Investasi EBTKE di 2020 capai 1,36 miliar dolar Amerika

Investasi EBTKE di 2020 capai 1,36 miliar dolar Amerika

Tim Teknis Direktorat Perencanaan dan Pembangunan Infrastruktur EBTKE Kementerian ESDM bersama Tim Mabes TNI dan Kementerian Pertahanan memeriksa secara langsung penyelesaian dan pemeliharaan PLTSĀ terpusat di sembilan pos jaga TNI, perbatasan Indonesia-Papua Nugini, Provinsi Papua, . ANTARA/Dokumentasi Humas Kementerian ESDM

Jakarta (ANTARA) - Kementerian ESDM mencatat realisasi investasi di subsektor Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) sepanjang 2020 mencapai 1,36 miliar dolar AS, sekitar 70 persen dari target sebesar 2,02 miliar dolar AS.

Direktur Jenderal EBTKE Kementerian ESDM Dadan Kusdiana dalam paparan secara virtual, Kamis, menjelaskan total realisasi investasi didominasi separuhnya oleh investasi di bidang panas bumi.

"Target 2020 itu 2,02 miliar dolar AS, kita berhasil di 1,36 miliar dolar AS (pada 2020), itu dari investasi panas bumi separuhnya dan sisanya aneka EBT tapi mainly (umumnya) dari PLTA dan PLTS," katanya.

Dadan menjelaskan investasi di bidang panas bumi pada 2020 mencapai 702 juta dolar AS dari target 1,05 miliar dolar AS; aneka EBT mencapai target 540 juta dolar AS; bioenergi mencapai 108 juta dolar AS dari target 420 juta dolar AS; dan investasi di konservasi energi yang mencapai target 8 juta dolar AS.

Untuk 2021, Kementerian ESDM menargetkan investasi sebesar 2,05 miliar dolar AS namun dengan komposisi yang sedikit berbeda. Rinciannya yaitu 730 juta AS investasi panas bumi, 1,2 miliar dolar AS investasi aneka EBT, 68 juta investasi bioenergi dan 10 juta dolar AS investasi konservasi energi.

"PLTP (panas bumi) akan tetap tinggi, dan akan banyak proyek-proyek yang terkait dengan PLTA dan PLTS, dari air dan surya. Masih ada pula proyek pembangkit bioenergi dan sedikit ekspansi atau peningkatan kualitas produksi bahan bakar nabati," ungkap Dadan.

Sementara itu, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak sektor panas bumi sepanjang 2020 mencapai Rp1,96 triliun, lebih tinggi dari target yang dipatok sebesar Rp1,34 triliun.

Menurut Dadan, realisasi PNBP sektor panas bumi yang tinggi didorong karena adanya pergeseran proyek serta cara penghitungan yang berbeda dari pembangkit panas bumi.

"PNBP panas bumi dihitung dari selisih biaya yang dikeluarkan dan penerimaan PLTP-nya. Soal investasi, ini dikurangkan sehingga kalau investasi tidak jadi, PNBP-nya akan semakin meningkat. Termasuk juga reimburse dari PPN," jelasnya.

Pada 2021, PNBP panas bumi ditargetkan Rp1,44 triliun.

"Kami akan kontrol PNBP tetap maksimal dan bagaimana investasi bisa berjalan dengan baik untuk panas bumi," pungkas Dadan.
 
Pewarta : Ade irma Junida
Editor: Adi Lazuardi
COPYRIGHT © ANTARA 2021