KKP: Sistem bioflok tumbuhkan jiwa kewirausahaan santri

KKP: Sistem bioflok tumbuhkan jiwa kewirausahaan santri

Ilustrasi - Budidaya perikanan dengan menggunakan sistem bioflok. ANTARA/HO-KKP

Jakarta (ANTARA) - Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyatakan bahwa bantuan paket budidaya lele sistem bioflok kepada sejumlah pondok pesantren bermanfaat dalam rangka menumbuhkan jiwa kewirausahaan di kalangan santri.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta, Jumat, mengatakan sebagaimana Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menyatakan bahwa perikanan budidaya merupakan penopang ketahanan pangan sehingga perlu digerakkan sebagai aspek pembangunan ekonomi daerah di tengah pandemi saat ini.

"Salah satu budidaya berkelanjutan yaitu budidaya lele sistem bioflok, karena berbagai keunggulan teknologi budidaya ikan sistem bioflok menjadikan sistem ini salah satu primadona di masyarakat," kata Slamet.

Menurut dia, budidaya ikan sistem bioflok merupakan teknologi yang memicu peningkatan produktivitas perikanan budidaya, yang secara otomatis juga menghadirkan peluang untuk keterlibatan masyarakat yang lebih banyak.

Penerapan teknologi bioflok, lanjutnya, semakin maju di masyarakat dengan adanya inovasi dan kreativitas dari pembudidaya untuk mengembangkan teknologi ini lebih jauh.

Baca juga: KKP yakin budidaya ikan sistem bioflok perkuat ketahanan pangan

Salah satu yang diberikan sistem bioflok adalah para santri di Pondok Pesantren (Ponpes) Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat, Provinsi Lampung, dalam rangka melahirkan usahawan baru.

"Saya sangat mengapresiasi dengan budidaya lele sistem bioflok yang dilakukan Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat. Selain dikonsumsi santri untuk meningkatkan kecerdasan, juga menumbuhkan jiwa entrepreneur para santri sebagai bekal masa depannya sehingga ketika tamat dari pesantren bisa secara mandiri memenuhi kebutuhan pangan sekaligus usaha melalui budidaya lele sistem bioflok," ujar Slamet.

Slamet juga menyatakan bangga dengan Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat yang tengah berusaha mengembangkan sistem yang terintegrasi seperti proses produksi, pengolahan dan distribusi lele.

Ia meyakini bahwa melalui sistem yang terintegrasi tersebut, maka pembudidaya tidak perlu khawatir kemana harus menjual produknya dan para pengolah mudah untuk mendapatkan bahan bakunya.

Baca juga: KKP ungkap keunggulan sistem bioflok dalam budi daya perikanan

Sementara itu, Kepala Balai Perikanan Budidaya Air Tawar Sungai Gelam, Boyun Handoyo menambahkan, Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat merupakan salah satu pondok pesantren yang menerima program bantuan dari DJPB KKP untuk budidaya lele sistem bioflok.

"Harapannya, dengan adanya bantuan ikan sistem bioflok ini, Pondok Pesantren dapat meningkatkan gizi bagi santri-santrinya melalui peningkatan konsumsi ikan dari hasil kegiatan budidaya sistem bioflok. Selain itu tujuan kegiatan bioflok ini juga dapat menjadi inkubator bisnis usaha budidaya ikan yang berkelanjutan di Pesantren," papar Boyun Handoyo.

Sementara itu, Pengasuh Ponpes Darussolihin Tebu Ireng 12 Tulang Bawang Barat, Wahyudin Thohir menyebut Ponpes Darussholihin selain sebagai pusat pendidikan keagamaan, telah berkembang menjadi pondok pesantren entrepreneur yang menyediakan lingkungan praktik bagi berkembangnya jiwa kewirausaahan bagi para santri.

"Ponpes Darussholihin berada di area lahan sekitar 20 hektar, memiliki potensi lahan dan sumber daya manusia yang mendukung dalam mengimplementasikan ekonomi pesantren bidang budidaya perikanan untuk meningkatkan ketahanan pangan dan peningkatan gizi santri serta mengembangkan jiwa wirausaha santri. Harapannya setelah mereka lulus dari pondok bisa diimplementasikan sendiri di daerahnya masing-masing," ucap Wahyudin.

Baca juga: Anggota DPR sebut sistem bioflok bantu ekonomi sektor perikanan

Baca juga: KKP: Sistem bioflok tingkatkan konsumsi protein ikan di NTT

Baca juga: Bangka Tengah targetkan jadi sentra lele bioflok


 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Subagyo
COPYRIGHT © ANTARA 2021