Gerakan Jateng di Rumah Saja sebabkan kunjungan wisata turun di Bantul

Gerakan Jateng di Rumah Saja sebabkan kunjungan wisata turun di Bantul

Ilustrasi: Objek wisata Pantai Parangtritis di Kabupaten Bantul, DIY (Foto ANTARA/Hery Sidik)

Bantul (ANTARA) - Tingkat kunjungan wisatawan ke destinasi wisata Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), selama dua hari akhir pekan terakhir menurun dibanding akhir pekan sebelumnya, karena bertepatan dengan gerakan Jawa Tengah (Jateng) di Rumah Saja pada hari Sabtu dan Minggu (6-7 Februari).

"Gerakan Jateng dua hari di rumah saja berpengaruh penurunan 20,2 persen terhadap jumlah wisatawan ke Bantul," kata Staf Bidang Pemasaran Seksi Promosi dan Pelayanan Informasi Dinas Pariwisata Bantul Markus Purnomo Aji saat dihubungi di Bantul, Senin.

Menurut dia, total jumlah pengunjung wisata di destinasi yang diberlakukan retribusi wisata pada 6 Februari berjumlah 2.998 orang, kemudian pada 7 Februari sebanyak 6.056 orang, sehingga total kunjungan dalam dua hari di akhir pekan sebanyak 9.044 orang.

Baca juga: Ganjar: Gerakan Jateng di Rumah Saja berjalan bagus

Sedangkan jika dibandingkan dengan tingkat kunjungan wisatawan ke destinasi Bantul dalam Sabtu-Minggu sebelumnya atau pada 30 Januari sebanyak 3.376 orang, dan 31 Januari 7.971 orang, sehingga totalnya berjumlah 11.347 orang.

"Dibanding dengan sebelum gerakan Jateng di rumah dua hari perbandingan Sabtu dan Minggu turun 20 persen, karena Jateng menjadi provinsi penyumbang wisatawan terbesar ke-dua di DIY," katanya.

Dia menjelaskan berdasarkan data dari visiting Jogja, kalau diambil dari lima provinsi di Jawa, Jateng terbanyak ke dua dengan 32 persen setelah DIY, kemudian di urutan tiga dari Jawa Timur sebanyak 12 persen, selanjutnya dari DKI Jakarta 4,7 persen, dan Jawa Barat 3,7 persen.

Baca juga: FPRB Bantul kampanyekan gerakan pemakaian masker di objek wisata

Sementara itu Sekretaris Dinas Pariwisata Bantul Annihayah mengatakan selama kebijakan Pengetatan secara Terbatas Kegiatan Masyarakat (PTKM) di Bantul dari 11 Januari dan telah diperpanjang sampai 8 Februari dimanfaatkan untuk inventarisasi fasilitas destinasi wisata untuk dilakukan pembenahan.

"Sudah ada inventarisasi untuk pembenahan fasilitas di destinasi wisata, kemudian rencana Pak Kadis (Kepala Dinas) akan mengumpulkan lurah-lurah terkait pembinaan pokdarwis (kelompok sadar wisata) di desa-desa, dan kami akan monitoring protokol kesehatan bersama PHRI," katanya.

Baca juga: Dua destinasi wisata di Bantul jadi lokasi Gerakan BISA Kemenparekraf
Pewarta : Hery Sidik
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021