Pakar: Fokus pengendalilan pandemi ketimbang pemulihan ekonomi

Pakar: Fokus pengendalilan pandemi ketimbang pemulihan ekonomi

Tes usap massal di Banjarmasin beberapa waktu lalu. (ANTARA/Firman)

Banjarmasin (ANTARA) - Anggota Tim Pakar Universitas Lambung Mangkurat (ULM) untuk Percepatan Penanganan COVID-19 Hidayatullah Muttaqin SE, MSI, Pg.D menyarankan pemerintah tetap fokus pengendalian pandemi ketimbang pemulihan ekonomi.

"Kesehatan masyarakat dan ekonomi adalah penting, tetapi untuk keluar dari krisis kesehatan dan resesi ekonomi kita harus mengobati penyakitnya dulu baru kemudian pemulihan ekonomi," kata dia di Banjarmasin, Senin.

Menurut Muttaqin, situasi pandemi memang sangat sulit dan setiap pilihan ada konsekuensi serta ongkos mahal yang harus dibayar. Hanya saja ekonomi tidak dapat akan pulih jika pandeminya tidak dapat dikendalikan.

Untuk mempercepat pemulihan ekonomi, maka pengendalian pandemi mutlak menjadi prioritas utama. Dia menyebut beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan pemerintah.

Baca juga: Pakar: Waspadai transmisi COVID-19 di mal

Baca juga: Pakar: Pemerintah harus sabar dapatkan hasil dalam memutus pandemi


Pertama, perlu ditetapkan masa operasi pengendalian pandemi misalnya dua atau tiga bulan tergantung hasil kajian. Hal ini penting agar strategi ini lebih terukur dengan batasan waktu disertai dengan persiapan anggaran penanganan yang terukur pula, termasuk kompensasi untuk masyarakat dan dunia usaha.

Tanpa adanya jaminan dari pemerintah, maka akan sulit implementasi strategi ini.

Kedua, fokus pada upaya penyembuhan penduduk yang terifneksi COVID-19 sekaligus mengurung potensi penyebarannya. Jika potensi penyebaran tidak ditutup maka upaya penyembuhan akan menjadi kurang berarti karena setiap ada pasien sembuh datang lagi pasien baru. Ini seperti mengisi air pada ember bocor yang tidak akan pernah selesai tanpa menutup kebocoran.

Muttaqin menegaskan bangsa Indonesia harus membangun modal sosial masyarakat yang sudah ada untuk mengendalikan COVID-19. Para kepala daerah harus turun langsung dalam penanganan pandemi jangan mewakilkan kepada staf dalam setiap koordinasi penting antara pusat dan daerah atau internal daerah itu sendiri.

Bahkan setiap hari para kepala daerah perlu menyampaikan pesan-pesan edukasi dan motivasi kepada masyarakat melalui televisi lokal dan saluran media sosial.

Sementara itu, strategi 3T (tracing, testing dan treatmnet) jangan sampai turun tetapi harus terus ditingkatkan. Tujuannya untuk mendeteksi penduduk yang terinfeksi dan menyembuhkannya serta mengisolasi penyebarannya.

Semakin besar kemampuan deteksi dan isolasi terhadap warga yang telah terinfeksi maka semakin tinggi pula potensi untuk menurunkan pertumbuhan dan penyebaran COVID-19. Hal ini juga meningkatkan kemampuan ukur untuk menilai apakah suatu wilayah pandemi sudah terkendali atau belum.

Ketiga, strategi pengendalian mobilitas penduduk. Hal ini penting karena penyebaran COVID-19 terjadi manakala mobilitas penduduk tinggi.

Karena itu mobilitas penduduk perlu diturunkan sesuai dengan level atau kadar resiko pandemi di tiap-tiap daerah. Daerah-daerah yang pandeminya belum terkendali, maka mobilitas penduduk perlu dihentikan sementara sampai indikator menunjukkan pandemi telah terkendali.

Sedangkan daerah-daerah yang pandeminya telah terkendali, mobilitas penduduk secara lokal dapat dilonggarkan dengan disertai adanya pembatasan mobilitas antara daerah.

Agar mobilitas penduduk dapat dikendalikan di daerah-daerah yang pandeminya belum terkendali, kegiatan ekonomi dan perkantoran perlu diliburkan untuk sementara waktu. Penutupan tidak berlaku untuk layanan kesehatan serta kegiatan ekonomi vital seperti pangan dan jasa logistik.

Untuk itulah disiapkan paket kompensasi untuk masyarakat dan dunia usaha. Tanpa adanya penutupan sementara kegiatan ekonomi dan kompensasi, maka pengendalian mobilitas penduduk akan sulit dilakukan.

Keempat, dengan adanya paket kompensasi maka pengendalian mobilitas penduduk tidak menyebabkan jatuhnya daya beli masyarakat secara signifikan. Dana kompensasi dapat dibelanjakan masyarakat untuk memenuhi kebutuhan pokok sehingga kegiatan ekonomi tetap berjalan meski pada level yang lebih rendah dan sebagian besar dilakukan dengan cara digital.

Kelima, penyiapan program pemulihan ekonomi setelah periode operasi pengendalian pandemi berakhir. Pada saat pandemi secara nasional telah terkendali maka program pemulihan ekonomi dapat dilakukan agar kegiatan produksi, perdagangan dan konsumsi kembali berjalan ke arah normal.

"Strategi ini memakan ongkos yang tidak sedikit dan dapat menyebabkan pertumbuhan ekonomi kembali negatif pada periode operasi pengendalian pandemi. Hanya saja upaya untuk menghentikan wabah dan pemulihan ekonomi menjadi lebih terukur dan lebih berdampak," ujarnya.

Begitu pula korban penduduk akibat terinfeksi dan meninggal karena COVID19 juga dapat diminimalkan, kat dosen Jurusan Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan Fakultas Ekonomi dan Bisnis ULM itu.

Ekonomi Indonesia jatuh ke dalam resesi pada triwulan III 2020. Ini terjadi setelah dalam dua triwulan berturut-turut pertumbuhan ekonomi Indonesia mengalami kontraksi sebesar minus 5,32 persen pada triwulan II dan minus 3,49 persen pada triwulan III akibat dampak dari pandemi COVID-19.*

Baca juga: Pakar: Penyebaran COVID-19 paling sering terjadi melalui tangan

Baca juga: Pakar: Meningkatnya kesembuhan harus diikuti penurunan kasus baru
Pewarta : Firman
Editor: Erafzon Saptiyulda AS
COPYRIGHT © ANTARA 2020