Menlu: Solidaritas hadapi pandemi penting bagi pemulihan ekonomi dunia

Menlu: Solidaritas hadapi pandemi penting bagi pemulihan ekonomi dunia

Tangkapan layar Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi saat berbicara dalam acara Global Town Hall 2020 yang diselenggarakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) dari Jakarta, Jumat (20/11/2020). (ANTARA/Aria Cndyara)

Jakarta (ANTARA) - Menteri Luar Negeri RI Retno Marsudi mengatakan bahwa solidaritas antar-negara di dunia, terutama terkait akses terhadap vaksin dan kebutuhan darurat di tengah krisis pandemi COVID-19, bukan hanya kepentingan kemanusiaan, namun juga untuk kepentingan ekonomi global.

Pada pembukaan acara Global Town Hall 2020 yang diselenggarakan Foreign Policy Community Indonesia (FPCI) dari Jakarta, Jumat, Menlu Retno mengatakan bahwa pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 akhir pekan ini Presiden Joko Widodo akan menegaskan sikap Indonesia yang menyerukan solidaritas, terutama untuk negara-negara berkembang, dari negara-negara maju yang memiliki lebih banyak sumber daya untuk menghadapi kebutuhan darurat.

“Saya juga teringat akan pernyataan Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2020. Terkait vaksin, Dr Tedros mengatakan ‘prioritas utama adalah untuk memberikan vaksin bagi beberapa orang di semua negara, bukan semua orang di beberapa negara’, ini bukan hanya kepentingan moral dan kesehatan masyarakat. Ini juga kepentingan ekonomi,” ujarnya.

Baca juga: Menkeu ingin ada solidaritas global tangani pandemi COVID-19

Baca juga: ASEAN buktikan nilai solidaritas kuat di tengah pandemi COVID-19

Menlu menjelaskan bahwa apabila masyarakat di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah tidak memiliki kesempatan yang sama untuk mendapat vaksin, maka virus akan terus membunuh dan pemulihan ekonomi global pun akan terhambat, mengingat dinamika dunia di mana semua negara saling terhubung dengan satu sama lain.

“Oleh karena itu, akses yang setara, aman, dan terjangkau sangatlah penting,” tegas Menlu RI.

Selain itu, dia juga menyoroti pentingnya kerangka kerja sama vaksin multilateral, seperti Gavi COVAX Advanced Market Commitment (AMC) yang membutuhkan dana sebesar 5 miliar dolar AS untuk pengadaan vaksin bagi negara-negara berkembang, serta kebutuhan dana Accelerated ACT (Access to COVID-19 Tools) sebesar 35 miliar dolar AS.

"Kita semua hidup di planet yang sama, kita menghirup udara yang sama, kita saling terhubung dengan satu sama lain dan kita tidak dapat memutus hubungan tersebut. Namun, menjadi terhubung saja tidak cukup. Kita harus menjadikan itu kekuatan dan mesin penggerak, dan ini membutuhkan kolaborasi global," ujar Menlu Retno.

Baca juga: Menilik upaya global untuk akses merata vaksin COVID-19

Baca juga: Jokowi tegaskan perlu kesetaraan akses vaksin COVID-19 di Sidang PBB

 

Pewarta : Aria Cindyara
Editor: Yuni Arisandy Sinaga
COPYRIGHT © ANTARA 2020