Peneliti KLHK terapkan multisistem silvikultur rehabilitasi gambut

Peneliti KLHK terapkan multisistem silvikultur rehabilitasi gambut

Ilustrasi - Sejumlah jagawana berpatroli menyusuri sungai di dalam kawasan Restorasi Ekosistem Riau di Kabupaten Pelalawan, Riau. ANTARA FOTO/FB Anggoro/kye/pri.

Jakarta (ANTARA) - Peneliti dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) melakukan kajian penerapan multisistem silvikultur (budidaya) dalam mendukung upaya rehabilitasi lahan gambut dan mengembangkan produk unggulan lokal.

Dr. Darwo sebagai koordinator peneliti dalam Kajian Implementasi Multisistem Silvikultur menuju Ekosistem Gambut Berkelanjutan, menjelaskan bahwa lahan gambut Indonesia memiliki kondisi yang beragam jika ditinjau dari kondisi biofisik, status dan fungsi lainnya.

"Kondisi yang berbeda-beda ini memerlukan tindakan pengelolaan atau silvikultur yang berbeda-beda pula, berupa sistem agroforestry, silvofishery atau pola budidaya lainnya," kata Darwo dalam pernyataan resmi KLHK yang diterima di Jakarta, Kamis.

Peneliti di Pusat Penelitian dan Pengembangan Hutan (Puslitbang Hutan), Badan Litbang dan Inovasi (BLI) KLHK itu mengatakan terdapat prospek multisistem silvikultur dengan jenis produk unggulan lokal, seperti yang dilakukannya di Kabupaten Pulang Pisau, Kalimantan Tengah.

Dia memberi contoh beberapa produk yang memiliki prospek seperti budidaya dan usaha kerajinan purun, budidaya holtikultura serta budidaya usaha lebah kelulut (trigona).

Pusat Litbang Hutan KLHK sendiri telah memberikan dukungan 10 koloni lebah kelulut, yang diharapkan membentuk koloni baru. Hal itu dilakukan karena madu kelulut memiliki nilai ekonomi tinggi dan potensial dikembangkan di lahan gambut.

Ekosistem gambut juga memiliki sumber daya alam yang potensial untuk dimanfaatkan secara berkelanjutan, seperti tanaman purun dan kalakai. Saat ini, tanaman purun dimanfaatkan untuk bahan kerajinan seperti topi, tas dan tikar dan warga memanfaatkan kalakai sebagai sayuran.

"Ternyata purun juga bisa dijadikan berbagai macam produk lain yang ramah lingkungan, antara lain sedotan dan bahan baku kerajinan. Sedangkan kalakai bisa diolah menjadi keripik, teh, dan produk makanan lainnya," jelas Darwo.

Ikan yang berada di ekosistem gambut juga memiliki nilai ekonomi tinggi dengan KLHK telah membuat dua kolam ikan sistem terpal di daerah itu yang diharapkan dapat dikembangkan masyarakat untuk mata pencaharian baru.

Puslitbang Hutan KLHK juga membuat demplot percontohan sebagai wadah belajar bersama dan penyebarluasan hasil penelitian lewat sosialisasi dengan warga.

Baca juga: BRG optimistis dapat selesaikan target restorasi gambut pada 2020
Baca juga: BRG libatkan penyuluh agama dalam restorasi gambut
Pewarta : Prisca Triferna Violleta
Editor: Edy Sujatmiko
COPYRIGHT © ANTARA 2020