Konsultan: Properti perkantoran kelebihan pasokan, hunian kian menurun

Konsultan: Properti perkantoran kelebihan pasokan, hunian kian menurun

Ilustrasi: Berbagai properti perkantoran di kawasan jalan protokol di Jalan Thamrin, Jakarta Pusat. (ANTARA/M Razi Rahman)

Jakarta (ANTARA) - Konsultan properti Colliers International menyatakan bahwa kondisi properti perkantoran di berbagai kota besar di Indonesia seperti di kawasan Jabodetabek dan kota Surabaya mengalami persoalan serius yaitu kelebihan pasokan.

"Problem utama sektor perkantoran adalah masih terjadi oversupply (kelebihan pasokan) yang masih serius," kata Senior Associate Director Colliers International Ferry Salanto dalam paparan properti secara virtual di Jakarta, Rabu.

Menurut Ferry Salanto, sebenarnya permasalahan kelebihan pasokan tidak hanya pada tahun 2020 tetapi telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Ia memaparkan untuk pasok CBD (sentrabisnis) di Jakarta pada 2020 ada empat gedung baru yang beroperasi secara bersamaan pada kuartal I-2020, sehingga total pasok kumulatif menjadi 6,87 juta meter persegi dengan pertumbuhan 3,2 persen yoy (year on year).

Baca juga: Konsultan: Kinerja properti perkantoran di Jakarta melambat

"Setelah itu tidak ada lagi tambahan pasok baru hingga penghujung 2020," kata Ferry.

Sedangkan di luar CBD Jakarta, lanjutnya, ada sebanyak tiga gedung baru yang mulai beroperasi sehingga total pasok kumulatif sebesar 3,58 juta meter persegi dengan pertumbuhan 2,4 persen yoy.

Di tengah pasokan bertambah, kata dia, tingkat hunian diperkirakan terus menurun termasuk pada tahun 2021. Diperkirakan tingkat hunian baru membaik pada 2023.

Hal tersebut terindikasi antara lain dari tarif sewa perkantoran di CBD Jakarta pada 2020 yang turun 7 persen yoy, sedangkan tarif sewa perkantoran di luar CBD turun 2,5 persen yoy.

Baca juga: Pasar properti perkantoran di Jakarta diprediksi normal lagi pada 2022

"Transaksi yang rendah membuat rerata harga jual tidak berubah. Harga jual di pasar sekunder beragam. Karena lokasi, beberapa pemilik unit masih mematok harga di atas rata-rata," katanya.

Namun diperkirakan pula bahwa proyeksi tambahan pasok baru pada periode 2021-2024 akan turun drastis, karena sudah ada kewaspadaan dari kalangan pengembang bahwa mereka tidak akan jor-joran lagi untuk membangun proyek perkantoran baru ke depannya.

Ferry mengungkapkan fenomena serupa juga terjadi di Surabaya dengan persoalan lebih serius, karena di ibukota Jawa Timur tersebut ada empat gedung perkantoran baru yang beroperasi pada paruh kedua 2020, sehingga total pasokan kumulatif 496.000 meter persegi dengan pertumbuhan hampir 17 persen yoy.

Sementara untuk tarif sewa ruang perkantoran di Surabaya, masih menurut dia, rata-rata mengalami penurunan di atas 10 persen yoy.

Baca juga: Riset: Mayoritas karyawan siap lakukan kerja dari rumah

 
Pewarta : M Razi Rahman
Editor: Risbiani Fardaniah
COPYRIGHT © ANTARA 2021