat, karena tanaman yang dihasilkan cukup baik dan dari segi pendapatan lebih menguntungkan ketimbang sistem pertanian konvensional.

Ia juga mendorong agar warga Kediri bisa mencoba budi daya ini. Selain tidak memerlukan lahan yang luas, sistem pertanian ini bisa menghasilkan sayuran yang sehat.

Kendati sistem hidroponik sangat dijaga, ia mengakui masih ada ancaman hama seperti kutu daun. Namun, untuk menghilangkan serangan hama itu bisa menggunakan pestisida alami.

"Serangan hama yang serius itu kutu daun. Dia bersembunyi di bawah daun dan ada lalat daun juga. Kita bisa kendalikan manual atau menggunakan pestisida alami," kata Agus pula.
Baca juga: PKK Sunter Agung panen 40 kilogram sayuran
Baca juga: Mendorong warga Jakarta mencintai sayuran
Pewarta : Asmaul Chusna
Editor: Budisantoso Budiman
COPYRIGHT © ANTARA 2021