Waketum: Dakwah MUI merangkul bukan memukul

Waketum: Dakwah MUI merangkul bukan memukul

Wakil Ketua MUI Anwar Abbas. (ANTARA/HO-Dokumentasi Humas Muhammadiyah)

Jakarta (ANTARA) - Wakil Ketua Majelis Ulama Indonesia terpilih, Anwar Abbas, mengatakan salah satu visi MUI kepengurusan baru adalah dakwah yang sifatnya merangkul bukan memukul.

"Ketua Umum MUI terpilih periode 2020-2025 KH Miftachul Achyar dalam sambutan pertamanya dalam acara penutupan MUNAS MUI ke-10 menyatakan bahwa tugas ulama itu adalah berdakwah. Dan dalam berdakwah itu caranya, kata beliau, adalah merangkul bukan memukul," kata Anwar kepada wartawan di Jakarta, Senin.

Ia mengatakan metode dakwah itu harus benar-benar menjadi perhatian utama bagi seluruh anggota Dewan Pimpinan MUI di pusat dan daerah. Pemahaman dakwah harus disamakan agar memiliki arah yang sama.

Di Islam, kata dia, dinyatakan dakwah agar diarahkan pada tegaknya kebaikan yang sesuai dengan Al Quran, As Sunah serta akal sehat.

Baca juga: Wakil Ketua Umum MUI soroti pembukaan "calling visa" bagi WN Israel

Baca juga: MUI Sulteng prihatin atas aksi pembantaian oleh terduga MIT di Sigi


Dalam kehidupan kebangsaan dan bernegara, kata dia, dakwah agar dipadukan dengan falsafah Pancasila, UUD 1945 serta peraturan yang berlaku.

"Oleh karena dari sambutan Ketua Umum MUI tersebut kita bisa memahami bahwa dakwah MUI ke depan tentu tidak hanya akan menjamah ranah keagamaan saja tapi juga menyangkut masalah kebangsaan dan kenegaraan," katanya.

MUI, kata Anwar, juga memiliki tugas untuk "amar ma'ruf nahi mungkar" atau menyeru kebaikan mencegah kemungkaran. Maka, MUI dituntut berani mencegah terjadinya perbuatan mungkar yaitu segala sesuatu yang bertentangan dengan syariat dan konstitusi.

Ia mengatakan MUI juga memiliki tugas sebagai shodiqul hukumah atau mitra pemerintah. Di sisi lain, MUI harus berani mengingatkan dan meluruskan pemerintah jika salah.*

Baca juga: Din Syamsudin nyatakan menolak masuk struktur MUI

Baca juga: Akademisi: Pengurus baru MUI harus mampu jaga netralitas
Pewarta : Anom Prihantoro
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020